oleh: RUSVIERA YULIANA ELIZABETH*

Keluarga. Kata tersebut tentu memiliki makna yang sangat dalam bagi banyak orang. Keluarga pasti menjadi sesuatu yang berharga bagi setiap manusia. Keluarga adalah tempat seorang anak tumbuh dan dibesarkan. Keluarga menjadi sekolah pertama bagi anak tersebut, merasakan kasih sayang, aman, terlindungi, juga dihargai. Keluarga semestinya menjadi satu hal yang patut disyukuri.

Belajar di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya membuat saya makin paham tentang arti keluarga. Pada mata kuliah Psikologi Perkembangan, saya belajar bagaimana proses seorang wanita mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anaknya. Bagaimana attachment terbentuk antara ibu dan anak selama proses tersebut berlangsung. Dekapan dan pelukan hangat, susu, dan tepukan lembut yang diberikan saat bayi menangis, membuat bayi tersebut merasa aman dan terlindungi. Merasa bahwa ketika lahir di dunia ini, anak itu tidak sendirian. Bahwa ketika ia menangis, ada ibu yang siap menenangkan tangisannya. Bahwa ketika lahir di dunia ini, dia merasa nyaman.

Bab tersebut dulu hanya seperti bab-bab lain dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan bagi saya. Hanya tambahan ilmu yang nantinya berguna ketika saya memperoleh gelar sarjana psikologi. Tapi entah mengapa, beberapa bulan belakangan ini bab mata kuliah tersebut menjadi sesuatu yang membekas dalam ingatan saya.

Jujur saja, keluarga saya bisa dibilang hidup berkecukupan. Saya memiliki tempat tidur yang empuk, makanan cukup, fasilitas yang memadai, dan banyak hal lain yang mungkin saja tidak dimiliki anak-anak lain di luar sana. Tapi saya merasa tidak memiliki satu hal. Attachment dengan sosok yang orang lain sebut sebagai ibu, mama, bunda, emak, atau apapun sebutannya. Saya tidak merasa aman ketika harus pulang ke rumah sesudah kuliah yang cukup menyita waktu dan tenaga. Saya iri dengan teman-teman saya yang punya cerita mengharukan tentang ibu mereka. Saya iri melihat mereka yang punya foto mesra dengan ibu mereka. Saya iri.

Bab dalam mata kuliah tersebut kemudian menjadi bahan pemikiran saya. Kenapa ya saya tidak merasa dekat dengan ibu saya? Apa dulu ketika saya masih bayi dan menangis, saya dibiarkan menangis? Apa dulu ibu saya tidak datang untuk memeluk saya dan mendiamkan tangisan saya? Apa dulu saya hanya dibiarkan merengek dan terdiam sendiri? Entahlah. Sampai saat ini saya belum punya jawabannya. Pernah tergelitik untuk bertanya pada ibu saya, tetapi saya malu. Saya malu pada diri saya.

Yang jelas saya membuat komitmen. Ketika saya lulus sebagai sarjana psikologi, menikah, dan memiliki anak, saya tidak mau menjadi seorang ibu seperti ibu saya. Meskipun saya sempat menyesali keadaan saya, tapi saya bersyukur masih punya ibu. Saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan memperlakukan anak saya nanti dengan jauh lebih baik. Saya akan membuatnya merasa aman dan nyaman. Saya ingin anak saya merasakan attachment dengan saya. Agar hidupnya lebih baik daripada saya sekarang. Itu toh manfaat dari ilmu psikologi? Meningkatkan human-being seseorang agar hidupnya lebih baik lagi.

Terima kasih psikologi, sudah membuat saya belajar menghargai diri saya sendiri. Dan sudah membuat saya menyiapkan kehidupan yang lebih baik lagi untuk orang lain nantinya.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2010