oleh: CAECIL PUTRI*

SMA tidak menjadi bagian yang paling indah dalam hidupku. Sebagian besar orang dewasa selalu berkata ingin kembali ke masa-masa SMA yang menurut mereka menyenangkan. Aku merasa tertipu. Buatku, sekolah merupakan penjara di mana aku dipaksa bekerja rodi untuk menghitung angka-angka dan menghafal tulisan-tulisan yang tidak menarik. Sekolah menjadi tempat yang semakin menyebalkan ketika hampir semua teman-temanku sudah mulai membicarakan mengenai universitas yang akan mereka pilih untuk melanjutkan menimba ilmu dan mulai menceritakan betapa menarik fakultas yang akan mereka pilih nantinya. Sementara aku selalu yang tertinggal di belakang. Memilih universitas? Lulus UAN pun aku tidak yakin.

Aku  putus asa. Aku membenci hampir semua pelajaran-pelajaran SMA. Memilih jurusan untuk kuliah terasa seberat mengerjakan soal matematika integral. Ketika berunding dengan orang tua, aku akhirnya mengerti bahwa Ayah selalu menginginkanku mengambil jurusan ekonomi. Aku tidak pernah ingat mendapatkan nilai bagus untuk mata pelajaran Ekonomi dan Akuntansi di sekolah. Aku membenci kedua mata pelajaran itu. Fakultas Ekonomi jelas pilihan terakhirku. Ketika berunding dengan beberapa saudara terdekatku, mereka menyarankanku untuk mengambil jurusan musik, tetapi aku tahu aku tidak ingin menjadi seorang pemusik.

“Kamu belum tahu mau ambil jurusan apa?” tanya Ayahku yang sibuk di depan komputernya.

Enggak tahu. Selain Fakultas Ekonomi, enaknya apa?” Aku memilih kata dengan hati-hati supaya Ayah tidak memulai ceramahnya mengenai Fakultas Ekonomi.

“Coba lihat website Atma Jaya. Dulu Papi kuliah di sana. Sekalian lihat-lihat universitas yang lain, kali saja kamu tertarik. Pilih jurusan yang benar-benar kamu minati. Jangan sampai salah jurusan, lho.” Akhirnya Ayah menyerah memaksaku untuk mengambil jurusan ekonomi. Beliau menyarankanku untuk membuka situs Unika Atma Jaya dan beberapa Universitas lain untuk melihat jurusan apa saja yang ada.

Aku memang pemalas. Situs universitas yang kubuka hanya Atma Jaya, dan dengan arogan serta percaya diri mencetak formulir pendaftarannya.

“Sudah tahu mau ambil jurusan apa?” Kali ini ibuku yang bertanya sambil memotong kain-kain batik untuk dijahit.

“Belum, sih. Iseng saja.” Jawabku sekenanya sambil mulai mengisi formulir itu dengan cukup serius. Ketika sampai di kolom ‘Jurusan yang Akan Dipilih’, aku berhenti menulis dan memperhatikan nama jurusan-jurusan yang ada. Aku tertarik pada salah satu jurusan yang baru pertama kali aku baca dan terdengar asing.“Mi, Psikologi tuh jurusan apa, sih? Belajar mengenai apa?” Aku bertanya pada ibuku yang masih sibuk dengan kain-kain batiknya.

“Belajar tentang manusia. Dulu Mami mau masuk jurusan Psikologi, tapi tidak ada uang. Coba kamu cari tahu dulu. Tahu-tahu salah jurusan, sayang waktu dan uang.”

Dengan berbekal rasa penasaran, aku mulai mencari tahu mengenai Fakultas Psikologi dan apa saja yang akan dipelajari. Aku tidak memiliki kenalan teman yang kuliah di Fakultas Psikologi yang mempersulit untuk mendapatkan opini, tetapi tentu saja ini bukan hambatan. Rasa penasaranku lebih besar dan mampu membunuh seekor gajah. Aku mulai bertanya kepada beberapa guru di sekolah yang memiliki latar belakang psikologi, sampai akhirnya memutuskan untuk memilih jurusan tersebut.

***

Aku tidak pernah melupakan kata-kata orangtuaku yang selalu berkata bahwa aku harus berhati-hati dalam memilih jurusan agar tidak salah pilih. Bahkan setelah diterima di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, para seniorku menanyakan hal yang serupa:

“Sudah mulai merasa salah jurusan belum?”.

Mungkin bagi mereka, pertanyaan itu adalah pertanyaan klasik yang selalu ditanyakan senior-senior kepada juniornya. Yah, atau sekadar ingin mengingatkan bahwa perjuanganku di FP UAJ masih panjang dan berat.

Buatku, pertanyaan itu menjadi bahan refleksi dan pemikiran yang selalu aku lakukan di pagi hari dengan muka kusut sambil sikat gigi di depan kaca. Setelah melewati ratusan hari, ratusan pagi, dan ratusan kali sikat gigi, sedikit demi sedikit aku menemukan jawaban dari pertanyaan itu yang ternyata kerap berubah-ubah setiap semester.

Semester pertama, aku tidak mendapatkan pilihan lain selain harus menjalankan 21 SKS dengan 9 mata kuliah. Pada semester ini, pertanyaan ‘salah jurusan’ masih sering ditanyakan oleh senior-seniorku. Pada semester ini pula aku belum mendapatkan jawabannya. Buatku, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya pada saat itu masih memiliki kemiripan ketika aku masih SMA. Satu hal yang aku tahu, aku merasa nyaman. Aku mulai aktif berorganisasi, bergaul dengan beberapa senior, dan mengalami jatuh bangun dalam mengerjakan tugas yang rasanya tidak pernah berakhir. Semester satu di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, aku menyadari bahwa ternyata aku tidak semalas itu. Meski dosen-dosen sepertinya tidak pernah lelah untuk memberikan tugas, aku selalu berhasil menyelesaikan tugasku.

Semester kedua, para senior-senior masih sering mempertanyakan mengenai ‘salah jurusan’. Karena banyak mata kuliah umum yang diambil pada semester ini, aku semakin mempertanyakan ‘apa itu psikologi?’. Rasa lelah sudah mulai terasa karena aku mengambil semester padat dan tidak menikmati liburan panjang. Ketika melakukan curhat colongan  kepada senior, mereka menjawab bahwa ini baru permulaan. Tugas yang lebih berat dan lebih banyak masih akan menanti di semester-semester berikutnya. Aku melihat beberapa temanku menyerah dan beralih ke fakultas yang lain. Pada semester ini aku mulai ragu, apakah aku berada di jurusan yang tepat.

Semester ketiga adalah tahun kedua aku berada di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Aku bertemu dengan teman-teman yang bisa aku andalkan dan berjuang bersama di sini. Tugas masih terus berdatangan. Kesibukan organisasi juga masih terus berjalan. Tetapi aku merasa lebih menikmati kehidupan kuliah. Aku mulai merasa bahwa aku berada di tempat yang tepat, mempelajari sesuatu yang aku suka, dan juga bersama dengan orang-orang yang tepat. Pertanyaan mengenai ‘salah jurusan’ semakin terjawab.

Sekarang aku berada di semester keempat, berada di tengah-tengah perjuangan untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Rasa lelah kembali menyerang. Dengan kesibukan di luar dan di dalam kampus, aku merasa ingin mati suri selama seminggu dan ketika terbangun seluruh tugasku sudah selesai dengan nilai yang baik. Meski dengan kesibukan yang luar biasa membuatku jatuh bangun, tidak pernah lagi terlintas pemikiran bahwa aku berada di tempat yang salah. Tugas memang akan terus berdatangan. Organisasi memang tidak selalu semulus yang dibayangkan. Dosen-dosen memang tidak akan akan selalu berbaik hati dan memberikan nilai A, mungkin mereka akan—dengan senang hati—meminta kami untuk merevisi proposal penelitian yang sudah dibuat dengan susah payah. Konflik pun akan terus terjadi. Beberapa teman akan datang dan pergi. Kami akan saling mengecewakan dan dikecewakan, tetapi kami juga saling mendukung satu sama lain.

Lebih dari sekadar tugas-tugas yang sukses membuatku tidak tidur dan konflik-konflik yang terjadi, aku menyadari tempat ini mengajarkanku banyak hal dan memberikan pengalaman yang tak ternilai. Di sini aku bertemu dengan banyak orang baru dan menjalin persahabatan, juga patah hati dan jatuh cinta oleh banyak hal.

Terimakasih untuk teman-teman yang sudah berjuang bersama selama empat semester penuh keluh dan kesah ini. Perjuangan kita belum berakhir disini.

Terimakasih untuk organisasi-organisasi Fakultas Psikologi yang sudah mengajarkanku mengenai bekerja sama, toleransi, kesabaran, dan memberikan pengalaman-pengalaman tak terlupakan.

Terimakasih Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya yang sudah memberikan rumah kedua dan kesempatan untuk belajar dan berkembang agar menjadi lebih baik.

Selamat ulang tahun, FP UAJ!

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2010