oleh: FLORENCIA IRENA*

Tidak mudah bagi saya untuk memutuskan akan pergi ke mana setelah lulus SMA. Hingga akhirnya, saya mencoba peruntungan dengan mengambil Jalur Bebas Tes di Unika Atma Jaya, tepatnya di Fakultas Psikologi. Tanpa terduga, saya lolos jalur tersebut. Meski sudah mendapat kepastian diterima, di sisi lain saya masih “galau” karena pengaruh lingkungan dan teman-teman.

Saya pun mencoba jalur SNMPTN undangan untuk masuk Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dan sempat berdebat dengan orang tua hingga diakhiri air mata untuk berusaha masuk ke Teknik Kimia di perguruan tinggi negeri (PTN). Sayangnya, ternyata saya tidak diterima di PTN tersebut. Saat itu, dengan pemikiran tidak ingin mengecewakan orang tua dengan lebih banyak pengeluaran, saya pun memantapkan hati untuk masuk ke FP UAJ. Saya berharap, Tuhan punya rencana terbaik untuk saya.

Satu hal yang saya benci, ketika ingin masuk Fakultas Psikologi, orang tua saya selalu berkata, “Kamu sih enggak cocok  masuk psikologi, orangnya enggak sabaran. Mana mungkin cocok kalo hubungan interpersonal kamu sama orang lain enggak baik?” Inilah penolakan pertama saya. Sejujurnya, saya sangat benci dengan penolakan. Itu sebabnya, mendapat penolakan dari orang lain justru membuat saya bersemangat untuk membuktikan kalau saya tidak seperti yang mereka bilang. Berkat ke-kekeuh-an saya, akhirnya saya berhasil memaksa orangtua saya untuk memasukkan saya ke FP UAJ.

Namun, jalan saya di psikologi tidak semulus yang saya harapkan. Saya tipe orang yang sangat senang berorganisasi, mendapati FP UAJ memiliki banyak kegiatan yang bisa mengasah kemampuan berorganisasi saya, tentulah saya sangat berbahagia. Sayangnya, saya tidak pernah mempersiapkan diri untuk penolakan yang tidak pernah saya duga akan saya dapatkan.

Penolakan kedua saya dapatkan ketika mendaftar masuk organisasi MAPLE. Saat itu yang ada di pikiran saya, saya sangat yakin akan diterima. Namun, kenyataan bicara lain, saya tidak diterima. Sejujurnya saya sangat terpukul. Tidak ada yang tahu betapa besar keinginan saya untuk masuk ke dalam organisasi itu. Saya sangat sangat kecewa mendapati kenyataan saya ditolak oleh MAPLE, terlebih senior yang mewawancarai saya sudah memberikan angin segar saat mendengar hasil wawancara saya.

Penolakan ketiga. Penolakan ini saya dapatkan ketika saya mendaftar ke Program Yayasan Putera Bahagia (YPB), salah satu yang kemudian menjadi target  dan mimpi saya. Sama seperti MAPLE, saat itu saya juga merasa yakin. Hanya saja, lagi-lagi saya justru mendapatkan penolakan. Dan, lagi-lagi saya merasa sangat kecewa.

Tidak lama setelah penolakan-penolakan itu, saya berbicara dengan salah seorang teman dari angkatan 2011 dengan nada penuh amarah dan tuduhan, saat saya ditolak oleh MAPLE. Saya bahkan pernah mengemukakan kekecewaan saya melalui media sosial. Meskipun saya tahu itu perbuatan yang tidak baik, namun emosi membuat saya tetap melakukannya. Teman saya dengan mudahnya berkata, “Apa yang lu lakuin pas wawancara? Nonjolin diri lu? Betapa lu hebat? Betapa lu berpengalaman? Buat apa? Bergabung dalam suatu organisasi yang perlu lu liat adalah tujuan dari organisasi itu. Kalo lu mau gabung sama MAPLE, lu harusnya tahu gimana MAPLE mau membangun dirinya sebagai ‘sekolah’ pelatihan buat mahasiswa. Kalo gitu, apa gunanya lu tunjukkin kalo diri lu udah super berpengalaman? Dia butuh orang yang mau belajar, bukan yang udah jago pelatihan. Sama kayak YPB, lu sendiri tahu target mereka tuh masyarakat prasejahtera, kalo yang lu tonjolin diri lu yang jago pelatihan, bukan diri lu yang bisa memberi perhatian kepada masyarakat prasejahtera, apa gunanya? Salah target kali. Lu nggak bisa jadi orang yang egois.”

Saat itu saya merasa tertampar. Saya baru sadar, saya anak psikologi yang tidak mempunyai mata terbuka untuk melihat kenyataan yang jelas-jelas ada di depan saya. Saya teringat kembali dengan kata-kata orang tua saya yang membuat saya marah ketika mereka bilang saya tidak cocok masuk Psikologi. Kali itu, saya baru merasa orang tua saya benar. Saya bahkan terlalu angkuh untuk menerima penolakan yang saya rasakan. Saya tidak peka dan terlalu melihat kepada diri sendiri, seolah diri saya adalah satu-satunya orang yang memiliki kemampuan yang paling baik, padahal tidak begitu adanya. Saya terlalu sombong dan akhirnya lupa diri.

Sejak saat itu saya belajar, manusia hidup bukan untuk sekadar mempertontonkan kemampuannya di hadapan banyak orang. Kita hidup untuk mengasah kemampuan kita, bukan dengan menjadi sombong, tetapi dengan menjadi rendah hati. Bukan dengan memakai topeng, tetapi dengan berbekal diri sendiri  yang apa adanya. Dan yang paling penting, penolakan seharusnya bukan membuat kita terjatuh. Penolakan berarti menunjukkan kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam diri kita dan perlu dibenahi. Itulah saatnya bagi kita untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki diri, serta menyadari bahwa suatu saat kita akan mendapat kesempatan lagi untuk membuktikan diri kita yang sesungguhnya, diri kita yang lebih baik.

Terima kasih banyak, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. FP UAJ adalah tempat saya belajar menjadi orang yang rendah hati. Andai saja, saya memutuskan tidak masuk ke Atma Jaya, mungkin akan lain ceritanya, tidak ada pelajaran berharga seperti ini yang akan saya dapatkan. Dan saya tidak akan pernah melupakan tempat saya belajar untuk bertumbuh. =)

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2011