oleh: NOVIA AMELIA*

Pada bulan Maret, tepatnya di awal Maret, saya mengalami perubahan yang berarti bagi hidup saya. Sebuah perubahan yang pada akhirnya membawa saya pada keberhasilan. Bulan Maret lalu, saya menerima sebuah pesan dari KOMPSI bahwa saya berkesempatan mengikuti pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Unika Atma Jaya 2012. Di pesan tersebut juga disampaikan bahwa akan ada pertemuan pertama dengan Wadek III untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang pemilihan tersebut. Saya pun hadir dalam pertemuan itu. Pada pertemuan itu, disampaikan tentang beberapa kriteria yang menjadi syarat administratif, antara lain IPK min. 3,25, SKP min. 10, TOEFL min. 450, dan sedang/pernah tergabung dalam organisasi atau kepanitiaan. Saat mengetahui persyaratan tersebut, saya merasa cemas karena di antara semua persyaratan itu, ada satu persyaratan yang belum bisa saya penuhi, yaitu mengenai TOEFL. Saya pernah melakukan tes TOEFL ketika semester 1, dan hasil dari tes tersebut adalah 432, yang artinya saya tidak lulus batas yang diharapkan. Untuk mengikuti mahasiswa berprestasi, tentu saja tidak bisa dengan nilai TOEFL tersebut.

Saat itu saya merasa bingung. Saya ingin sekali mencoba untuk mengikuti pemilihan Mawapres 2012, namun merasa tidak percaya diri saat mengingat nilai TOEFL saya. Saya juga menyadari bahwa kemampuan bahasa Inggris saya sangat kurang. Saya sudah berpikir untuk mundur dan tidak mendaftarkan diri, namun teman saya mengatakan bahwa ada kesempatan untuk tes TOEFL sebelum berkas-berkas dikumpulkan pada tanggal 5 Maret 2012. Saat itu, saya masih berpikir untuk mundur saja, karena saya merasa takut menghadapi tes TOEFL. Akan tetapi, saya tiba-tiba teringat pada kejadian dua minggu sebelumnya, saat saya tidak mendaftarkan diri pada acara malam penutupan Lustrum IV Psikologi dengan alasan takut mengikuti audisi. Saat itu saya merasa sangat menyesal karena saat mendengar cerita dari teman-teman yang lain, audisi yang berlangsung ternyata sangatlah seru. Tidak ingin perasaan takut menghalangi niat saya lagi, membuat saya memutuskan untuk mengikuti pemilihan Mawapres 2012 walaupun saya harus tes TOEFL kembali.

Biasanya, saya adalah orang yang tidak punya keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak saya kuasai. Saya cenderung akan menghindar atau mundur karena saya takut menghadapi kegagalan. Hal tersebut dikarenakan saya adalah orang yang mudah putus asa. Jadi ketika saya gagal, saya akan merasa putus asa dan sulit untuk kembali bersemangat. Namun, untuk kali ini, saya meyakinkan diri saya bahwa saya harus berani untuk mencoba. Saya pun mengambil keputusan untuk mengikuti pemilihan Mawapres 2012, dengan langkah awal yaitu mengikuti tes TOEFL. Saya pun mendaftar tes TOEFL di Pusat Pengembangan Bahasa di Atma Jaya. Saya mendapat jadwal tes hari Senin tanggal 5 Maret jam setengah 8 pagi.

Sejak hari pertemuan dengan Wadek III sampai hari tes TOEFL berlangsung, saya belajar TOEFL dengan mengerjakan soal-soal di buku latihan TOEFL. Selama jangka waktu tersebut, sejujurnya saya merasa tidak nyaman, cemas, dan gelisah. Saya masih berpikir apakah keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang benar atau tidak. Saya perlu meyakinkan diri saya bahwa saya siap untuk menjalankan tes TOEFL dan persiapan lainnya untuk pemilihan Mawapres 2012 ini.

Sempat berkali-kali saya berpikir untuk mundur. Namun saya juga teringat kata teman saya: “Gak perlu takut gagal, Nov. Apapun hasilnya nanti, yang penting lo udah coba“. Kata-kata teman saya tersebut selalu memberi saya semangat. Buat saya yang penting saat ini saya sudah berani melawan rasa takut saya, sehingga tidak ingin terlalu memikirkan hasilnya. Apapun hasilnya nanti, setidaknya saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru dari proses yang saya lalui.

Akhirnya hari tes pun tiba. Saya berusaha semaksimal saya dalam mengerjakan setiap soal. Saya merasa sangat gugup. Namun saya berusaha untuk berpikir positif. Saya percaya bahwa pikiran yang positif akan berdampak positif pula bagi diri saya. Ketika saya selesai mengerjakan tes selama dua jam, saya ke luar ruangan untuk menunggu hasilnya. Teman saya sudah menunggu di luar. Tidak lama setelah tes selesai, hasil tes pun keluar. Teman saya lah yang membuka amplop berisi hasil tes TOEFL karena saya tidak berani membukanya. Betapa kagetnya saya ketika teman saya mengatakan bahwa hasil tes TOEFL saya adalah 453, dan artinya saya lulus batas nilai TOEFL. Saya merasa sangat bersyukur pada Tuhan dan lega sekali saat itu. Saya pun langsung cepat-cepat mengumpulkan berkas-berkas ke Wadek III, karena hari itu adalah tenggat pengumpulan berkas ke Fakultas dan pada hari itu juri akan menentukan 20 besar finalis Mawapres dari seluruh fakultas di Unika Atma Jaya.

Betapa kagetnya saya ketika melihat pengumuman 20 besar finalis yang ditempel dua hari setelah hari penjurian tersebut, nama saya termasuk di dalamnya, mewakili Fakultas Psikologi bersama empat orang teman saya lainnya. Lagi-lagi, Fakultas Psikologi berhasil mempunyai finalis paling banyak pada pemilihan Mawapres. Saya benar-benar tidak mempersiapkan diri saya untuk menjadi finalis karena pada awalnya saya hanya ingin mencoba dan tidak mau mundur di awal saja. Setelah masuk dalam 20 besar finalis, perubahan terus terjadi dalam hidup saya sehari-hari.

Sebagai finalis saya harus membuat sebuah karya tulis dengan pilihan topik-topik yang ditentukan. Sejujurnya, saya bukanlah orang yang pandai menulis dan sangat membutuhkan editor untuk membenahi tulisan saya. Lagi-lagi kepanikan meliputi diri saya. Namun saya tahu bahwa saya harus cepat menentukan topik. Akhirnya, saya pun memilih topik iklim investasi dan dunia usaha. Karya tulis tersebut saya beri judul University Entrepreneurship Bureau: Mengarahkan Generasi Muda Indonesia untuk Mengubah Mindset Guna Memanfaatkan Peluang Berwirausaha

Dengan karya tulis tersebut saya yakin akan bersemangat menulisnya karena saya memang tertarik dengan topik wirausaha. Saya pun melalui proses penulisan dengan mengorbankan waktu luang bahkan waktu tidur saya. Hampir setiap hari sejak penulisan karya tulis, saya selalu tidur sekitar pukul tiga pagi. Sejujurnya, saya terus memikirkan karya tulis tersebut dan ingin cepat-cepat menyelesaikannya. Dalam penulisan karya tulis ini, saya dibimbing oleh Mbak Yini, salah satu dosen psikologi industri dan organisasi yang saya percayai dapat membimbing saya dengan baik. Proses penulisan terus berlangsung sampai akhirnya hari pengumpulan pun tiba. Setelah karya tulis dikumpulkan, saya merasa satu beban terlepas.

Tidak berhenti sampai di sini, tahap selanjutnya yang harus saya jalani adalah presentasi karya tulis di depan para juri. Inilah tahap yang membuat saya PALING was-was. Katanya presentasi ini seperti latihan untuk sidang skripsi, namun tetap saja presentasi ini dinilai dan langsung berhadapan dengan juri. Hari presentasi pun tiba. Saya sangat cemas selama menunggu giliran presentasi. Saya membayangkan bahwa di dalam ruang presentasi, wajah juri sangat serius dan menatap saya. Saya sangat panik saat itu dan tidak berhenti deg-degan. Saat memasuki ruangan presentasi, saya sangat tidak menduga bahwa juri menyambut saya dengan sangat ramah. Saat itu seketika rasa deg-degan saya pun hilang. Presentasi bisa berjalan dengan lancar, walaupun tidak lepas dari beberapa kritik dan masukan. Namun saya merasa cukup puas karena ternyata para juri sangat welcome. Begitu keluar dari ruang presentasi, beban yang sangat besar terlepaskan. Saya sangat bersyukur sudah bisa melewatinya dan siap untuk menghadapi tahap selanjutnya.

Tahap selanjutnya adalah tes kepribadian, tes narkoba, dan wawancara. Pada tahap ini, saya sama sekali tidak merasa cemas dan bisa menjalaninya dengan baik. Bisa dikatakan bahwa tahap ini adalah tahap paling santai selama proses Mawapres 2012. Setelah tahap ini selesai, ada 1 tahap terakhir yang harus saya lalui, yaitu malam final pemilihan Mawapres 2012.

Hari-hari menuju malam final yang jatuh pada tanggal 25 Mei 2012, saya lalui dengan membaca dan menonton berita. Sejujurnya, saya bukanlah orang yang suka membaca atau menonton berita, sehingga saya tidak mengetahui info-info yang terjadi di Indonesia walaupun itu hal yang umum bagi kebanyakan orang. Saya pun banyak bertanya kepada teman-teman tentang info yang sedang ‘in’ di Indonesia maupun dunia. Saya sangat bersyukur karena Wadek III Fakultas Psikologi, yakni Mbak Wulan sangat memperhatikan saya dan empat finalis mahasiswa psikologi lainnya dan bersedia memberikan kami semacam ‘latihan’ untuk malam final.

Tanggal 21 Mei 2012, saya dan finalis lainnya berkumpul bersama dengan Mbak Wulan, dua finalis Mawapres tahun lalu, dan salah satu senior psikologi. Selama latihan ini berlangsung, saya sangat takut dan hanya bisa diam. Sepanjang diskusi dan tanya jawab, saya tidak memberikan tanggapan apapun karena saya tidak mengerti topik yang dibicarakan. Contohnya saja tentang mobil Esemka. Saya tidak mengetahuinya sebelumnya. Saat itu, saya benar-benar merasa payah dan sangat tidak percaya diri. Beban saat itu terasa makin berat karena selalu teringat bahwa saya membawa nama Fakultas Psikologi. Ketika giliran saya ditanya, saya pun sangat tidak maksimal dalam menjawabnya dan tiba-tiba saya menangis. Saat itu, saya benar-benar merasa tidak mampu dan malu dengan yang lain, karena untuk pertanyaan yang menurut orang lain mudah saja, saya tidak bisa menjawabnya. Saya sangat takut kejadian seperti ini akan terjadi di malam final nanti di depan juri dan banyak penonton. Perasaan saya benar-benar tidak tenang menjelang malam final. Saya terus mencari sebanyak-banyaknya informasi dan berita tentang Indonesia dan dunia. Saya membaca dan menonton berita bahkan terkesan seperti dikejar-kejar berita karena banyaknya hal yang tidak saya ketahui.

Tanggal 24 Mei pun saya mengikuti gladi resik. Saat itu dilakukan pengundian untuk menentukan urutan peserta dalam menjawab pertanyaan di Hari-H. Betapa kagetnya saya ketika mendapati bahwa saya mendapat nomor undian 1. Saya hanya bisa diam dan tidak tahu harus bagaimana. Namun, entah mengapa saya merasa itu adalah rencana Tuhan untuk saya. Malam harinya, saya sangat gelisah dan tidak bisa tidur. Saya terus terpikirkan suasana malam final nantinya. Saya sangat takut akan memalukan Psikologi. Saya takut mengecewakan keluarga, teman-teman, dan dosen yang menonton nantinya. Saat itu, saya coba untuk merefleksikan diri sesaat. Saya menenangkan diri saya serta meminta pertolongan Tuhan. Saya meyakinkan diri saya bahwa apapun hasilnya nanti, saya sudah berusaha yang terbaik untuk diri saya dan Psikologi. Saya akan berusaha semaksimal saya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Saya memohon pertolongan Tuhan untuk memampukan saya pada malam final nanti. Sejujurnya, harapan utama saya bukanlah untuk masuk 5 besar. Harapan utama saya adalah bisa menjawab pertanyaan yang diberikan juri dengan lancar. Hanya itu yang saya pikirkan.

Malam final pun tiba. Saya merasa bingung karena rasa deg-degansaya banyak berkurang dan dapat dibilang saya merasa lebih tenang. Saya benar-benar menyerahkan semuanya pada Tuhan. Pada malam final, dijelaskan kembali proses-proses selama dua bulan yang dilalui oleh para finalis. Saat itu, saya teringat akan perjuangan yang tidak mudah dan banyak jatuh bangunnya. Tidak terasa, giliran saya pun tiba. Sesuai nomor undian, saya menjadi orang pertama yang akan menjawab pertanyaan dari juri. Ya, saya tidak bisa melihat peserta yang sebelumnya dan benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Saya pun mengambil undian nama juri dan mendapatkan pertanyaan dari Bapak Wi Chung dari Astra International. Selama berada di panggung, saya teringat semua dukungann dan keyakinan yang diberikan oleh orang-orang terdekat saya. Betapa bersyukurnya saya karena saya bisa menjawab kedua pertanyaan yang diberikan dengan tenang dan lancar. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa pertanyaan yang saya dapat, bisa dibilang cukup umum dan bisa dijawab oleh siapa saja. Saat itu, saya benar-benar merasa bahwa inilah maksud dari mendapatkan nomor undian pertama.

Setelah turun dari panggung, beban saya seluruhnya telah hilang. Saya benar-benar lega dan tenang. Tuhan telah mengabulkan doa saya dan memimpin saya sepenuhnya pada malam itu. Saat pengumuman pun tiba dan hasilnya saya tidak masuk ke dalam 5 besar Mawapres 2012. Walaupun tidak menjadi 5 besar, namun percayalah bukan itu poin dari perjuangan saya. Bisa sampai tahap final ini adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk saya dan buah dari semangat orang-orang terdekat saya.

Seluruh proses Mawapres 2012 yang saya jalani, saya persembahkan untuk Fakultas Psikologi, keluarga, dan teman-teman saya. Akhir kata, saya mendapat banyak pelajaran dari proses Mawapres ini dan saya ingin katakan bahwa jangan pernah mundur sebelum memulai sesuatu. Pikiran yang positif membawa kita pada kesuksesan. Belajarlah dari proses dan terus maju, karena kita tidak akan menyesal setelah melihat akhirnya.

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya  angkatan 2009