oleh: HERDIANES HERI HERMAWAN*

Diskusi tidak selalu membahas topik yang berbobot. Diskusi tidak selalu bicara mata kuliah, pengetahuan ilmiah, dan hal lain yang berbau keilmuan. Hampir satu tahun kuliah di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, saya menemukan makna lain dari sebuah diskusi.

Diskusi sama seperti perbincangan yang dimulai dari kelompok kecil. Selama kuliah di psikologi, saya menemukan banyak diskusi yang bermanfaat meskipun tidak membahas tentang perkuliahan. Materi perkuliahan sudah cukup saya dapatkan selama di kelas bersama dosen dan teman lainnya. Di luar kelas, diskusi memiliki makna yang berbeda untuk membahas berbagai hal yang tidak pernah terpikirkan dan dibahas dalam kelas seperti biasanya.

Mengapa harus “Diskusi Menjelang Malam”? Diskusi menjelang malam membahas berbagai hal yang tidak pernah saya sadari sebelum masuk ke dunia perkuliahan. Diskusi menjelang malam bisa dilakukan dengan siapa saja dan di mana saja. Bersama senior, teman satu angkatan, teman beda fakultas, dosen, bahkan dengan karyawan Atma Jaya pun sebuah diskusi bisa terjadi. Saya merasa bangga karena bisa merasakan manfaat besar dari diskusi tersebut, entah membahas permasalahan penting, teori, gosip, hingga ke hal-hal tidak penting yang menurut orang lain tidak perlu diperbincangkan. Semua tempat bisa menjadi lokasi yang nyaman untuk berdiskusi, entah itu Hall C, lorong BKS, tenda hijau, Plaza Semanggi, McDonald’s, dan berbagai tempat lainnya.

Mengapa tidak pagi hari? Pagi hari adalah waktu untuk kuliah. Setiap hari, bahkan saat libur, saya selalu datang ke kampus di pagi hari. Hanya sakit parah yang bisa menghalangi kebiasaan saya datang ke kampus di pagi hari. Bagi saya, kampus menjadi rumah kedua tempat saya menemukan dan belajar hal-hal baru. Menurut saya, masa perkuliahan paling efektif adalah dari pagi hingga sore hari. Menjelang malam hari, perkuliahan tidak lagi terlalu bermakna. Cukuplah dari pagi hingga sore hari.

Menjelang malam, barulah saya menemui banyak orang baru. Jika di pagi hari saya mungkin hanya mengenal teman satu angkatan saja, menjelang malam saya berkenalan dan bertemu dengan lebih banyak orang. Saya sendiri senang berada di kampus hingga malam, biasanya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Di sela-sela mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk tersebut, saya seringkali menemukan perbincangan yang menarik. Sebuah diskusi panjang penuh makna mampu menyegarkan diri saya setelah menjalani kuliah dari pagi hingga sore. Sangat menarik melihat mahasiswa dari berbagai angkatan bisa berkumpul dan mendiskusikan suatu hal, tidak hanya berdiam diri dan asyik dengan kesibukannya sendiri.

Kalau ditanya hal apa yang paling saya sukai selama kuliah, jawabannya adalah berkumpul bersama teman-teman. Entah berkumpul untuk tujuan organisasi atau kepanitiaan yang biasa dikenal dengan istilah “Kura-Kura” (kuliah-rapat-kuliah-rapat), atau berkumpul bersama untuk berbicara tentang hal-hal di luar perkuliahan maupun organisasi, biasanya dikenal dengan istilah “Kunang-Kunang” (kuliah-nangkring-kuliah-nangkring). Saya menganggap semua itu sama saja, pada akhirnya sebuah diskusi akan terjadi di dalamnya. Saya bisa bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai cerita hidupnya selama di kampus atau di luar kampus ketika menjelang malam. Banyak kisah dan pengalaman para senior maupun teman-teman memiliki latar belakang berbeda.

Saya pun tidak pernah merasa lelah ketika harus pulang malam karena menyelesaikan sebuah tugas, rapat, persiapan acara, ngobrol-ngobrol, dan hal lainnya. Ini adalah kehidupan sesungguhnya mahasiswa di kampus. Di kelas, saya mendapat ilmu pengetahuan dan di luar kelas saya menemukan berbagai kisah dan pengalaman berbeda dari banyak orang. Apakah hal seperti ini akan terus bertahan? Tentunya harus tetap dipertahankan, karena jarang sekali ada kesempatan dimana kita bisa menceritakan pengalaman kita sekaligus belajar mendengarkan orang lain.

Berawal dari sebuah ajakan untuk berkumpul, mengerjakan tugas, atau makan bersama setelah kuliah seharian, lahirlah sebuah perbincangan bermakna dari sekelompok mahasiswa psikologi. Sebuah keberuntungan bagi saya bisa menjadi mahasiswa psikologi. Diskusi menjelang malam memberikan pemahaman untuk survive hingga empat tahun menjalani masa studi. Menjadi mahasiswa psikologi adalah sebuah pilihan bukan sebuah kewajiban. Kebahagiaan hanya akan ditemukan ketika seseorang terus berusaha mencari, bukan terdiam dan menunggu kebahagiaan itu datang. Sebuah langkah awal untuk mengembangkan diri dengan mulai memahami diri sendiri dan orang lain. Saya belajar untuk menggunakan waktu sebaik mungkin. FP UAJ menjadi awal bagi mimpi saya untuk menjadi calon sarjana psikologi di kemudian hari.

Terima kasih Psikologi, dan selamat ulang tahun ke-20, Fakultas Psikologi UAJ!

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Angkatan 2011