oleh: OCTAVIANUS WISNU W.*

Saya menghabiskan kurang lebih empat tahun untuk proses pendidikan kesarjanaan. Sebelumnya, gamang dengan berbagai hal yang terjadi selama menjalani proses pendidikan dasar, banyak orang yang bahkan ragu apakah saya akan berakhir di perguruan tinggi. Tapi toh, akhirnya saya kuliah juga.

Menentukan ke mana saya akan kuliah sebenarnya menjadi sebuah paradoks tersendiri buat saya. Di satu sisi, tidak seperti banyak orang, saya tidak memiliki tuntutan eksternal untuk mengambil bidang ilmu tertentu, di tempat tertentu, atau diharapkan untuk mengambil bidang kerja tertentu ketika saya memutuskan untuk kerja nantinya. Di sisi lain, minimnya tuntutan tersebut (dan minimnya minat saya untuk melakukan apapun kala itu) membuat saya juga kesulitan untuk menentukan pilihan. Pilihan saya akhirnya jatuh ke Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FPUnika Atma Jaya). Tepatkah?

Masuk dalam orientasi mahasiswa baru, saya yang besar dalam institusi pendidikan Katolik sempat heran dengan tingginya tingkat keberagaman dalam tempat studi saya ini. Layaknya Universitas besar lainnya yang saya tahu, Atma Jaya merupakan miniatur nusantara. Saya harus mengaku bahwa saya baru mencicipi interaksi yang intens dengan kawan-kawan dari suku, agama, dan latar belakang yang berbeda selama kuliah. Interaksi ini, seperti dinyatakan oleh berbagai teori Psikologi Sosial melalui hipotesis kontak, membuat saya lebih tidak stereotipikal dalam memandang perbedaan seperti sebelumnya. Keberagaman itu baik. Saya yang seorang pro-Darwin meyakini hal ini.

Menjalani proses kuliah, saya juga dikagetkan dengan betapa mudanya tenaga pengajar di institusi pendidikan ini. Lagi-lagi, bukan hal yang jelek. Tenaga pengajar yang lebih muda menurut saya lebih fleksibel dalam menggunakan beragam media dan metode belajar. Kebetulan cocok dengan model belajar saya yang serampangan, dalam artian saya cenderung mudah bosan dengan cara penyampaian materi yang monoton.

Menyangkut isi perkuliahan, saya menganggap materi perkuliahan yang diberikan cukup menstimulasi secara intelektual. Cukup? Ya, tidak terlalu sedikit sehingga saya merasa tidak mendapatkan informasi yang saya harapkan. Tidak terlalu berlebihan juga sehingga saya tidak lagi haus mencari informasi di luar kelas. Pada poin ini saya dapat mengatakan bahwa proses pendidikan yang diberikan FPUnika Atma Jaya cukup ideal. Saya merasa tidak disiapkan untuk menjadi lulusan yang ”siap kerja,” tetapi lulusan yang secara intelektual mampu menjelaskan (sekaligus menerapkan) prinsip-prinsip dasar psikologi dengan baik dan benar. Ke depan, fokus pada bidang keilmuan dan bukan menyiapkan tenaga kerja ini saya rasa perlu dipertahankan.

Selepas mendapatkan gelar kesarjanaan saya, saya dapat menyatakan bahwa pilihan saya empat tahun silam tidak salah. Saya telah mencicipi sebagian kecil dari ilmu Psikologi, dan makin haus untuk menambah pundi-pundi keilmuan saya. Selamat ulang tahun Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Terima kasih telah mengenalkan dunia Psikologi pada saya. Semoga tetap memberikan yang terbaik dalam pendidikan ke depannya.

*) Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2006, kini sedang menjalani kuliah di Magister Sains UGM