oleh: JULIANA MURNIATI*

Masih hangat dalam ingatan saya intensitas wira-wiri pengiriman dokumen antara Gedung G (FKIP) dan Rektorat di awal 1992. Maklum, kala itu belum ada internet, sehingga semua berkas harus dikirimkan lewat orang. Apa sih yang membuat kehebohan waktu itu? Yaaa… saat itu Atma Jaya sedang berupaya keras menghadirkan satu fakultas lagi di lingkungannya, dan pilihan jatuh pada pembukaan Fakultas Psikologi. Peluang sedang ada dan harus segera dikejar, agar program studi ini bisa mulai beroperasi pada Agustus 1992. Akhirnya dia lahir juga tepat tanggal 8 Juni, 20 tahun silam.

Kini fakultas ketujuh di lingkungan Atma Jaya itu telah bertumbuh bak dewasa muda. Banyak yang meliriknya, tapi tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai pesaing. Maklum… dia tidak jelek, jika tidak ingin dikatakan sebagai ‘sosok’ yang cantik. Jadi pantas jika banyak dilirik oleh pihak internal maupun eksternal.

Lalu bagaimana dengan “saya” sebagai salah satu bagian dari “sang sosok tadi” yang banyak dilirik? Saya sadar, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FP Unika Atma Jaya) bukan lagi unit yang kecil. Suasana penuh kenyamanan, kehangatan, dan kekeluargaan yang sangat menonjol di tahun-tahun awal kini sudah sangat berubah. “Anak-anak” sudah besar, punya aspirasi, kebutuhan sendiri dan berbeda-beda, yang tidak jarang memunculkan benturan satu sama lain.

Rasa lelah akibat ketidakharmonisan itu seringkali memunculkan kerinduan akan ‘masa kecil’ dulu, seperti lantunan Nikita “di waktuku masih kecil, gembira dan senang; tiada duka kukenang, tak kunjung mengerang”. Masa lalu memang selalu indah untuk dikenang, tetapi tidak realistis jika ingin dihadirkan lagi pada situasi sekarang.

Dulu memang nyaman, tetapi tidak bebas bergerak ke arah yang diinginkan. Demi keamanan, “anak-anak” harus selalu dalam “kepakan sayap orangtua”. Kini “saya” tidak lagi kecil, dan “orangtua” tidak bisa lagi banyak menentukan. Ada banyak tantangan, sekaligus peluang yang bisa dan boleh dijumpai / dihadapi sendiri.

Menarik sih… jendela terbuka lebih lebar, tampaklah horizon yang lebih luas, ada kesempatan eksplorasi yang lebih banyak. Sesekali datang mendung kelabu, disambung dengan hujan bercampur angin kencang; itu bagian dari hidup.  Setelah itu toh sering muncul pelangi dengan warna-warninya yang menyadarkan “saya” ada pihak yang kadang-kala dilupakan andilnya: “pelangi..pelangi..ciptaan Tuhan”.

Masih melanjutkan lagu Nikita di atas, maka hari-hari ini “melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut”. Ibu Widyarto dan Ibu Mariana, dua sosok dengan perjuangannya dalam ‘membidani’ kelahiran fakultas kita tercinta. Bahkan hingga hari inipun Ibu tidak pernah ‘lenyap’ dari gedung C. Saya yakin “di doa ibuku, namaku disebut” seperti lantunan Nikita. Ibu Mariana dan Ibu Wid, terima kasih dan terima kasih! Tanpa sentuhan personal Ibu, saya tidak yakin kalau hari ini kita boleh merayakan usia 20 tahun FP-Unika Atma Jaya. Selamat berulang tahun keluarga besar fakultas tercinta!

*) Penulis adalah staf pengajar FP UAJ sejak 1991, kini menjabat Dekan FP UAJ