I WILL HAVE SURVIVED!

oleh: PATRICIA SONIA*

“Hari Minggu? Saya ujian… Enggak bisa.”

Kata-kata itu menjadi tanda tanya bagi teman-teman yang menghubungi saya pada semester lima lalu. Mereka berulang kali berusaha mengonfirmasi, “Minggu lho, Nya. Hari Minggunya! Masa lo ujian?”

Berulangkali pula saya bilang “Iyaaa… Gue enggak bisa… Ada ujian!”

Saya baru saja selesai melewati tiga semester neraka jahanam di fakultas Psikologi. Bagi angkatan 2009 yang baru saja mengalami perubahan kurikulum, semester tiga hingga lima bukanlah semester yang bisa santai-santai di weekend. Kalau pun masih bisa santai, maka weekdays-nya akan dipenuhi dengan tugas dan deadline.

Puncak dari tiga semester jahanam di Fakultas Psikologi, menurut saya, berada di semester lima. Saya harus menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas Konstruksi Tes, membuat modul pelatihan, menghafalkan materi Metodik Tes, mencari narasumber PIO, membuat paper Klinis, mengurus tugas Proses Belajar Manusia, dan melatih diri di Dasar Konseling. Beruntung bagi saya, di semester lima ini saya selalu sekelas dengan peer group saya. Bisa dipastikan kami selalu satu kelompok di hampir semua tugas kuliah.

Minimal sebulan sekali, kelompok kami akan membuat janji untuk menginap bersama di rumah kost salah satu anggota. Kalau sudah berkumpul, kami punya tugas masing-masing. Satu orang sibuk mengerjakan Konstruksi Tes di meja belajar, dua orang lagi sibuk membuat materi tugas Pelatihan, sisanya guling-gulingan di kasur menunggu giliran kerja. Saya masih ingat bagaimana kami harus bertualang mencari makanan di malam takbiran, bagaimana kami berdiskusi membuat item alat tes, bagaimana kami pusing mengatur keuangan kami karena harus keluar uang untuk berbagai hal, hingga bagaimana kami menyadari bahwa rumah kost teman kami punya ‘penunggu tak terlihat’.

Banyak canda tawa terekam di memori saya. Di sela-sela kesibukan itu, kami masih punya waktu untuk memesan martabak di tengah malam, menonton video Cherrybelle, mendengarkan curhat, dan menghafal materi Metodik Tes bagi yang akan praktikum.

Kesibukan mahasiswa FP UAJ terkadang menjadi tidak masuk akal bagi orang-orang di luar sana. Saya sendiri pernah disangsikan oleh teman saya, sebut saja mantan pacar, yang protes karena saya tidak pernah memiliki waktu untuk menghubungi dia. Teman saya yang lain akhirnya turun tangan dan memarahi oknum ini, “Lo pernah tau enggak ada fakultas yang hari Minggunya dipake buat ujian? Pernah tau kalo ada fakultas yang kalo ngerjain tugas bisa sampe enggak tidur? Tuh,Fakultas Psikologi Atma!”. Sekadar informasi, teman saya tersebut adalah mahasiswa Unika Atma Jaya jurusan lain, sedangkan si oknum bukan mahasiswa Unika Atma Jaya maupun Jurusan Psikologi.

Berbagai kesibukan baik kuliah maupun organisasi membuat saya bersyukur, walaupun kadang jadi kurang tidur. Itu semua membuat saya berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih mengerti dengan diri saya sendiri maupun dunia. Saya menyadari bahwa tumpukan tugas yang kadang membuat saya nyaris gila ini adalah konsekuensi dari pilihan saya masuk ke Fakultas Psikologi (yang katanya) terbaik. Tugas-tugas ini menjadi bagian dari salib saya yang nantinya akan membawa saya dalam kemenangan meraih gelar S1, sarjana Psikologi. Sekarang, di semester keenam, kesibukan saya mulai berkurang dan tidak “segila” semester sebelumnya. Saya dan teman-teman lain sudah berhasil melewati tiga semester ini dengan selamat. Bagaimana dengan kamu?

Selamat ulang tahun Fakultas Psikologi UAJ. Semakin luar biasa, on fire, dan jago ya! =)

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2009