oleh: ANGGITA HOTNA PANJAITAN*

Beberapa orang sahabat saya seringkali tidak percaya bahwa saya pernah mendapatkan nilai E selama saya bersenang-senang di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Sad but true! Saya memang pernah membiarkan diri saya mendapatkan nilai E untuk sebuah mata kuliah prasyarat di Fakultas tercinta ini. Bukan! Bukan karena saya malas, tapi saya dengan sengaja memilih untuk tidak lagi duduk di dalam kelas, mendengarkan dosen berbicara, dan menghabiskan waktu selama 150 menit dengan perasaan tersiksa. Ingin tahu ceritanya?

Sejak SD, saya memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan guru-guru Matematika. Entah kenapa saya selalu menjadi murid yang paling beruntung untuk merasakan tangan besi, kata-kata tajam, dan sorot mata penuh dendam dari para guru matematika. Hmm.. Sebenarnya nilai Matematika saya selalu di atas 6, tapi nilai tersebut bukan sebuah bukti bahwa saya menikmati pelajaran matematika dari SD hingga SMA.

Rasa takut saya pertama kali muncul di kelas empat SD, saat itu saya harus maju ke depan kelas dan menyelesaikan soal pembagian dengan teknik bersusun ke bawah. Saat diminta untuk maju, saya merasa belum begitu mengerti tentang materi ini, tapi karena takut dengan guru yang mengajar, saya akhirnya maju. Ketika melihat bahwa saya belum menyelesaikan soal di saat teman-teman yang lain sudah selesai, guru saya mulai membentak saya dan mengirimkan pertanyaan bertubi-tubi. Saya merasa terdesak dan ketakutan, tangan saya gemetar. Ingin menangis tapi saya tidak mau terlihat lemah dihadapan guru tersebut. Mungkin tidak sudi untuk dinilai takut, walau sebenarnya memang takut.

Hal tersebut berulang di masa SMP. Saya beruntung untuk bertemu kembali dengan seorang guru matematika yang terkenal galak. Setiap hari ia akan berkeliling memeriksa pekerjaan rumah murid-muridnya. Ketika ia menemukan kesalahan, ia akan merobek lembar kertas murid. Ia juga guru yang senang berteriak saat menegur muridnya, hal yang membuat degup jantung saya seakan berhenti untuk sepersekian detik. Gejala-gejala aneh selalu saya alami dari berkeringat dingin, mendadak pilek, lemas, dan kehilangan suara secara tiba-tiba. Tentunya semua gejala tersebut hilang seiring dengan berakhirnya pelajaran matematika. Bisakah kalian bayangkan betapa lelahnya untuk terus mengalami gejala tersebut selama dua tahun belajar di SMP? J

Masa SMA tidak kalah menyiksa, guru matematika saya memang dikenal memiliki masalah psikologis di kalangan guru. Sayangnya, pihak sekolah mengambil sikap maklum kepada guru Matematika itu dibandingkan memfasilitasi kesehatannya. Guru matematika saya ini adalah seorang perempuan yang berjalan bungkuk dengan tubuh sangat kurus. Ia adalah guru yang akan berteriak marah hanya jika para muridnya menggunakan istilah yang tidak tepat saat menjawab pertanyaan. Tatapan matanya menyimpan kemarahan yang tak terjelaskan, teriakannya selalu membahana hingga ke lantai dasar ( saat itu kelas saya terletak di lantai dua). Yah.. begitulah.. kebetulan ia mengajar di peminatan IPA, lagi-lagi dua tahun berhadapan dengan orang yang sama.

Apa kaitannya pengalaman buruk tersebut dengan nilai E di mata kuliah S? Selain mata kuliah S membuat saya kembali berurusan dengan angka, pengajar mata kuliah tersebut mengingatkan saya dengan salah seorang guru Matematika di masa lalu. Ia sesungguhnya adalah sosok yang lembut. Mungkin karena kelas yang begitu pasif dan tidak responsif, ia memperlakukan kami seperti anak-anak SMA. Kami diminta menjawab satu persatu pertanyaan yang ia berikan. Ketika tidak ada yang menjawab ia akan menunjuk kami, menyebut nama kami, menunggu hingga kami menjawab pertanyaan yang dilontarkannya. Di suatu pertemuan, ketika tidak ada mahasiswa yang memberikan pertanyaan, ia menunggu dan menunjuk mahasiswa untuk melontarkan pertanyaan. Semua itu membawa saya pada bayang-bayang rasa takut di masa lalu. Semua pengalaman mengerikan belajar Matematika itu kembali berputar dalam ingatan. Pengalaman dipaksa menjawab, dipaksa untuk mengikuti dan mengulangi kalimat yang telah diucapkan oleh guru, dipaksa untuk menyelesaikan soal sesuai dengan cara yang diajarkan, bukan dibebaskan untuk mencari solusi alternatif. Saya kesal, ini harus dihentikan.

Saya tidak mau dipaksa untuk menjawab pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, toh saya adalah individu yang akan menjawab pertanyaan saat saya mengetahui jawabannya. Saya menolak untuk dipaksa bertanya, toh jika saya ingin memberikan pertanyaan, saya akan mengajukan pertanyaan. Saya tidak mau disetir. Saya datang ke dalam kelas atas kesadaran saya sendiri, atas rasa ingin tahu yang begitu besar, dan bukan karena kewajiban semata. Saya bukan mahasiswa yang akan bermalas-malasan selama belajar di fakultas ini, saya adalah individu mandiri yang bertanggung jawab atas pilihan saya untuk belajar di tempat ini. Saya adalah individu yang sadar akan adanya konsekuensi atas pilihan yang saya ambil dan oleh karena itu saya menolak diperlakukan seperti anak kecil.

Di bagian akhir cerita.. saya menyudahi usaha saya untuk bangun pagi-pagi dan datang ke kelas itu. Saya memilih untuk berlari pagi di sekitar rumah dibandingkan duduk diam di dalam kelas tanpa memahami apa yang diajarkan. Di akhir semester saya memperoleh nilai E untuk mata kuliah tersebut dan saya tidak peduli. Saya memiliki rencana untuk mengejarnya di Semester Pendek. Saya tahu bahwa saya bisa mengejar ketinggalan. Walau berurusan dengan angka masih sering membuat saya gelisah, di Semester Pendek saya berhasil mengejar ketinggalan. B+ bukan nilai yang rendah, asal saya mengerjakannya dengan sekuat tenaga.

Yah.. begitulah kisah nilai E saya. Nilai E yang membuat saya sadar bahwa selama 12 tahun belajar Matematika di sekolah dasar, saya tidak luput dari rasa takut dan tertekan. Nilai E yang membawa saya kepada sebuah permenungan bahwa nilai bukanlah satu-satunya indikator kesuksesan dalam proses belajar. Nilai E yang menyadarkan saya untuk selalu mempertimbangkan kesehatan psikologis dari setiap peserta belajar.

Sejujurnya, pengalaman pahit selama 12 tahun itu juga yang mendorong saya menjadi asisten dosen di beberapa mata kuliah. Mata kuliah yang sebenarnya menyenangkan, namun karena beban kuliah yang cukup besar seringkali membuat mahasiswa tidak menikmati proses belajar. Harapan saya sederhana, mendorong semangat belajar teman-teman, bukan menjadi batu sandungan mereka sehingga tidak menikmati pengalaman belajar. Pengalaman 12 tahun  itu cukuplah bagi saya, tidak perlu dirasakan pula oleh Anda.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008