oleh: SARAH REZIVVON TINAYO*

Saat masih berseragam putih abu-abu, tepatnya di tahun ke-2, sebenarnya saya sudah memiliki ketetapan hati untuk bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Selain itu, saya pun sudah bertekad untuk memilih jurusan di bidang sosial dan politik ataupun hukum. Namun, entah memang nasib atau kurangnya usaha yang saya lakukan, semua mimpi itu sirna.

Saya tidak diterima di PTN yang saya impikan, meskipun saya sudah melakukan tes berkali-kali. Akhirnya, Ayah dan Ibu menyuruh saya untuk segera mencari alternatif di swasta. Saya pun segera mencari informasi mengenai berbagai universitas swasta yang ada di Jakarta. Pilihan pun saya tetapkan di Unika Atma Jaya.

Mengisi formulir pendaftaran membuat saya cukup “galau”. Saya bingung ingin memilih jurusan apa. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan orangtua dan sahabat karib, saya memutuskan untuk memilih dua jurusan sebelum tes dilaksanakan. Pilihan pertama adalah Psikologi dan yang kedua adalah Hukum. Lalu, di suatu Minggu pagi, saya datang ke kampus Semanggi Unika Atma Jaya untuk mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru.

Hari pengumuman tiba dan ternyata saya lolos pada pilihan pertama. Setelah menyelesaikan berbagai kewajiban administratif serta orientasi mahasiswa baru (baik di tingkat fakultas maupun universitas), saya akhirnya resmi menjadi mahasiswi di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FP UAJ).

Banyak sekali kisah atau kejadian yang tidak dapat saya lupakan selama menjalani hari-hari sebagai mahasiswi Psikologi. Jika ditanya soal kisah atau kejadian apa yang paling berkesan, maka jawaban saya adalah bergadang untuk mengerjakan tugas.

Jujur saja, ketika SMA saya termasuk orang yang santai. Bahkan, meskipun ada ulangan harian di keesokan hari, jarang sekali malam sebelumnya saya belajar. Hasil ulangan pun ternyata tidak buruk. Bukan bermaksud sombong, tapi sepanjang SMA saya selalu menduduki peringkat 10 besar di kelas. Hal itu membuat saya terlalu santai di SMA dan merasa bahwa saya “baik-baik saja” dalam nilai walau jarang belajar. Saya nikmati masa SMA sebagai masa bermain. Dua puluh empat jam terasa cepat, namun hanya dipenuhi oleh kegiatan berkumpul dan mengobrol bersama teman-teman. Akan tetapi, semuanya berubah sejak saya menjadi mahasiswi.

Saat kuliah, membuat tugas kelompok secara tatap muka atau lewat Google Docs sampai tengah malam, bahkan subuh, sudah menjadi suatu kewajaran. Saya pikir, bukan hanya saya yang mengalaminya. Semua angkatan pun mengalami hal yang sama, sehingga bergadang sudah menjadi seperti tradisi. Saat berada di titik jenuh, saya sempat marah dan tidak peduli dengan tugas yang ada, bahkan sampai menangis dan jatuh sakit. Akan tetapi, saya menjadi bersemangat lagi saat sadar bahwa bukan hanya saya yang mengalami hal tersebut.

Kebiasaan bergadang membuat saya akhirnya mau tidak mau harus bisa mengatur waktu dengan sangat baik. Tiap menit bahkan tiap detik menjadi berharga dan bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan hal sekecil apa pun. Pada satu titik, saya sadar bahwa kebiasaan saya di SMA tidak bisa diterapkan di dunia kuliah. Saya pun akhirnya memutuskan untuk perlahan-lahan menghilangkan kebiasaan terlalu santai yang saya miliki saat SMA. Saya mencoba membuat agenda harian dan memo di handphone, supaya kegiatan yang akan saya lakukan dalam sehari bisa selalu diingat.

Sampai detik ini, kebiasaan tersebut masih saya lakukan. Saya catat setiap tugas yang ada termasuk batas waktu penyelesaiannya. Kemudian, saya juga catat kapan saya harus mengerjakan tugas tersebut. Jika berkelompok, saya catat jam dan tempat untuk bertemu lalu mengerjakan bersama teman sekelompok. Meskipun, tidak dapat dipungkiri, saya masih suka malas untuk menjalankan aktivitas yang sudah saya catat, khususnya mengerjakan tugas.

Jika diingat kembali, 24 jam terasa begitu cepat semasa SMA karena saya habiskan untuk bersenang-senang terus dan tidak produktif. Kini, 24 jam tetap terasa cepat, namun dipenuhi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, entah mengerjakan tugas atau ikut berbagai kegiatan.

Di ulang tahun FP UAJ yang ke-20, saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah membuat saya belajar mengatur waktu. FP UAJ membuat saya harus bisa menghargai waktu yang sudah diberikan Sang Pencipta dan terus berusaha menyelesaikan segala sesuatu dengan maksimal. Terima kasih, FP UAJ!

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2010.