oleh: DARMA JUWONO*

“Hari ini adalah 23 Juli 2002. Sudah pukul 11 malam. Saatnya matikan telepon genggam!”

“Saya enggan membalas pesan yang masuk ke kotak masuk saya hari dalam beberapa jam ke depan. Isinya pasti: wah sudah tambah umur, tambah dewasa, cepat lulus kuliah, dan segeralah bekerja membangun karir yang membanggakan.”
“Cepat lulus? Membangun karir? Am I supposed to make that choice now?”

Itulah kira-kira yang saya alami 10 tahun silam. Peralihan hari menuju hari dirgahayu ke-20 yang seharusnya bahagia tidak terjadi. Malam itu saya benar-benar merefleksikan apa artinya bertambahnya 1 tahun dalam hidup saya. Apa artinya meninggalkan usia belasan menjadi dua puluhan? Situasi keuangan keluarga tidak terlalu baik, orangtua sudah berusia lebih dari 50an dan masih harus bekerja keras untuk menafkahi dua bocah laki-laki yang belum lulus dari perguruan tinggi.

Dari sisi personal, saya kaget menyadari bahwa sebentar lagi saya harus berada dalam usia produktif dan mengambil alih tongkat estafet dari kedua orangtua dalam mengurus rumah tangga. Tapi dari sisi yang lain saya menolak kenyataan itu. Saya masih senang nongkrong di kantin kampus. Saya masih senang melakukan ini itu tanpa tujuan yang jelas. Kenapa harus segera diakhiri?

Berkaca dari pengalaman pribadi tersebut, maka mungkin inilah yang terjadi pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya saat ini. We (saya memilih kata “we” dengan sengaja, karena itulah adanya dan bukan “it” ataupun “they”, karena fakultas mengacu pada kesatuan dan bukan gedung atau individu tertentu) are about to be twenty and it starts to feel that we are unclear about our upcoming future and tend to stay in our comfort zone. Saat ini kita mengasumsikan bahwa FP Unika Atma Jaya adalah salah satu prodi psikologi terbaik dengan mahasiswa yang berkualitas dan tepercaya kualitas lulusannya. Tapi kenyataan yang terpampang di depan mata adalah peminat ke FP Unika Atma Jaya dari tahun ke tahun menurun. Kalau seperti ini, slogan Atma Jaya “Terpercaya kualitas lulusannya” perlu ditelaah kembali baik di tingkat universitas maupun FP Unika Atma Jaya sendiri. Bukannya kalau kualitas baik, seharusnya calon mahasiswa akan datang sendiri? Kenapa begitu?

Tahun-tahun saat kita mengasumsikan bahwa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya adalah magnet bagi calon mahasiswa tampaknya perlu mulai diingat sebagai “kenangan” dan bukan lagi realitas. Kualitas lulusan yang tepercaya, mungkin perlu ditelaah kembali secara sistematis (walau saya tahu itu tidak pernah mungkin terjadi). Ke depannya fakultas (secara menyeluruh) perlu mulai memikirkan: mau apa FP Unika Atma Jaya ke depan? Bila FP Unika Atma Jaya berusia 60 tahun apa yang akan ia ceritakan kepada generasi itu? Kebijaksanaan apa yang akan ia turunkan? Pencapaian besar apa yang akan ia banggakan (layaknya seorang lansia yang bahagia dan bangga akan pencapaian karirnya)?

Fakultas tampaknya sedang limbung. Semua hidup dalam dunianya masing-masing. Kebersamaan yang pernah menjadi warna khasnya, saya rasakan berkurang. Semua sibuk dan membanggakan hal yang telah menjadi rutinitas. Tidak percaya? Lihatlah apa yang kita promosikan: kegiatan kampus seperti YPB, pramabim, kedatangan profesor tamu, dll. Inisiatif kitakah itu semua? Atau itu kejelian pihak eksternal?

Robotkah kita? Mungkin bukan, tapi kita seperti mulai kehilangan kemanusiaan. Mengajar, membuat soal, mengkoreksi, membimbing, buat tugas, datang kuliah, menyiapkan kegiatan mahasiswa, dan lain-lain sudah terjadi dengan rutinnya seperti robot yang diprogram setiap menitnya untuk melakukan berbagai macam hal. Setiap tahun ajaran baru diawali dengan pramabim, kuliah umum, mabim, diselingi kegiatan YPB dan serangkaian kegiatan mahasiswa lain. Tapi pernahkah kita duduk dan merefleksikan mau apa kita sebenarnya? Sungguhkah kita pernah memikirkan mau berkembang seperti apa fakultas? Kalau kita menjadi kompetitor untuk PTN dengan prodi Psikologi, sudah puaskah kita? Atau kita masih ingin berkembang: menjadi pusat ilmu psikologi ternama di Asia Tenggara, Asia dan Pasifik, serta level dunia? Kalau ya, apa yang sudah dilakukan? Pernah suatu ketika saya mencoba membuat langkah konkret dengan memberikan perkuliahan dalam Bahasa Inggris, tapi apa yang saya dapat? Dosennya sok jago bahasa Inggris, memberikan materi dalam bahasa Indonesia saja tidak beres, ditambah lagi dalam bahasa Inggris..

Mungkin menarik apa yang akan terjadi pada kebersamaan kita semua di sini. Apakah kita akan duduk dalam zona nyaman saja (prodi unggulan yang mampu bersaing dengan UI, UGM, dan UNPAD; tapi tiba-tiba tersusul PTN/PTS lain yang selama ini mungkin kurang kita pandang)? Atau kita mau keluar dari zona nyaman dengan membangun kolaborasi lintas institusi dalam negeri, mengejar standar internasional, atau hal-hal lain yang menantang diri kita untuk berkembang lebih pesat?

Selamat berpesta dalam keprihatinan, semoga apapun yang kita pilih sebagai langkah membawa kebahagiaan dan kebijaksanaan di saatnya nanti.

*) Penulis adalah staf pengajar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya sejak 2006