oleh: ARDES GOENAWAN*

Kamis, 12 Agustus 2010, adalah hari di mana saya secara resmi menyandang peran sebagai seorang mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FP Unika Atma Jaya). Segala hal yang terjadi semasa sekolah, mulai dari TK hingga SMA, kini menjadi sebuah ruangan bernama “kenangan” yang harus segera saya tinggalkan. Saya menyadari bahwa saya sedang menapaki ruangan lain yang berisikan sederetan “aksesoris” yang dapat menambah “koleksi kenangan” saya di kemudian hari.

Ruangan tersebut adalah dunia perkuliahan. Sebuah tempat yang disinyalir penuh dengan individualisme, senioritas, gaya hidup bebas, amoral, dan lain sebagainya. Namun, saya menyadari bahwa kaki ini harus terus menapak. Kaki saya tidak akan menapak sendirian karena saya melapisinya dengan hati. Yes, I call it a heart of step. Langkah yang berlandaskan keinginan dan keberanian hati untuk memulai sebuah petualangan baru. Itulah modal pamungkas saya untuk menghadapi ruangan baru ini.

Kelas pertama saya adalah mata kuliah Statistik 1 di ruang BKS 201B. Namun, perlu diketahui bahwa mencari ruang kelas ternyata tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Saat itu, saya tidak tahu banyak tentang letak gedung maupun tempat-tempat yang menampung berita seputar perkuliahan di Fakultas Psikologi. Saya harus mencari Gedung C lantai 4 untuk mengetahui ruangan kelas saya. Namun, ternyata saya tidak sendirian. Banyak teman-teman di luar sana yang juga mengalami apa yang saya alami: bingung. Tanpa disadari, saya menemukan ‘aksesoris’ pertama saya di ruangan baru, yaitu seorang teman. Teman pertama yang saya ajak berkenalan saat mengalami kesulitan bersama tersebut adalah Kara Ivana Harbie. Ia bukanlah orang pertama yang saya ajak berkenalan, sebelumnya saya berkenalan dengan Alice Ade, Evelyn Lambintara, Tesar Gusmawan, dan Ardisa Susanto saat acara Open House Fakultas Psikologi. Singkat kata, saya dan teman-teman lainnya akhirnya berhasil menemukan lokasi ruang kelas dan saya duduk di baris keempat dari depan.

Mengamati ruang kelas pertama tersebut membuat saya bertanya-tanya. Mengapa mahasiswa yang laki-laki hanya saya? Mengapa yang lain perempuan semua? Apakah karena mahasiswa laki-laki lainnya terlambat?. Pertanyaan tersebut terus muncul dalam benak saya sejak sebelum kelas dimulai. Sampai kelas usai, saya mendapati jumlah mahasiswa laki-laki di kelas tidak sampai 10 dari total sekitar 40 mahasiswa. Saya mulai berpikir apakah ini akan terus terjadi di mata kuliah lainnya? Ternyata jawabannya adalah iya. Setiap mata kuliah yang saya jalani selalu diwarnai dengan teriakan dan obrolan khas kaum hawa, yang tentunya jauh berbeda dari kaum adam.

Jujur, saya tidak dapat menyangkal akan keresahan hati yang saya rasakan dalam menghadapi fenomena ini. Sebenarnya, pada tanggal 17 Agustus 2009 saya sudah pernah diberi tahu oleh Tessar Harfin Harly, seorang teman yang kebetulan mahasiswi FP Unika Atma Jaya angkatan 2009, bahwa Fakultas Psikologi akan “dihiasi” dengan sederetan kaum hawa. Saya percaya akan perkataan Tessar, namun saya tidak menyangka bahwa sedemikian ekstemnya proporsi mahasiswa perempuan dan laki-laki di FP Unika Atma Jaya. Keresahan hati saya bukan tanpa alasan. Sebelumnya, saya sekolah di sebuah sekolah swasta yang memiliki proporsi siswa dan siswi yang seimbang. Selain itu, saya juga memang menyukai topik pembicaraan “pria” seperti online game, pornografi, perempuan, dan lain sebagainya. Alhasil, saya memang lebih sering berinteraksi dengan teman saya yang pria ketika di SMA. Bahkan bisa dibilang saya cukup pemalu untuk memulai perbincangan dengan teman perempuan. Maka, melihat kenyataan di FP Unika Atma Jaya, timbullah pertanyaan: “Bagaimana saya dapat melewati hari-hari perkuliahan saya di Fakultas Psikologi jika kebanyakan teman kuliah saya adalah perempuan?”

Sejak masuk kuliah hingga Desember 2010 saya lalui dengan keresahan hati tersebut. Setiap harinya, saya cenderung pendiam dan duduk di baris terdepan.Selain ingin serius belajar, duduk di depan sendirian juga merupakan sebuah konsekuensi akan keresahan hati saya. Sebenarnya, sepanjang semester 1  tersebut saya diterima dengan hangat dan ramah oleh teman-teman perempuan. Ada delapan teman perempuan yang sering mengobrol dengan saya baik untuk bergurau maupun bertanya mengenai perkuliahan. Berkat mereka berdelapan, saya seringkali dipilih menjadi ketua kelas. Suara histeris dari mereka berdelapanlah yang sering memiliki andil dalam proses ”voting” pemilihan ketua kelas. Dari lubuk hati terdalam saya sangat senang. Saya senang bukan karena saya mendapatkan jabatan ketua kelas, namun saya senang karena saya mendapatkan teman-teman baru di perkuliahan. Meski saya masih terlalu malu untuk bergaul dekat dengan mereka, namun mereka telah menjadi ‘koleksi’ berharga dalam ruang kenangan saya.

Selain kedelapan perempuan tersebut, saya juga berkenalan lagi dengan tiga teman perempuan lain selama proses perkuliahan. Jika delapan perempuan tadi amat histeris, ketiga teman ini cenderung lebih pendiam. Saya juga lupa apa yang membuat saya jadi dekat dengan tiga perempuan ini hingga sekarang. Bersama teman-teman perempuan tersebut, saya dapat melakukan berbagai hal. Mulai dari membentuk kelompok belajar, bergurau bersama, hingga berbagi suka-duka kehidupan. Akhirnya, dapat saya resmikan bahwa saya benar-benar menemukan “aksesoris” kedua saya, yaitu 11 teman perempuan di Fakultas Psikologi. Do you know that I never imagine this? Well, this is the fact and thanks God!

Seiring waktu berjalan, saya dapat beradaptasi dengan ruangan baru saya ini. Ternyata ‘aksesoris’ yang saya temukan di sini merupakan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya yakin pengalaman baru ini bukanlah yang terakhir. Ke depannya, masih banyak pengalaman-pengalaman baru yang juga tidak kalah berharga. Detik demi detik saya lalui bersama teman-teman saya tersebut dengan canda, riang, dan lelah tentunya. Sepanjang pergaulan saya di perkuliahan sampai detik ini, tentu tidak melulu senang. Kadang terdapat pula kerikil-kerikil di dalamnya. Ada kalanya saya penat menghadapi pergaulan dalam komunitas yang didominasi oleh perempuan ini. Bagi saya, bergaul dengan perempuan membutuhkan persiapan mental yang tidak sedikit. Kita harus siap dengan segala bahasa tubuh, tangisan, bahasa terselubung, dan sebagainya. Namun, akhirnya saya sadar bahwa ternyata hal-hal tersebutlah yang justru mewarnai hidup saya.

Pada dasarnya, saya adalah seorang yang melankolis. Saya menyukai kedalaman, romantisme, implisitisme, dan siratan. Itulah mengapa saya lebih menyukai bergaul dengan perempuan dengan topik-topik yang jauh lebih bermakna (bagi saya) daripada topik mengenai roda, air aki, dan air radiator yang biasa saya bahas bersama teman laki-laki.

Ternyata, saya yang awalnya kesulitan dan malu bergaul dengan perempuan, justru melalui perasaan malu tersebut saya bisa mendapatkan teman-teman perempuan di sekeliling saya. God is never wrong and never late. He is always give us a right thing at the right time. Tuhan memberikan saya teman-teman perempuan yang membuat saya belajar untuk menjadi seorang laki-laki yang lebih tegar, tegas, dan bertanggungjawab dari hari ke hari. Tidak jarang saya dihadapkan pada situasi di mana saya harus mengambil keputusan. Sebagai seorang laki-laki, saya bertanggungjawab untuk mengambil peran tersebut dari antara teman-teman perempuan saya. Tidak jarang pula saya mendapatkan umpan balik atas sikap dan perilaku saya. Terima kasih teman-teman, karena kalian telah mengajarkan bagaimana cara menjadi seorang laki-laki.

Saya yakin, kelak hal ini akan menjadi fondasi bagi saya untuk dapat memimpin diri sendiri, istri, anak-anak, maupun keluarga besar saya di masa depan. Saya menyadari bahwa kelak terdapat seorang wanita yang akan membutuhkan figur saya. Sebagai seorang suami yang dapat pula menjadi seorang sahabat yang menemani di sisinya, menyediakan pundak sebagai tempatnya meluapkan emosinya, dan memberikan pelukan untuk dapat melindungi dirinya. Saya juga menyadari kelak akan terdapat anak-anak yang membutuhkan figur saya sebagai seorang ayah. Ayah yang dapat menjadi seorang sahabat, guru, dan pemimpin baginya. Memikirkan semua itu, maka saya pun berpikir, jika saya tidak mempersiapkan diri dari sekarang, kapan lagi?

Kini, saya amat bersyukur akan kehadiran teman-teman perempuan di bangku perkuliahan. Mereka telah mengasah saya menjadi seorang laki-laki. Ini adalah ‘aksesoris’ ketiga saya di ruangan baru ini. Seperti yang sudah saya singgung di awal. Setiap fase kehidupan bagaikan sebuah ruangan baru. Bagi saya, masa perkuliahan ini kelak menjadi ruangan “kenangan” yang mempersiapkan saya untuk menapaki ruangan berikutnya: pernikahan dan keluarga. Saya ingin terus diasah karena saya ingin mempersiapkan yang terbaik bagi istri dan anak-anak saya di kemudian hari. My wife and my children deserve the best from their husband and father. I just want the best for my family. Thank you Unika Atma Jaya because you have been preparing me for my future!

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya  angkatan 2010.