Oleh: GRACE MARIA SININTA*

Pada awalnya saya tidak berniat masuk ke Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Saya memang sudah bertekad masuk ke Fakultas Psikologi, namun bukan di Unika Atma Jaya. Saya mengincar Fakultas Psikologi di satu universitas negeri. Saat itu, Atma Jaya hanya menjadi cadangan. Namanya bukan pilihan pertama, saya mengikuti serangkaian tes masuk di Atma Jaya dengan luar biasa santai dan tanpa persiapan. Siapa sangka, saat pengumuman, nama saya ada di deretan nama mahasiswa yang diterima. Saya merasa kaget luar biasa. Bukan kaget senang, tapi kaget kenapa saya diterima padahal tidak menyiapkan apapun. Apakah ini kebetulan? Jujur saja, saya tidak percaya pada kebetulan.

Saat itu, ada satu teman SMA saya yang juga ingin masuk ke Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, namun tidak diterima. Ia sudah mencoba sampai gelombang terakhir pendaftaran, namun tetap tidak diterima. Saat itu, dia merasa sangat putus asa. Waktu itu, belum ada pengumuman di universitas negeri tempat saya mendaftar. Akan tetapi, dengan yakinnya saya mengatakan bahwa saya rela memberikan posisi di Unika Atma Jaya pada teman saya yang sedang nelangsa. Memang terdengar klise, tapi waktu itu saya sungguh serius menyatakannya. Saat itu, saya merasa ada hal yang aneh. Saya yang tidak menginginkan kuliah di Atma Jaya, malah diterima dengan mudah, sedangkan teman saya yang berjuang mati-matian malah tidak mendapatkan kesempatan itu. Ya, untung saja kata-kata saya waktu itu tidak menjadi kenyataan. Nyatanya, saya tidak diterima di universitas negeri impian saya. Dengan sedih hati, mau tak mau, saya masuk ke FP UAJ. Memasuki FP UAJ dengan setengah hati, membuat saya memiliki keinginan untuk cepat lulus. Gimana ceritanya baru masuk ingin cepat lulus? Entahlah, tetapi itu yang saya rasakan dulu.

Pada awalnya, menjadi mahasiswa di FP UAJ membuat saya merasa tersiksa dengan tuntutan tugasnya. Tuntutan tugas yang dihadirkan menjadi kejutan tersendiri bagi saya. Semakin bertambahnya jumlah semester, percayalah, tuntutan tugasnya semakin sulit. Akan tetapi, tanpa saya sadari, kejutan itu mulai terasa nikmat. Tantangan di setiap semester memang selalu membuat saya merasa tidak nyaman, namun sekaligus membuat kaki semakin kuat berlari, tangan semakin kuat menahan, dan hati semakin kuat menampung segala hal.

Kejutan yang tanpa sadar mulai terasa manis tidak berhenti sampai di situ. Bila saya renungkan kembali, FP UAJ telah membawa saya berhadapan dengan manusia berbagai usia, dari anak kecil sampai orang lanjut usia alias oma dan opa; orang dari berbagai suku bangsa; berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari lulusan SD sampai lulusan S3; berbagai kepercayaan; berbagai keadaan, mulai dari yang kondisinya sehat sempurna sampai yang tidak sehat baik secara fisik maupun mental; berbagai latar belakang ekonomi, dari yang tergolong kekurangan sampai yang kelebihan; berbagai pekerjaan, yaitu anak sekolah semua jenjang, guru, sampai bos-bos perusahaan; serta beragam jenis manusia lainnya.

Apakah saya benar pernah menghadapi semuanya?  Ya, walaupun terkesan mustahil, akan tetapi itulah kenyataannya. Sekilas memang pengalaman saya nampaknya biasa, namun secara luar biasa membuka wawasan, melatih mental dan memperbesar kapasitas penerimaan hati dan jiwa saya. Memang ini adalah kejutan yang benar-benar manis. Sekarang, kejutan ini tidak terlihat seperti kebetulan, bukan?

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008