Oleh: DINASTUTI*

Saya ingat awalnya. Awal saya bisa terjun bebas mendarat di salah satu rumah saya saat ini, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Saya ingat sedang berada di rumah orangtua saya. Saat itu mungkin mendekati akhir tahun 2005. Saya sudah lulus dari Program Magister Profesi Psikologi Universitas Indonesia, sudah resmi jadi psikolog klinis walau gak punya tempat praktek lengkap dengan plang nama dan nomor ijin praktek. Saya masih tinggal di rumah orangtua, sudah tidak meminta uang dari mereka karena selalu punya uang hasil jadi psikolog lepas di salah satu perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia, dan sedang duduk mengerjakan laporan di komputer, kaki dinaikkan ke kursi, pakai kaos dan celana pendek.

Pembicaraan yang terjadi kurang lebih seperti ini:

Ayah: kamu masih mau kuliah S3 di luar negeri?

Saya: (sambil terus kerja) maulah.

Ayah: sana melamar jadi dosen di Atma Jaya, mereka buka lowongan.

Saya: lamarannya dikirim ke mana (pertanyaan bodoh, saya tahu)?

Ayah: iklannya ada di koran hari ini.

Singkat kata singkat cerita, saya diterima jadi dosen. Sungguh, sepanjang hidup sebelum kejadian di atas, gak pernah saya mikir saya akan jadi dosen. Iya sih, Ayah saya pernah jadi guru bahkan kepala sekolah, Ibu saya juga pernah jadi guru. Saya juga pernah jadi guru di PAUD sebelum akhirnya dititahkan untuk melanjutkan sekolah oleh Ayah. Tapi jadi dosen? Gak sekalipun. Motivasi saya jadi dosen juga gak mulia-mulia amat, cenderung egois malah, yaitu memuaskan keinginan saya untuk belajar S3 di luar negeri, karena biasanya dosen kalau mau kuliah S3 akan mudah untuk dapat beasiswa dan dibiayai oleh universitas tempatnya bekerja. Maka, jadilah saya dosen yang gak mulia-mulia amat.

Saya menjalani tahun-tahun pertama menjadi dosen dengan ringan dan gembira. Saya senang bisa bebas dan leluasa membaca banyak materi psikologi, belajar banyak hal, berinteraksi dengan mahasiswa, bergaul dan gila-gilaan dengan rekan-rekan dosen. Saya merasa menemukan satu rumah lagi dalam hidup saya, di mana saya bisa jadi diri saya yang seotentik mungkin. Saya yang bisa bebas memilih bekerja sendiri ataupun bersama dengan orang lain. Saya yang males mikirin penampilan. Saya yang suka menenteng tas ransel ke mana-mana. Saya yang senang bepergian dan mencoba melakukan banyak hal baru. Saya yang selalu merasa punya kebutuhan untuk bisa memilih teman yang nyaman buat diri saya sendiri.

Saya menemukan banyak hal yang membuat saya merasa nyaman di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Tentu saja, rasa nyaman selalu berpasangan dengan hal-hal lain yang juga kurang menyenangkan. Buat saya, tiada rumah yang sempurna. Oleh karena itu, saya selalu punya kebutuhan untuk punya banyak rumah. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai juga membangun rumah-rumah yang lain, di luar Fakultas Psikologi Unika  Atma Jaya.

Saya pernah ditanya oleh seorang dosen saya di Universitas Indonesia, mengapa memilih mengajar di universitas lain, bukan di almamater. Saya selalu menjawab, “Karena saya ingin bertemu dengan orang-orang baru dan belajar hal-hal baru.”

Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya telah berjasa banyak dalam membentuk saya menjadi seorang dosen, rekan kerja, psikolog, konselor, fasilitator, pembuat modul, project manager, penulis, dan terutama yang paling penting, teman serta sahabat, yang seperti sekarang adanya saya. Saya belajar banyak hal di rumah saya yang satu ini. Walaupun tidak sempurna, rumah ini akan selalu membuat saya merasa diterima, dihargai, dan tidak pernah merasa sendirian.

Saya membangun banyak relasi profesional dan pribadi yang sangat berarti, baik dengan rekan kerja, mahasiswa dan alumni, klien, rekanan luar, dosen-dosen honorer berdedikasi luar biasa, dan pihak-pihak dunia kerja seperti teman-teman di Radio Sonora, Komisi Keluarga KAJ, Yayasan Putera Bahagia, dan mitra kerja tempat mahasiswa Program Magister Profesi Psikologi Klinis Dewasa berpraktek yaitu Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo, Lentera Anak Pelangi, KIOS Atma Jaya, Pusat Penelitian HIV dan AIDS UNIKA Indonesia Atma Jaya, Yayasan Dharma Ibu Unit Rumah Kita, Panti Werdha Melania, RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang di Malang, Badan Pemeriksa Keuangan RI, Kompas-Gramedia, dan PT Galva. Bekerja sebagai dosen tanpa melek dunia nyata di luar sana rasanya buat saya hanya akan jadi omong kosong. Jadi, terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada teman-teman praktisi yang sudah lapang hati berbagi pengalaman dan pengetahuannya bersama dengan saya selama ini.

Rupanya rumah tempat saya belajar dan bekerja ini telah berusia 20 tahun, dewasa muda jika diukur dengan tahapan perkembangan manusia. Harapan saya untuk rumah ini sederhana. Semoga tetap bisa menyediakan tempat yang nyaman walau tidak sempurna, baik sebagai rumah tetap maupun sementara, bagi para pengembara yang haus ilmu dan pengalaman, seperti saya. Semoga terus bisa jadi rumah yang penuh tantangan dan sarana pembelajaran bagi  para penghuninya.

*) Penulis adalah staf pengajar FP UAJ sejak 2006, kini menjabat Kepala Jurusan Magister Psikologi Profesi Peminatan Klinis UAJ

About these ads