oleh: JESSICA FAROLAN*

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan (dan paling membosankan yang dilontarkan) oleh setiap dosen ketika kamu masuk di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya adalah “Mengapa ingin berkuliah di Psikologi?”. Dari sekian jawaban yang pernah saya dengar, hanya terdapat segelintir jawaban unik dan sisanya jawaban kodian. Jawaban kodian yang paling saya ingat adalah ingin berobat jalan, maksudnya ingin mempelajari tentang diri sendiri dan ‘menyembuhkan’ diri untuk menjadi lebih baik lagi. Dan sejak awal pula, jawaban itu langsung direspon oleh sebagian besar dosen dengan “Anda salah tempat kalau Anda ingin berobat jalan di sini”. And I refuse to believe that. I continue. And I prove it wrong.

Delapan tahun lalu, saya bergelut dengan depresi. Saat itu, saya duduk di SMA yang cukup terkenal di Jakarta. Saat itu saya tahu bahwa tidak ada yang bisa menolong diri saya. Tidak dengan teman-teman saya, apalagi orang tua. Pertama kali dalam hidup saya, saya berkenalan dengan seorang psikolog di bilangan Jakarta Barat. Semenjak itu, saya tahu bahwa saya harus mengambil kuliah psikologi dan saya harus bisa mengatasi diri saya. Saya mendaftar dan diterima di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya melalui jalur PMDK.

Semester pertama di sana belum benar-benar terasa perbedaan antara saya di SMA dan saya di kuliah secara mental. Masih labil, sangat mudah tertekan walau sudah tidak dalam masa depresi, masih kentara sekali dalam pencarian jati diri, tidak percaya diri, bertopeng ceria, dan belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Perubahan cukup terlihat ketika memasuki semester ketiga. Perubahan diperlihatkan juga melalui tes MBTI, dari E menjadi I, dan saya mulai mengenali diri saya.

Semester keempat, saya sempat mempertanyakan kalimat terakhir di paragraf pertama tulisan ini. Saya mengenali diri saya, dan beberapa kali mengenali simptom yang kerap muncul, ternyata… menakutkan. Bisakah saya memfalsifikasi pernyataan bahwa tempat ini bukan tempat berobat jalan yang baik? Atau saya malah terjerumus lebih dalam dengan menghiraukan rasa takut, menyangkalnya, dan mendiamkannya? Semester-semester berikutnya diwarnai dengan saya yang lebih mudah mengetahui kondisi saya melalui jurnal kesehatan mental yang berisi catatan harian distorsi kognitif, progres berat badan, dan hasil Tes Beck Depression Index secara berkala yang saya lakukan. Dengan bantuan beberapa dosen, saya melakukan konseling hingga akhirnya penerimaan diri dan proses berdamai dengan diri saya selesai.

Lalu, dengan modal teori-teori psikologi apakah benar bahwa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya benar-benar bisa menjadi tempat yang sempurna untuk berobat jalan?

Untuk saya, hal yang menyempurnakan berobat jalan saya adalah individu-individu yang dididik juga olah fakultas ini. Ya, teman-teman saya yang terus menemani saya. Teman-teman saya yang juga dilatih kemampuan dan pengetahuannya oleh fakultas, sehingga bisa bertahan di samping saya yang lebih cepat menangkap sinyal negatif. Kalau tidak ada Pramabim, mungkin saya tidak bisa sekamar dengan teman terbaik saya yang setia dan bersedia menerima kekurangan saya. Kalau tidak ada KOMPSI, saya tidak akan keluar dari zona nyaman dan berjuang untuk menjadi tidak biasa… dan memang saya bisa untuk menjadi tidak biasa. Dan dari semuanya, kalau saya tidak menjalani berobat jalan di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, saya mungkin tetap bisa ‘sembuh’. Tapi, mungkin tidak sebaik ini.

Jadi, terima kasih Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Saya berhasil mengalahkan diri saya.

*) Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2006