Oleh: KIDUNG PASKALIS*

Di awal hingga pertengahan kelas 3 SMA, hampir semua teman saya sudah mengetahui dengan jelas akan melanjutkan kuliah ke mana. Saya? Well, saya orang yang terlalu santai sehingga tidak memikirkan hal itu. Ketika itu, minat saya terbagi antara mendesain pakaian dan ilmu komunikasi. Saat berbincang dengan orangtua, Ibu melarang saya untuk masuk jurusan desain karena menurut beliau, saya tidak pernah terlihat memiliki minat di bidang itu dan tidak bisa menggambar. Hal yang Ibu katakan masuk akal. Pupuslah harapan saya memilih jurusan desain. Saya juga berbagi mengenai keinginan saya untuk masuk jurusan ilmu komunikasi. Ayah setuju, tapi beliau ingin saya mencoba ujian di UI. Lagi-lagi, karena terlalu santai, saya malas mencoba untuk masuk UI.

Nasib saya masih ngalor-ngidul sampai Ibu bilang, “Kamu kan dulu pernah mau masuk psikologi. Kenapa ngga masuk Atma aja?” Akhirnya saya mencari tahu tentang pendaftaran di Atma Jaya. Saya malas mengurus berkas-berkas JBT, karena rata-rata nilai saya tidak cukup tinggi. Akhirnya saya mendaftar  untuk tes masuk. Saya ingat betul saat datang ke kampus  pertama kali untuk mengurus pendaftaran bersama seorang teman yang juga mendaftar ke Fakultas Kedokteran. Suasana kampusnya sangat nyaman. Saya menikmati suasana hiruk-pikuk dan keramaian kampus ketika itu. Saya mendaftar untuk satu fakultas saja yaitu psikologi. Ya, saya mengosongkan pilihan selain psikologi. Ketujuh fakultas lain yang ada di Atma Jaya buat saya tidak menarik sama sekali.

Pada saat hari tes penerimaan mahasiswa baru, saya datang satu jam lebih cepat. Waktu itu saya menjalani tes di YB 203 (kalau tidak salah). Saya juga ingat betul banyak orang yang membawa buku dan belajar sebelum tes dimulai, sementara saya membawa novel Eclipse. Tes berlangsung dan hasilnya saya diterima dengan grade A.

Ketika libur kelulusan sudah hampir selesai, saya dilanda kecemasan. Saya bisa dikatakan memiliki reputasi yang bersinar saat SMA. Nilai saya pas-pasan, tetapi saya adalah kesayangan guru-guru. Saya populer dan punya banyak teman. Karakteristik siswa di SMA saya juga homogen. Hal ini membuat saya semakin cemas mengingat sangat heterogennya karakteristik orang-orang di  Fakultas Psikologi. Jujur saja, saya takut meninggalkan kenyamanan itu dan melangkah ke dunia baru yang namanya KULIAH sendirian.

Pengenalan kampus saya lewati dengan diam dan jaim. Ya, saya memang menjaga jarak dengan orang lain dalam situasi baru. Saya takut untuk membuka perbincangan dengan anggota kelompok saya pada waktu itu. Hanya ada satu orang selain saya di dalam kelompok yang merupakan mahasiswa psikologi, yaitu Meilia Satia. Setelah perkuliahan dimulai, kami mahasiswa 2009 (LUAARRRR BIASSAAAAA)[1] harus menjalani sebuah acara yang berbeda dari angkatan di atas maupun di bawah kami. Yup, kami adalah angkatan TANPA Pramabim-Mabim. Acara yang harus kami jalani bertajuk KEMBAR SIAM, yang berlangsung selama tiga  bulan. Hampir selama itu pula kami harus ke kampus dengan baju berwarna sama setiap satu minggu dan tidak boleh lupa mengenakan kain ungu di pergelangan tangan kanan kami.

Selama masa kuliah semester  pertama, entah bagaimana awalnya, saya menjadi dekat dengan beberapa orang. Orang pertama adalah seorang mahasiswi yang cerdas sekaligus seorang pianis. Ia cukup sering mengalami perubahan suasana hati alias mood. Mahasiswi ini merupakan pemenang mahasiswa berprestasi tahun 2011. Orang kedua juga seorang mahasiswi yang pintar, sangat pintar mungkin, namun cukup lambat menerima informasi baru. Orang ketiga adalah seorang mahasiswa ambisius yang kurang bisa diam. Mahasiswa ini memiliki kemampuan untuk bekerja dengan cekatan. Sekarang mahasiswa ini sedang menjabat sebagai ketua sebuah UKM di Fakultas Psikologi. Orang keempat adalah seorang mahasiswi pintar dan memiliki pengetahuan umum yang cukup unik. Orang terakhir adalah seorang mahasiswi yang dijadikan ‘ibu’ oleh kami berlima. Saya ingat betul berbagai benturan dihadapi oleh kami berenam. Tidak jarang kami berkelahi dan saling cekcok mulut. Akan tetapi, toh sampai sekarang kami masih bisa bersahabat. Saya merasa, mereka adalah keluarga kecil yang hanya dapat ditemukan di FP UAJ.

Setahun yang lalu, seorang teman SMA berkata kepada saya, “Gua bangga Cal, sama lu. Sekarang lu udah jauh lebih dewasa. Kayaknya lu bener-bener kuliah di tempat yang tepat deh.” Buat saya, kesan yang ditangkap oleh teman ini adalah karena Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya yang sangat kondusif dan suportif untuk saya. Di tempat ini, saya diajarkan menerima seluruh kelebihan dan kekurangan orang. Di tempat ini, saya diajarkan menghargai semua pendapat dan pandangan orang. Di tempat ini, saya belajar tentang individual differences yang harus ditolerir. Di tempat ini pula, saya belajar tidak lagi melihat suatu kejadian secara hitam- putih.

Jadi terimakasih yah, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Karenamu, saya jadi mempunyai keluarga kecil. Karenamu, saya bisa jauh lebih dewasa dalam berpikir dan bertingkah laku. Karenamu yang penuh rasa kekeluargaan, saya bisa dengan santainya berbincang dengan dosen-dosen dan senior ataupun junior. Karenamu juga, saya bisa jadi jauh lebih baik. Terimakasih untuk pengalaman ini.

Psikologi ngga pernah misah-misah![2]

Selamat ulang tahun yang ke-20. J

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya  angkatan 2010


[1]  Jargon mahasiswa angkatan 2009 di dalam program Kembar Siam

[2]  Salah satu lirik di dalam lagu Mars Psikologi ciptaan  Roberto Sontani (Otto), alumni angkatan 2004