Oleh: NADYA REGINA PRYANA*

Banyak hal yang saya alami ketika menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Banyak suka duka, pengalaman, dan pelajaran yang tidak dapat dirumuskan dalam selembar kertas A4, A3, atau A1 sekalipun. Meski demikian, ada satu hal yang paling saya ingat sejak menjadi mahasiswa tahun pertama sampai kini, saat hampir memasuki tahun keempat.

Sepanjang kuliah di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, saya paling kesal dengan mahasiswa fakultas lain yang duduk di bangku di Gedung C lantai 4, 5, dan 6. Terutama mahasiswa fakultas lain yang duduk-duduk di lantai 4, tepat di depan sekretariat Fakultas Psikologi. Silakan ditanya dan dikonfirmasi ke teman-teman saya, saya sudah pernah meminta mereka pindah, baik secara halus, maupun secara tegas tanpa basa-basi. Dari melakukan protes ringan (dengan duduk tepat di samping bangku yang mereka duduki), sampai menyindir. Saya tidak pernah paham, ada saja mahasiswa fakultas lain yang asyik duduk-duduk di depan sekretariat Fakultas Psikologi (biasanya mereka memenuhi meja dengan kertas, buku folio, dan kalkulator), sedangkan anak-anak Fakultas Psikologi sendiri malah duduk melantai di sebelah mereka.

Sudah pernah protes? Oh, jangan ditanya. Saya pernah protes ke Wadek II, Sekjen KOMPSI, dosen random yang sedang lewat di depan saya ketika saya sedang kesal, sesama mahasiswa psikologi, bahkan protes ke mahasiswa fakultas lain yang duduk di bangku itu. Jawabannya selalu sama: bangku itu dibeli bukan dengan uang fakultas, maka tidak dapat dikatakan sebagai properti milik fakultas. Selama bangku-bangku itu merupakan properti dari universitas, maka siapa saja berhak untuk duduk di sana.

Jawaban itu bukan mendiamkan saya, tapi malah membuat saya semakin kesal. Kalau demikian, mengapa prinsipnya tidak dapat berlaku bagi mahasiswa Fakultas Psikologi sendiri? Jika ada mahasiswa Fakultas Psikologi yang mengerjakan tugas di Hall Y, Hall B, mengapa harus diusir? Hall kan area milik universitas.

Ah, sudahlah, begini saja dibuat ribut. Jawaban itu yang pada akhirnya saya dapat. Selalu seperti itu. Padahal saya tidak sedang membuat keributan, saya sedang bertanya. Bagi saya, saya patut mempertanyakan hak-hak mahasiswa Fakultas Psikologi. Bukan sekedar hak untuk duduk di bangku-bangku yang ada di Gedung C lantai 4, 5, dan 6, tapi hak untuk mendapatkan tempat yang layak untuk berkumpul. Hak untuk menghabiskan waktu berkualitas. Hak untuk mempunyai tempat untuk rapat, berdiskusi, dan bercerita. Hak untuk memiliki area kondusif untuk mengerjakan tugas, menulis, atau membaca. Hak untuk melakukan aktivitas dan peran sebagai mahasiswa.

Bagi saya, diskusi dan berdinamika dalam kelompok adalah nyawa dari aktivitas mahasiswa Fakultas Psikologi. Aktivitas itulah yang membuat mahasiswa psikologi hidup. Aktivitas itulah yang membuat jantung mahasiswa psikologi selalu berdenyut. Diskusi dan berdinamika dalam kelompok membawa warna-warni dan menitipkan cerita yang selalu bisa ditertawakan, dikenang, dan disimpan. Semakin banyak tempat untuk melakukan aktivitas ‘bertahan hidup’ tersebut, semakin berkembangbaiklah mahasiswa FP UAJ.

Layaknya ulangtahun teman terdekat, saya berniat untuk membelikan kado bagi fakultas. Kado itu belum dapat saya berikan sekarang, namun saya sudah berjanji sejak tahun pertama saya: kontribusi pertama saya setelah lulus dari fakultas ini adalah membelikan bangku dengan pertimbangan ergonomi yang baik untuk berdiskusi, dan hanya dapat digunakan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Selamat ulang tahun, teman tersayang, kadomu menyusul, ya!

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2009