Oleh: A. HARRISUSANTO*

Apakah kebetulan atau tidak, pada tahun 1992-1993 saya diminta mengampu kuliah Pengantar Filsafat khusus untuk Fakultas Psikologi. Itulah awal hubungan saya dengan fakultas tercinta ini. Ada beberapa nama mahasiswa yang masih terlintas dalam ingatan antara lain: Boni, Desy, Elia Wenardjo, Phiong, Emile, Yunaidy. Mungkin mereka sudah tidak mengenal saya, searus dengan, barangkali, lenyapnya ingatan mereka tentang bahan-bahan gersang filsafat yang dahulu lebih terfokus pada tokoh-tokoh besarnya [Socrates, Plato, Aristoteles, dls].

Dari deretan nama alumnae dan alumni itu tentu yang masih agak kuat dalam ingatan saya adalah nama Desy Ratnasari. Bukan lantaran artis terkenal nan laris dengan lantunan lagu popnya: Tenda Biru, tetapi karena kekaguman saya pada keseriusan dan kedisiplinannya sekaligus juga apriori saya: artis pasti tak tahan pada kegersangan ilmu, terutama filsafat, dan pasti akan drop out di tengah jalan. Ternyata, pupus sudah apriori/dugaan saya tersebut!

Kembali pada tahun akademik 2010/2011 saya diminta mengampu mata kuliah Logika dan Filsafat, Filsafat Ilmu, Filsafat Manusia (yang kemudian melebur dalam kurikulum baru menjadi bagian dari Sejarah Pemikiran tentang Manusia). Saya amat senang dan bersemangat manakala mengajar mahasiswa-mahasiswi Fakultas Psikologi karena keseriusan, kedisiplinan, dan kuriositasnya yang lumayan tinggi untuk mendalami bahan ajar.

Terlebih lagi, menurut pendapat saya, filsafat, terutama cabang filsafat manusia adalah ilmu yang paling dekat dengan psikologi. Dari sejarah nama filsafat manusia saja sudah menunjukkan kedekatan itu. Dahulu filsafat manusia sering disebut: ‘psikologi rasional’, ‘psikologi filosofis’, untuk membedakan dengan ‘psikologi ilmiah’ atau ‘psikologi empriris’ yang sekarang kita sebut ilmu psikologi. Titik temu filsafat dan psikologi adalah keduanya mau memahami manusia secara komprehensif, utuh,  dan menyeluruh dalam multidimensi kehidupannya. Memahami manusia hic et nunc (di sini dan kini). Semakin dirasakan bahwa pendekatan ilmiah maupun eksperimental yang didasarkan pada data empris tidak cukup, untuk tidak mengatakan amat tidak memadai,  untuk memahami perilaku manusia yang dinamis secara penuh dan komprehensif. Pendekatan filosofis sangat diperlukan bagi para psikolog dan para ahli psikologi.

Secara kebetulan lagi, Fakultas Psikologi menjadi pelabuhan terakhir masa bakti saya di Unika Atma Jaya. Setelah begitu lama ditenggelamkan dalam tugas-tugas administratif dan manajerial  di berbagai unit kerja di lingkungan Unika Atma Jaya [kurang lebih 20 tahun], saya  menemukan kembali elan hidup yang sebenarnya dan nyata di Fakultas Psikologi.

Salah satu tandanya apa? Begitu masuk Fakultas Psikologi, begitu banyak berkah dan rahmat dalam kehidupan saya.  Kalau selama 20 tahun saya mengabdi di berbagai unit kerja Unika Atma Jaya belum pernah sekalipun mendapat hadiah undian yang setiap tahun dilaksanakan. Tetapi, begitu masuk di Fakultas Psikologi, dua tahun berturut-turut saya selalu mendapat hadiah utama dalam undian yang dilakukan. Sampai-sampai Tirza, Gabi, dan Agatha (staff dosen FPsi.) yang menjadi panitia piknik tahun 2011 geleng-geleng kepala: ‘Hari lagi, Hari lagi!’ serta mutung tak mau menjadi panitia piknik lagi kalau saya ikut serta. Namun saya membaca raut sumringah (ceria dan gembira) mereka. Jadi, hanya guyonan saja! Itulah tanda rahmat yang senantiasa menghidupi hidup saya dan keluarga.

Akhir kata, rasa syukur dan terima kasih saya ucapkan untuk seluruh keluarga besar Fakultas Psikologi. Anda semua ikut dalam proses penyelematan [hidup] saya. Dirgahayu Fakultas Psikologi! Berjaya dan bersinarlah senantiasa!

*) Penulis adalah staf pengajar FP UAJ sejak 2009, sebelumnya bertugas di Universitas sejak 1991