Oleh: JESSICA EMILY*

Saya mendapat pengalaman berharga dan tidak akan dilupakan pada akhir bulan ini, yaitu mengikuti rangkaian kegiatan Mahasiswa Berprestasi 2012 (Mawapres 2012), yang mengajarkan pada saya berbagai nilai tentang aktualisasi diri.

Rangkaian sudah dimulai sejak bulan Maret, yaitu penjelasan prasyarat  untuk mendaftarkan diri dalam Mawapres 2012. Pada awal proses, saya sudah dihajar oleh ketakutan saya sendiri. Tepatnya, saat beberapa puluh mahasiswa dikumpulkan dalam satu ruangan dan dijelaskan mengenai kegiatan Mawapres 2012. Saya hanya bisa berpikir  “Astaga, ini isinya orang pinter semua, apalah artinya saya? Enggak mungkin banget dapat. Yah, bodo amat deh, ikut-ikut aja, ah”.

Saya memang suka menerjunkan diri ke jurang, saya penasaran, apa yang bisa saya dapat dari Mawapres 2012 ini. Jadi, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri.

Saat pengumpulan berkas, saya mengalami terpaan lagi. Salah satu syaratnya adalah mengumpulkan transkrip SKP*, yang harus diurus di Sekretariat Fakultas Psikologi. Lagi-lagi, dalam proses sepele ini, ada-ada saja hal yang menimpa saya. Saya dan segelintir teman lain tidak dapat melakukan input SKP, karena sistemnya rusak. Padahal, kami sudah antre berjam-jam, saya bolak-balik dari kelas ke sekretariat untuk mencoba input, dan selalu gagal.

Alhasil, kami pun harus membuat transkrip itu sendiri. Pembuatan transkrip SKP yang serba dadakan membuat saya kewalahan, situasinya crowded oleh berbagai suara dan permintaan dari orang-orang. Ditambah lagi, beberapa teman menitipkan berkas-berkasnya ke saya. Saya serba bingung saat itu dan tidak dapat mengatasi keadaan. Akhirnya, saya melakukan keteledoran, sehingga ada berkas yang tidak lengkap. Baiklah, perasaan bersalah pun melanda saya. Saya paling merasa tertekan apabila merasa bersalah kepada orang lain. Saya langsung membayangkan situasi terburuk, yaitu saya terpilih dalam Mawapres dan teman saya tidak. Harapan pun saya panjatkan kepada yang Mahakuasa agar situasi terburuk itu tidak terjadi.

Namun yang Mahakuasa sepertinya ingin bermain dengan saya, situasi terburuk itu terjadi. Saya diterima dan teman saya tidak. Jeng jeng, untung langit belum runtuh. Teman saya ini ternyata orang yang baik hati, ia justru mendukung saya dengan wajah tulusnya! Sungguh seperti malaikat. Sayangnya, permainan baru saja dimulai.

Permainan dimulai dengan pembuatan karya tulis, dengan tema yang sudah disiapkan. Kami diberi waktu untuk mencari topik dan diminta menyampaikan topik yang akan dibahas pada pertemuan dengan Wadek III. Selama periode tersebut, saya merasa inferior. Orang-orang bertanya, “Sudah dapat topik belum? “  Empat finalis lain dapat menjawab saat ditanya topik yang ingin dibahas.

Akhirnya, saya mendapatn topik dengan cara yang tidak diduga. Sederhananya, saya sedang bengong di sisi jembatan Trans Jakarta Bunderan Senayan menunggu bus di tengah derasnya hujan. Di tengah situasi hiruk-pikuk, abang-abang yang menatap saya terus-menerus, bau asap rokok di sana-sini, ujung payung orang lain yang selalu menyenggol kepala saya, saya mendapatkan ide! Sungguh menarik mendapatkan wangsit dalam kondisi demikian.

Proses pembuatan karya tulis pun dilalui dengan segala batu sandungannya. Karya tulis saya dibimbing oleh Mas Danny Yatim, dosen yang sabar dengan tulisan panjang saya dan pola pikir yang tidak runut. Teman-teman saya juga mendukung dan membantu saya dalam pembuatan karya tulis, hingga paripurnalah karya tulis saya.

Setelah karya tulis jadi, kami harus menghadapi tahap presentasi karya tulis. Di tahap ini, saya mendapat giliran pertama dari keempat finalis lain, yaitu presentasi tanggal 11 April pukul 08.00. Pelajaran berharga di tahap ini adalah proses latihannya. Kami berlatih hingga pk 00.00 di kampus tercinta dan saling mendukung untuk mengembangkan presentasi satu sama lain. Berkat dukungan dan latihan yang dilakukan, pada hari-H presentasi saya dapat meminimalisasi kelemahan utama saya, yaitu gagap. Selain itu, saya juga merasa enteng saat menunggu giliran presentasi dan merasa senang dengan situasi yang dibuat para juri penilai dalam presentasi.

Tahap berikutnya setelah presentasi adalah uji psikotes dan tes narkoba. Di sini saya berkesempatan berkenalan dan melihat wajah-wajah kelimabelas finalis lainnya. Ini tahap paling menyenangkan dari seluruh rangkaian Mawapres 2012.

Tahap terakhir dan yang membuat saya panas-dingin adalah malam final Mawapres 2012, yang jatuh pada 25 Mei 2012. Saya sudah berpasrah diri. Bukan berarti saya tidak berjuang, tetapi saya hanya menginginkan proses belajar dan pengalamannya, karena itu memang motivasi awal saya mengikuti kegiatan ini. Saya belajar banyak selama persiapan malam final ini, bahwa sebagai mahasiswa, tidak bisa sekadar tahu situasi, tetapi harus bersikap pada situasi yang terjadi. Selama ini, saya hanya tahu beberapa situasi, tapi saya tidak bersikap, sehingga disini saya diajarkan untuk mengolah informasi lebih dalam.

Sebelum hari-H, yaitu tanggal 24 Mei, lagi-lagi pikiran saya merancang skenario yang paling tidak diinginkan. Skenario itu adalah saya mendapatkan undian bertanda bintang, yang artinya akan diberi tiga pertanyaan (normalnya hanya dua) dan akan ditanyakan oleh Pak Effendi Gazali. Pada hari itu, saya protes kepada orangtua, “Ah, pokoknya ditanya sama siapapun boleh deh, asal jangan sama Pak Effendi Gazali, gak tertarik sama ilmu politik, mana ngerti nanti kalau dia nanya tentang politik?

Tepat pada hari-H, saya (lagi-lagi) mendapatkan pengalaman tidak terlupakan. Saat naik ke panggung, saya terpeleset dan terjatuh. Bisa-bisanya di acara yang (seharusnya) khusyuk itu, saya jatuh. Untungnya, urat malu saya memang sudah putus, saya tidak terlalu peduli dengan penampilan saya saat itu (meski kepikiran sampai sekarang). Saya mendapat nomor urut ketiga, angka favorit saya.

Saat mengambil undian juri, lagi-lagi Yang Mahakuasa seakan menghidupkan skenario terburuk. Kalau tidak salah ingat, saya mendapatkan undian bertandakan bintang sebanyak tiga kali berturut-turut. Untungnya tidak berlaku kelipatan dalam pengambilan undian tersebut, sehingga saya diberikan tiga pertanyaan, tidak lebih. Undian berikutnya menampilkan nama juri penanya, yang bisa ditebak, adalah Pak Effendi Gazali. Sepertinya sebentar lagi saya akan membuka praktik peramal masa depan…atau pakar realisasi skenario terburuk.

Saat menjawab pertanyaan, saya merasa menjadi diri saya sendiri. Untungnya, saya lancar dalam menjawab, meskipun saya keliru dalam menjawab pertanyaan ketiga. Selama di panggung saya masih bisa tersenyum dan menampilkan diri apa adanya, lengkap dengan keterbatasannya. Saat turun dari panggung dan duduk kembali di kursi, saya merasa lega. Jerih payah saya menghasilkan pembelajaran berarti, membuat saya merasa nyaman dengan diri sendiri.

Bagi saya, menampilkan diri dengan sempurna, itu klise, terlalu mainstream. Menampilkan keterbatasan dan kelebihan diri secara seimbang? Itu pengalaman luar biasa. Pengalaman yang akan mewarnai hidup dengan jatuh-bangun, panas-dingin, sampai akhirnya membuat orang merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Jatuh berkali-kali itu positif, karena di situlah saya menemukan ketakutan-ketakutan saya, dan belajar menghadapi ketakutan tersebut.

Selamat menempuh proses menarik dalam Psikologi!

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2010