Oleh: RIELYA LASANO*

Ketika saya datang ke Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FP UAJ), saya adalah bocah yang skeptis terhadap psikologi. Menurut saya, psikologi adalah ilmu awang-awang (apaan tuh belajar tentang kenapa orang begini dan begitu? Teori mimpi? Teori mengapa orang bisa jatuh cinta? Uh, please?). Saya tidak mengerti mengapa harus mengenakan pita ungu itu di tangan saya selama Pramabim-Mabim (kayak anak TK..), dan saya sangat sinis terhadap profesi pendidik, terutama guru (yang selalu ngomelin saya ada ataupun nggak ada alesannya) dan dosen (yang kayaknya versi lebih ngga bangetnya dari guru). Karena itu, pada awalnya ide untuk masuk ke FP UAJ itu semacam ide paling buruk yang bisa saya pikirkan—dan betul-betul saya laksanakan.

Saya ingat, titik awal saya mulai menghargai Fakultas Psikologi dan semua komponennya adalah ketika seorang dosen melakukan hal yang sebetulnya amat sederhana. Hari itu saya datang ke kampus untuk mengikuti UTS dan setelah mengerjakan soal pilihan ganda dengan ngos-ngosan, saya sampai pada bagian esai yang sama sekali tidak bisa saya jawab. Betul-betul sama sekali nggak bisa dijawab loh. Entah saya yang memang tidak belajar, sama sekali tidak mendengarkan sang dosen ketika mengajar, atau memang saya dasarnya lamban dalam menangkap segala sesuatu. Singkat cerita, saya yang diberi satu kertas folio untuk menjawab dua soal esai akhirnya menuliskan kalimat ini dalam UTS saya:

“Mas X, maaf.”

……….dipikir-pikir lagi, saya tidak tahu kok bisa-bisanya saya menuliskan itu di kertas jawaban saya. Setelah itu, saya bertemu dengan dosen mata kuliah yang bersangkutan, saya merasa amat sangat bersalah. Tetapi dosen itu dengan cengiran lebarnya bertanya pada saya “Gimana UTS nya? Gampang toh?” Perasaan saya saat itu semacam campur aduk. Namun saya menerjemahkan bahwa cengiran gembira sang dosen saat itu berarti beliau belum melihat kertas jawaban saya. Hari berikutnya (lagi-lagi) saya bertemu dengan sang dosen. “Mas, udah periksa kertas ujian saya belum?”

“Belum. Kenapa, kamu nulis surat cinta?”

“……a-ha-ha-haa….” (keringat dingin)

Pertemuan saya dengan sang dosen berlangsung hampir tiga hari berturut-turut yang selalu dimulai dengan cengiran sang dosen yang tampaknya menunjukkan bahwa beliau sama sekali tidak tahu-menahu tentang dosa besar saya. Hingga akhirnya, hari itu saya masuk ke kelasnya dan ketika melihat saya, beliau memasang wajah serius (serem, biasanya ketawa terus, soalnya) dan dengan gesture jarinya, ia menyuruh saya mendekat. Singkat cerita, beliau menanyakan mengapa saya tidak menjawab soal esai saya. Pada akhirnya, saya berkata bahwa saya hanya seorang murid yang bodoh. Pada saat itu saya siap dengan konsekuensi bahwa saya tidak akan lulus. Di dalam hati, saya berusaha membela diri dengan berulang kali mengatakan bahwa dari awal saya memang tidak mau masuk psikologi, saya yakin pak dosen akan menyatakan bahwa beliau kecewa dan saya lebih baik angkat kaki dari kelasnya. Tapi akhirnya beliau hanya menghembuskan nafas pelan dan berkata pada saya,

“Bodoh adalah ketika kamu berhenti memiliki tujuan. Bodoh adalah ketika kamu menyerah. Berusahalah untuk dapat nilai yang baik di kuis berikutnya, dan kita lihat apa itu bisa membantu UTS mu.”

Sekarang ini kalau dipikir-pikir lagi, saat itu beliau bukan memaksa saya untuk dapat nilai seratus di kuis berikutnya demi menyelamatkan nilai UTS saya. Sebetulnya beliau sedang mengatakan pada saya untuk silakan kembali ke kelasnya pada saat saya sudah menemukan tujuan saya dan tidak ingin menyerah.

Sejak saat itu, saya membuka mata lebar-lebar pada apa yang ada di sekeliling saya, di FP UAJ. Membuka mata lebar-lebar membuat saya bersyukur bahwa saya dikelilingi dosen-dosen yang luar biasa. Saya pikir, dosen-dosen di FP UAJ adalah dosen-dosen yang entah bagaimana cerita dan caranya, selalu saja dapat menyentuh murid-muridnya dan menjadi sumber inspirasi yang luar biasa.

Setelah itu, saya mulai belajar menghargai teman-teman saya (dan menemukan persahabatan yang berharga di dalamnya), belajar bersyukur saya bertemu dengan senior-senior saya, dan belajar menularkan aspirasi dan semangat yang sama pada junior-junior saya.

Lalu, saya bersyukur saya datang ke Fakultas Psikologi UAJ. Saya bersukur, diberi kesempatan untuk berada di ruang belajar ini. Saya bersyukur, untuk semua hal pahit dan manis, lucu dan menyebalkan, unik dan sederhana, semua hal yang saya alami di FP UAJ. Dipikir-pikir lagi, banyak proses pendewasaan dan ‘penghangatan’ hati sendiri—kalau memang ada istilah macam itu, yang saya terima dari FP UAJ. Karenanya, selamat ulang tahun, Fakultas Psikologi tersayang. Terimakasih sudah hadir sejak dua puluh tahun yang lalu.

*Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008 yang saat ini sedang mengikuti program internship di Jepang.