Oleh: MICHELLE CHOW*

Aku telah memiliki keinginan untuk belajar psikologi sejak SMP. Hal tersebut diawali ketika aku membaca buku-buku karya Torey Hayden, yang menceritakan tentang perjuangannya membantu anak-anak dengan kelainan mental. Membaca bukunya membuatku tertarik untuk belajar tentang gangguan-gangguan mental, penyebabnya dan lain sebagainya. Akhirnya, masuklah aku ke Fakultas Psikologi.

Memasuki semester ke dua, aku mulai berpikir, pembelajaran yang kudapat di psikologi benar-benar tidak seperti bayanganku sebelumnya. Memasuki semester 4, aku mulai bertanya-tanya sebenarnya aku cocok ga seh di psikologi? Aku tidak pernah berpikir aku akan menghadapi perkuliahan yang kuhadapi sekarang. Well, memang sebelumnya aku juga ga tau seh di psikologi belajar apa. Yang ada di bayanganku cuma ingin belajar tentang gangguan-gangguan mental yang terjadi pada manusia, ataupun hal-hal lain tentang manusia. Ternyata dalam perkuliahan ini apa yang kubayangkan akan kupelajari, telah kupelajari namun ternyata juga ada perkuliahan observasi, wawancara, konstruksi tes, dan lain-lain, yang tidak pernah kubayangkan akan dipelajari.

Di dalam perkuliahan psikologi ini, hanya semester-semester pertama saja kita belajar mengenai teori dan selebihnya hampir dipenuhi dengan praktek, proyek, dan lain-lain. Banyak sekali kerja kelompok yang harus dikerjakan. Selama di perkuliahan ini aku merasa tampaknya aku lebih cocok dengan tugas individu. Untuk tugas kelompok, tampaknya cukup sulit. Belum lagi konflik dalam kelompok, anggota kelompok yang tidak dapat diajak bekerja sama, ada yang tidak mau bekerja, dan sebagainya. Akhirnya stres atau tekanan-tekanan yang muncul bukan dari sulitnya tugas, melainkan dari orang-orang sekeliling.

Terlebih lagi ketika aku harus tidak lulus di salah satu mata kuliah yang merupakan tugas proyek. Tidak ada hafalan yang perlu kupelajari. Semuanya tugas lapangan. Aku tidak pernah menyangka kalau aku tidak akan lulus pada mata kuliah tersebut. Apalagi mata kuliah itu berantai sehingga semester berikutnya aku tidak dapat mengambil dua mata kuliah. Aku terbiasa mendapat nilai bagus sejak di bangku sekolah. Dalam perkuliahan pun nilaiku bagus-bagus sehingga hal ini cukup membuatku tertekan. Bahkan ketika aku harus mengulang mata kuliah tersebut, awalnya aku benar-benar masih terbayang pengalaman di masa lalu mengenai ketidaklulusan dan itu benar-benar mempengaruhi aku sehingga aku jadi takut apabila aku harus tidak lulus lagi.

Namun, kemudian bila aku mengingat lagi beberapa tahun yang kuhabiskan di psikologi, aku belajar bahwa ketidaklulusan ini bisa jadi sebuah pembelajaran untuk diriku. Aku belajar bagaimana harus bekerja dalam kelompok, bagaimana aku harus menetapkan ekspektasiku terhadap orang lain. Menurutku, yang membuat aku atau mungkin teman-teman lain yang sering sebal ataupun stres sendiri karena tidak dapat nilai yang diinginkan, maupun karena anggota kelompok yang menyebalkan, semua karena ekspektasi kita.

Kita berharap dapat nilai A, namun ternyata yang muncul B-. Bila ekspektasi kita terlalu besar, tentunya nilai tersebut benar-benar sangat mengecewakan. Terutama bila kita berharap anggota kelompok yang lain itu harusnya punya inisiatif bekerja namun ternyata dia tidak punya inisiatif sama sekali. Aku belajar kalau dalam menghadapi orang seperti ini, kita ga bisa memaksakan apa yang kita inginkan ke dia. Karena dia adalah dirinya, kita adalah kita. Kita tidak bisa mengubah orang lain, lebih sulit tepatnya. Yang kita bisa lakukan adalah mengubah diri sendiri dan cara berpikir kita. Ini untuk membantu supaya kita tidak mudah stres dan bisa lebih menikmati apa yang kita dapatkan. Berharap pada sesuatu boleh, tapi kita pun harus tahu bahwa tidak segala sesuatu bisa kita dapatkan. Bukan pasrah tapi menerima kenyataan yang ada. Namun, usaha juga tetap harus dilakukan, tidak hanya menerima.

Banyak hal yang kupelajari selama aku berkuliah di psikologi. Selain materi-materinya, banyak hal tentang kehidupan yang bisa kuaplikasikan. Walau awalnya aku bertanya-tanya apakah aku cocok masuk psikologi, apakah pilihanku tidak salah, sekarang aku dapat berkata tentu saja tidak salah. Mungkin awalnya banyak masalah yang dihadapi, namun ketika kita mulai belajar untuk menyelesaikan masalah tersebut dan menerima kenyataan yang ada, segala sesuatu akan baik-baik saja. Aku telah memilih psikologi sebagai jurusan yang aku masuki dan aku akan melakukan yang terbaik dalam bidang ini.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya  angkatan 2009