oleh: MARIA CONIPRA FEBRIANA*

Banyak yang ingin saya ceritakan tentang hidup saya di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Saya tidak pernah menyangka akan berada di dunia psikologi. Bagi saya, ini dunia yang sama sekali tidak saya ketahui sebelumnya. Apa itu psikologi? Belajar apa itu? Kerjaannya nanti ngapainWah, saya benar-benar tidak tahu itu dulu. Saya akan mengawali cerita saya dengan bagaimana dan mengapa saya bisa masuk ke FP Unika Atma Jaya.

Lulus SMA, cita-cita saya masuk ke universitas negeri dan mengambil jurusan Farmasi atau Teknik Lingkungan. Apa boleh dikata, keberuntungan tidak berpihak pada saya, selamat tinggal nniversitas negeri. Seperti kebanyakan orang yang menyiapkan cadangan universitas swasta saat tes di universitas negeri, saya pun melakukan itu. SMA saya menyediakan formulir Jalur Bebas Tes (JBT) untuk masuk ke Unika Atma Jaya. Saat itu orangtua saya berpikir bahwa saya harus punya cadangan universitas, kalau-kalau nantinya tidak diterima di universitas negeri.

Saya merasa bingung ketika harus memilih jurusan kuliah di Unika Atma Jaya. Dari sekian banyak jurusan, tidak ada jurusan kuliah yang saya minati. Sempat terlintas beberapa fakultas, yaitu ekonomi, kedokteran, dan teknik. Fakultas Ekonomi tentu saja tidak saya minati. Ini pengaruh ibu saya yang mengatakan bahwa kuliah di jurusan ekonomi nantinya mudah mendapat pekerjaan. Fakultas Kedokteran, nah ini memang sesuai dengan jurusan saya di SMA, yaitu IPA, teman-teman saya di IPA juga banyak yang mengambil jurusan kedokteran, namun lagi-lagi saya berpikir, sepertinya otak saya ini kurang sampai pada ilmu-ilmu kedokteran, nilai mata pelajaran biologi saya saat try out ujian nasional saja 40 (tertinggi 100).  Lalu Fakultas Teknik, saya merasa tidak mengerti tentang jurusan-jurusan di dalam Fakultas Teknik sendiri, jadi saya memutuskan tidak masuk ke sana. Terus, gimana caranya bisa sampai ke Fakultas Psikologi?

Caranya sangat mudah dan mungkin hampir tidak memiliki urgensi. Dengar-dengar gosip dari ibu-ibu arisan atau teman-teman mama saya, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya itu top markotop (meminjam bahasa Pak Bondan Winarno) ratingnya di antara Fakultas Psikologi lainnya di Jakarta. Jadilah formulir JBT itu saya isi dengan Fakultas Psikologi. Menunggu beberapa minggu, saya mendapat kabar bahwa saya tidak diterima di JBT, tapi saya punya kesempatan untuk tetap masuk FP Unika Atma Jaya tanpa tes dengan syarat bahwa saya berada di grade B. Berhubung saya menghindari adanya tes-tes itu, maka saya minta orangtua saya untuk menyetujui saja untuk membayar sejumlah dana di grade B itu. Saya diterima sekitar bulan Februari atau Maret 2008. Selesai Ujian Nasional, saya mempersiapkan diri untuk mengikuti bimbingan belajar ujian SMPTN. Saya melupakan sejenak tentang diterimanya saya di FP Unika Atma Jaya. Selesai ikut ujian SMPTN, saya berdoa sama Tuhan saya, si “mas gondrong”, Yesus, bahwa apapun hasilnya, berarti itu nasib saya yang akan saya jalani. Ternyata oh ternyata, saya tidak diterima di Universitas Negeri dan itu berarti saya harus masuk ke universitas cadangan saya, yaitu FP Unika Atma Jaya. Mulailah saya merasa tersesat, entah di mana.

Petualangan dimulai dengan adanya Pramabim (Pra Masa Bimbingan) dan Mabim (Masa Bimbingan). Suasananya jelas berbeda dengan saat saya pertama kali masuk SMA. Anggapan saya bahwa Pramabim dan Mabim ini adalah seperti saat ospek SMA, ternyata salah. Saya merasa suasana yang dibangun adalah untuk menjadikan orang-orang yang baru masuk FP Unika Atma Jaya ini seperti keluarga. Saya merasa senang dengan suasana yang dibangun melalui Pramabim-Mabim ini, karena tidak membuat saya merasa terancam. Sebaliknya, membuat saya yang sedang bingung menjadi orang yang lumayan mengenal psikologi.

Perkuliahan di tahun pertama diawali dengan pertanyaan dari setiap dosen di setiap kuliah yang berbeda tentang, “Mengapa kalian masuk Fakultas Psikologi?” Saya sama sekali tidak berani menjawab pertanyaan itu karena tidak ada yang bisa saya jelaskan tentang mengapa saya masuk psikologi. Ketika ada dosen yang mempertanyakan satu per satu ke semua mahasiswanya, saya jawab saja karena saya ingin membantu orang, padahal saya hanya ikut-ikutan saja dengan jawaban teman sebelum giliran saya. Sejujurnya saya sangat bosan dengan pertanyaan itu dan sangat malas untuk menjawab. Jika mendengar jawaban-jawaban teman satu kelas (seksi A di tahun 2008), saya merasa mereka punya minat, bakat, dan tujuan yang jelas untuk masuk ke dunia psikologi ini. Ada yang mengatakan karena selama ini mereka jadi tempat curhat teman mereka sehingga mereka merasa bisa melanjutkannya untuk jadi tempat curhat dengan belajar psikologi, ada yang mengatakan sejak SMP memang sudah bercita-cita jadi psikolog, ada yang mengatakan belajar psikologi sambil berobat jalan, dan lainnya. Bagi saya sendiri, berada di FP Unika Atma Jaya di awal tahun itu adalah karena saya tidak ada tempat naungan mau berkuliah di mana lagi. Meskipun demikian, perlahan-lahan tahun pertama ini saya jalani dengan bahagia karena suasana yang menyenangkan. Dosen-dosen muda yang maunya dipanggil “Mas” atau “Mbak”, lebih menciptakan suasana bersahabat bagi saya.

Akhir tahun pertama, menuju awal tahun kedua, saya mulai merasa bosan dengan kehidupan saya di FP Unika Atma Jaya. Belajar, belajar, dan belajar saja yang saya lakukan, benar-benar kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Saran dari setiap orang yang saya temui adalah mereka menyuruh saya ikut kegiatan kampus. Saya pernah mencoba berada di KSR Unika Atma Jaya, tapi hanya bertahan sampai level pelatihan mereka saja karena waktu kegiatan yang tidak cocok. Salah satu dosen Unika Atma Jaya, yang juga saudara saya, menasehati saya agar ikut kegiatan di organisasi FP Unika Atma Jaya, daripada berkeluh kesah soal bosan berada di rumah. Keluhan saya tentang bosan berada di rumah itu sepertinya mengganggu orangtua saya, jadi orangtua saya pun menyuruh saudara saya itu untuk menasehati saya. Akhirnya mengikuti saran dari orangtua dan saudara saya itu, saya mendaftarkan diri menjadi panitia acara semacam Pra Mabim-Mabim yang namanya Kembar Siam. Entah apa alasannya, saya tidak diterima. Tidak diterima di kepanitiaan itu membuat saya merasa kecewa dan takut ditolak, tapi saya mencoba lagi dan karir organisasi pertama saya adalah menjadi panitia acara KUNIL (Kunjungan Ilmiah) yang diadakan oleh HIMAPSI. Mengetahui bahwa saya diterima jadi panitia KUNIL membuat saya sangat senang. Di sinilah awal mula saya belajar soal organisasi kampus, saya yang saat SMA tidak aktif berorganisasi, hingga saat ini suka melibatkan diri dalam organisasi di FP Unika Atma Jaya. Saya menemukan kesenangan dalam melihat dinamika kepanitiaan di FP Unika Atma Jaya ini, santai tetapi juga serius.

Tahun ketiga saya di FP Unika Atma Jaya, menuju pada peminatan apa yang harus diambil. Kebimbangan kembali muncul pada diri saya, mana lagi yang harus saya pilih? Saya sempat kesal dengan adanya peminatan ini, kenapa harus ada peminatan? Kenapa tidak semuanya saja dipelajari? Bahkan untuk menyalurkan kebingungan saya ini, topik alat ukur yang saya usulkan pada kelompok kerja saya saat di mata kuliah Konstruksi Tes Psikologi adalah menciptakan alat ukur bakat untuk menempatkan orang sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan saya memutuskan masuk ke peminatan Psikologi Klinis. Berada di peminatan Psikologi Klinis ini awalnya menyenangkan, tetapi lama-kelamaan merasa bahwa beberapa mata kuliah yang pelajarannya diulang-ulang. Terima kasih pada dosen-dosen di Psikologi Klinis, untungnya meskipun beberapa mata kuliah itu topiknya berulang, mereka bisa membawa dengan style yang berbeda-beda, dan sharing mereka terhadap kasus-kasus yang pernah mereka tangani sungguh memberikan inspirasi.

Akhir tahun ketiga hingga awal tahun keempat, FP Unika Atma Jaya mengadakan perubahan kurikulum dan angkatan 2008 menjadi percobaan pertama mata kuliah Proses Belajar Manusia (PBM), Information Communication Technology (ICT), dan Kuliah Kerja Praktik (KKP). Perubahan kurikulum ini saya awali dengan kekesalan karena harus membayar SKS lebih untuk ketiga mata kuliah ini dan akhirnya menyerah untuk melakukan protes dan menjalani kuliah.  Dari ketiga mata kuliah ini saya cukup mendapatkan pengalaman baru, terutama di mata kuliah KKP yang mengharuskan mahasiswanya untuk mempraktikkan secara nyata ilmu-ilmu psikologi yang telah didapatkan. KKP yang saya jalani sungguh berkesan, yaitu bekerja di Yayasan Putera Bahagia (YPB) yang bekerjasama dengan FP Unika Atma Jaya. Bersama YPB saya mengalami pertemuan dengan orang-orang lama di FP Unika Atma Jaya, tetapi mereka seperti orang-orang baru, karena para dosen yang terlibat dalam YPB ini menjadi seorang yang berbeda, begitu pula teman-teman dan senior-senior saya.

Sekarang di tahun keempat, saya sibuk dengan skripsi. Saya sudah mengambil skripsi di semester tujuh tetapi tidak sempat saya kerjakan karena fokus saya ada pada tiga mata kuliah perubahan kurikulum tersebut. Keberadaan saya di tahun keempat membuat saya kangen dengan apa yang sudah saya lalui: kebersamaan dan pembelajaran. Di tahun keempat ini saya merasa bahwa dalam FP Unika Atma Jaya ini saya sudah mengalami sesuatu yang tidak sia-sia. Semuanya terasa bermakna mulai dari kesenangan saya berorganiasasi di FP Unika Atma Jaya sampai dengan kekesalan saya pada FP Unika Atma Jaya. Mengisi waktu saya selain mengerjakan skripsi, saya masih tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan di dalam FP Unika Atma Jaya. Rasanya saya tidak mau melewatkan hal-hal menarik ini di akhir tahun kuliah saya. Oleh karena itulah saya kemudian mengikuti lomba media campaign dalam rangka memeriahkan acara lomba Lustrum FP Unika Atma Jaya dan menuliskan pengalaman saya selama empat tahun di FP Unika Atma Jaya di sini.

Selamat ulang tahun yang kedua puluh, FP Unika Atma Jaya! Terima kasih telah memberikan empat tahun kebersamaan dan banyak sekali pembelajaran. Semua elemen yang ada di FP Unika Atma Jaya telah membantu saya memahami apa itu psikologi, mengajarkan saya untuk lebih menghargai orang lain, mengajari saya berorganisasi, dan membuat saya merasakan kuliah yang menantang. Mungkin inilah yang disebut sebagai “habis sepah dibuang, manis didapat”.

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008