oleh: YAPINA WIDYAWATI*

Tidak terasa…betul-betul waktu berlalu begitu cepat, 6 tahun yang lalu saya kembali ke sini, ke tempat saya dulu belajar tentang perilaku manusia dan masih sampai sekarang. Saya datang untuk belajar atau bekerja seringkali  keduanya seperti berlomba, berangkat ke kampus atau ke kantor, rasanya tidak berbeda. Ternyata memang saya belajar dan bekerja dalam waktu dan di tempat yang sama.

Masa awal saya bekerja, saya belajar untuk bisa mengubah persepsi saya bahwa saya bukan belajar dengan dosen saya dulu tapi bekerja dengan kolega saya sekarang. Kecemasan dan rasa tidak percaya diri seringkali datang. Saya belajar bahkan untuk sekedar menelpon dosen yang dulu saya anggap ‘menakutkan’, untuk mengajak rapat sebagai kolega sekarang. Saya bekerja dengan orang-orang yang sejak saya belajar dulu amat saya kagumi. Mereka mengajar saya bukan hanya tentang ilmu tapi juga tentang kehidupan, bahkan sampai sekarang. Dosen yang sekarang adalah kolega saya, mengajarkan saya tentang kegigihan berjuang dan bekerja dalam kondisi terburuk sekalipun, mengajarkan saya untuk mempunyai banyak pilar dalam hidup untuk berjaga seandainya satu pilar runtuh, mengajarkan saya untuk melihat dan memahami berbagai sudut pandang baik gender maupun budaya, mengajarkan saya untuk melakukan yang terbaik dan menyerahkan semuanya pada yang kuasa, dan pelajaran lain tentang kehidupan.

Saya tidak tahu dan tidak terlalu yakin bisa menjadi sumber inspirasi seperti mereka. Saya juga belajar dari interaksi saya, yang kadang menyebalkan, untungnya lebih banyak menyenangkan, dengan rekan-rekan saya. Makan bersama (tak lupa minum kopi spesial), foto-foto bersama, pulang bersama, cela-celaan tiada akhir tiada sakit hati, berargumentasi bahkan ngomel dan ngedumel adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan bekerja dan belajar saya. Terima kasih teman-teman…

Tidak terbatas pada kolega, tapi juga para mahasiswa membuat saya belajar banyak hal tentang kehidupan. Saya belajar tentang pengasuhan dengan melihat dan punya kesempatan satu atau dua kali bertemu dengan beberapa orangtua. Saya belajar tentang hubungan persaudaraan saat mengetahui bagaimana kakak memperjuangkan adik untuk tetap kuliah atau pun saat adik mengagumi kakaknya yang sudah sukses dan juga bagaimana sibling rivalry sampai usia dewasaitu benar adanya (dalam manifestasi yang berbeda). Saya belajar bagaimana sebagian mahasiswa berjuang dan berhasil tapi juga saya belajar dari mereka yang pasrah dan gagal. Saya mengagumi mahasiswa yang ‘tahan banting’ menghadapi sakit yang mendera, himpitan keuangan, masalah keluarga, dan masalah lain yang membuat kuliahnya tidak lancar. Saya bangga, ternyata masih banyak mahasiswa yang ‘kuat’ di antara yang manja. Mahasiswa mengajarkan saya terampil mengambil keputusan. Saya belajar untuk menata hati dan pikiran ketika dilema menghampiri. Seandainya mereka tahu apa yang saya rasakan ketika surat-surat permohonan dispensasi dan wajah memelas (ataupun marah) datang.

Seperti orangtua dan anak, interaksi saya dan mahasiswa saya rasakan sebagai interaksi yang saling melengkapi, dalam arti yang luas. Tidak terbatas saya yang membimbing mahasiswa tapi juga mahasiswa memberikan insight yang luar biasa berpengaruh dalam hidup saya. Namun satu hal yang pasti, berada bersama mahasiswa membuat saya merasa selalu muda dan dinamis bahkan terkadang saya lupa umur kronologis saya J. Terima kasih mahasiswa….

Di luar rekan-rekan dosen maupun karyawan dan mahasiswa, saya juga banyak mendapatkan pelajaran dari klien. Klien orangtua (dengan konseling yang insightful juga buat saya) maupun organisasi lain yang bekerja sama dengan fakultas ini. Bertemu dan bekerja dengan individu lain dari organisasi lain dan stakeholder-nya, membuat mata saya semakin terbuka dengan berbagai penerapan praktis dan nyata dari ilmu yang selama ini saya pelajari lewat bacaan. Pengalaman ini membuat saya belajar untuk mengkomunikasikan ‘bahasa psikologi’ yang diterjemahkan dalam ‘bahasa lain’. Bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat di luar kampus, di luar Jakarta, bahkan di pedesaan luar Jawa memberikan warna tersendiri bagi kehidupan saya. Pikiran saya semakin terbuka dan saya belajar memahami sudut pandang mereka. Pengalaman saya memang masih sedikit sekali, tapi saya sangat memaknainya dan bersyukur mendapatkannya.

Fakultas Psikologi adalah salah satu yang menstimulasi perkembangan saya baik dari aspek kognitif, fisik, maupun sosial emosional (mengingatkan saya pada kuliah Psi. Perkembangan). Fakultas menghadirkan kesempatan yang luas bagi saya untuk bertemu dengan banyak orang dan merasakan banyak pengalaman baru, yang mungkin bisa jadi novel sendiri kalau saya tuliskan. Kesempatan itu selalu membuat hidup saya seperti roller coster, perasaan ada kupu-kupu dalam perut (aneh juga kalau ditulis dalam bahasa ibu). Perasaan itu membuat saya (sampai saat ini, tidak tahu sampai kapan, semoga seterusnya J) masih betah berada di tempat saya bekerja dan belajar ini.

Tulisan ini membuat saya semakin menyadari bahwa belajar dan bekerja buat saya seperti dua sisi mata uang. Membuat tulisan ini juga membuat saya semakin merasakan 20 tahun usia Fakultas Psikologi, dengan 10 tahun ada saya di dalamnya sebagai mahasiswa dan dosen. Saya sungguh sangat bersyukur…Selamat bertambah usia almamater dan kantorku!!

*) Penulis adalah alumni FP UAJ angkatan 1997, menjadi staf pengajar FP UAJ sejak 2006, kini menjabat Wakil Dekan 1 FP UAJ