oleh: INAYAH AGUSTIN*

Perkenalan saya dengan fakultas Psikologi Unika Atma Jaya terjadi di pertengahan tahun 2003. Waktu itu akhirnya saya berhasil lulus menjadi salah satu orang beruntung yang berkesempatan menimba ilmu di tempat itu. Katanya, Fakultas Psikologi tersebut adalah salah satu yang terbaik di negeri ini (setidaknya menurut guru BK SMA saya waktu itu)!

Tidak butuh waktu lama bagi saya membuktikan apa yang dikatakan guru BK saya. Sebagai mahasiswa baru saat itu, kebingungan dan gagap budaya jelas saya alami. Apa ini? Di mana ini? Siapa sajakah mereka-mereka ini? Dan pertanyaan lain yang datang silih berganti, tiap kali saya berpapasan dengan satu atau beberapa orang, entah itu teman seangkatan, senior-senior, hingga dosen. Di hari-hari awal menjadi mahasiswa baru, pembuktian dan rasa bingung itu berganti menjadi rasa bangga dan antusias yang membuncah saat saya mengikuti apa yang dinamakan dengan Pramabim-Mabim (Pra Masa Bimbingan – Masa Bimbingan) selama hampir satu bulan, termasuk di dalamnya lima hari di Cibodas.

Masa-masa tersebut, ditambah banyak peristiwa lain yang mengikuti, sepanjang lima tahun setelahnya, begitu membekas sampai sekarang, dan dapat saya pastikan memberi andil dalam memperkaya diri saya. Saya bangga karena pernah merasakan panasnya duduk berdempetan di sebuah truk militer pulang-pergi Jakarta-Cibodas, berjoget musik irama Makarena di pagi buta tanpa boleh mengenakan sweater di tengah dinginnya hawa pegunungan, bernyanyi serempak cerewer-rewer bombom sambil mata tertutup dan disiram air, permainan-permainan kelompok memasuki hutan dan kebodohan-kebodohan lain yang saat itu mungkin mengesalkan. Tapi, pada akhirnya menyisakan satu hal yang amat saya syukuri: kebersamaan.

Apresiasi saya sampai saat ini selalu tercurah kepada dosen-dosen dan senior-senior saya yang dulu terlibat dalam kepanitiaan untuk acara tahunan tersebut. Dari acara itulah, saya dan teman-teman satu angkatan bisa saling mengenal satu sama lain, tak terkecuali hingga akhir perjalanan kami di kampus Semanggi. Kalau dulu tidak ada kewajiban pita ungu di pergelangan tangan dan dress code batik seminggu penuh, mungkin saya dan teman-teman hanyalah beberapa peer group yang terpisah satu sama lain.

Tekad saya saat itu bulat, kalau mendapat kesempatan, saya ingin kelak bisa menjadi bagian dari kepanitiaan Pramabim-Mabim. Ingin sekali saya tularkan semangat kebersamaan itu kepada adik-adik kelas saya kelak. Selama dua tahun berturut-turut, yakni 2006 dan 2007, saya aktif sebagai salah satu fasilitator acara tersebut. Beberapa perubahan acara terjadi, tapi esensi yang ditawarkan tidak pernah pudar.

Bagi saya, salah satu yang pada akhirnya membuat saya berhasil bertahan dan keluar dengan selamat dari fakultas ini adalah berkat support dari teman-teman seangkatan. Dari mana support tersebut saya peroleh? Dari perkenalan dan persamaan minat yang disadari. Dari mana perkenalan tersebut difasilitasi? Dari mana lagi kalau bukan dari Pramabim-Mabim. Jika saya disuruh menyebutkan, saya masih ingat nama ke-11 teman sekamar saya dulu di Cibodas, nama fasilitator saya, nama teman-teman sekelompok, hingga kelompok-kelompok kuliah dan pejuang skripsi yang memiliki pembimbing sama dengan saya. Ketakutan bahwa saya akan sendirian menjalani perkuliahan tidak pernah terbukti. Saya punya orang-orang yang bisa saya andalkan, setidaknya untuk sekedar berbagi sapa dan tawa.

Pramabim-Mabim bagi saya pribadi adalah keajaiban. Saya dan teman-teman seangkatan sampai detik ini masih menyelipkan topik tersebut dalam sela obrolan dan nostalgia kami. Kegiatan itu membentuk diri kami, di sanalah arti belajar memahami orang lain dimulai. Sudah lima tahun saya tidak lagi aktif menggali informasi tentang kegiatan ini di Psikologi Atma Jaya. Apakah masih berlangsung? Ah, semoga saja masih, walau mungkin berganti nama dan teknis acara.

Jika saya diminta menyebutkan apa momen yang paling berkesan selama saya menjadi mahasiswa Psikologi Atma Jaya, dengan tingkat kenarsisan yang paling minim, saya pasti akan menjawab: “Tentunya ketika saya ikut Pramabim-Mabim!”. Well, ya kalau yang lebih narsis bisa saja saya sebut beberapa momen lain seperti: saat menjadi sekretaris HIMAPSI, menjadi salah satu panitia pelopor acara PsychoCinema pertama, menjadi asisten dosen mata kuliah Konstruksi Tes, semasa sidang, dan akhirnya lulus skripsi, dan lain sebagainya. Tapi, di atas semua momen tersebut, saya lebih senang menyebutkan momen dimana saya bertemu teman-teman baru yang menyenangkan.

Klise memang. Meskipun begitu, kalau mengingat perjalanan perkuliahan yang terjal, tugas-tugas kelompok yang bikin stres, mengulang mata kuliah di semester pendek, hingga cemas lutut lemas menghadapi sidang, saya berhutang budi dengan mereka semua. Mereka senantiasa berada dalam pompaan semangat yang sama, kerisauan yang sama, dan kebanggaan sayang yang sama pula, karena pernah menjadi bagian dari Pramabim-Mabim khususnya, maupun bagian dari Psikologi Atma  Jaya pada umumnya.

Selamat Ulang Tahun almamaterku! Meskipun jaket almamater saya saat ini lebih cerah dari warnamu, tetap hati ini akan selalu mengingat masa-masa itu, mata kuliah berikut dosen-dosen yang menginspirasi. Pertahankan visi dan misi untuk terus memperkuat ikatan kami, mahasiswa-mahasiswamu lewat kegiatan-kegiatan yang seru, namun tetap membantu kami tangguh. Lima tahun bagi saya bukanlah waktu yang singkat, mungkin saya pun tidak mau lagi mengulangnya, tapi saya bisa pastikan, akan terus dan terus mengingatnya.

Terima Kasih, Psikologi Atma Jaya!

*) Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2003