Oleh: CANTYO ATINDRIYO DANNISWORO*

Tank, peluru, helm, disiplin tinggi, dan senjata adalah pilihan pertama yang akan saya ambil. Manusia, jiwa, dan perilaku adalah pilihan kedua yang akan saya ambil. Tak disangka, Tuhan mengambil pilihan pertama saya, dan disisakannya pilihan kedua.

Di mana? Bertanyalah saya melalui media super canggih yang sekarang ada dimana-mana dan bisa mengetahui apapun hanya dengan menggerakan jari dan tangan. Jawaban yang muncul berkisar antara warna kuning atau jingga. Tapi burung banyak yang mengatakan bahwa jingga lebih baik. Yasudah, datanglah saya ke gedung jingga itu. Itu gelombang pertama yang digoyangkan oleh si jingga. Ternyata saya berhasil dimakan gelombang tersebut, sehingga resmilah saya bergabung. Setelah itu, saya juga ingin mencoba untuk dimakan si kuning. Namun karena terlanjur menjadi jingga, badan dan otak menjadi berat untuk berusaha dimakan. Benar jadinya, gagal saya dimakan ombak kuning tersebut. Kicau burung-burung yang mengatakan bahwa si jingga adalah baik, membuat saya tenang dan santai menghadapi hari-hari menjadi warna jingga.

Sampai saat ini, sudah lebih dari 3072 jam saya menjadi warna jingga. Hasilnya? Memuaskan. Saya tidak menyesal menjadi bagian dari warna ini. Sebuah gedung yang isinya multikultur. Disini saya cukup menjadi minoritas, tapi bukan berarti saya menjadi inferior. Saya justru bisa berkembang dengan lebih baik. Atmosfer di gedung ini sungguh indah. Atmosfer itu berbentuk tulisan-tulisan yang ada dimanapun, di lantai, di tembok, di udara, dimanapun. Sangat banyak. Sangat luas. Sangat tinggi. Bisa dilihat dari berbagai sudut, bisa diadu, bisa diukur. Atmosfer itu dibentuk oleh relasi yang sangat baik antara pengurus gedungnya dan penghuninya. Di gedung ini para pengurus gedung sangat terbuka. Kedua pihak tersebut bisa berbincang-bincang layaknya teman, kerabat,bahkan sahabat. Hal yang kata kicauan burung tidak terdapat di gedung lain. Sesama penghuni pun memiliki relasi yang baik,meskipun dibedakan oleh tahun kemunculan di dunia ini.

Gedung ini sempat direnovasi pada tahun 2003. Kali ini direnovasi lagi pada tahun 2011. Tujuan renovasi ini tentu baik adanya. Namun saya merasa beruntung saya sempat berada di gedung ini saat gedung ini belum di renovasi. Contohnya saja, dulu ada ruang yang namanya ruang’melihat’ dan ruang ‘bicara’. Saat itu kedua ruangan tersebut belum digabung. Ruangan tersebut ada di lantai 3. Rasanya seperti neraka panas sekaligus seru bagi yang memasukinya. Anda belum dikatakan sudah masuk ke gedung ini kalau belum masuk ke ruangan tersebut. Namun sekarang kedua ruangan tersebut sudah digabung, sehingga tidak sepanas dan seseru dulu. After effect yang didapat tidak sebesar dulu. Kemudian setelah gedung ini direnovasi, ditambahkanlah 3 ruangan baru sebesar 7 meter persegi. Nah, tugas para penghuni sekarang adalah mengisi ruangan tersebut, yang artinya kembali membutuhkan uang dan tenaga.

Harapan saya pada gedung ini tidak ditepuk oleh sebelah tangan saja. Saya mendapat tepukan balik dari tangan yang saya ajukan. Di sini. Di gedung ini. Saya menentukan tujuan. Ke arah mana saya akan pergi setelah ini. Pergi dengan mimpi dan visi yang jelas. Disini pula, saya mendapatkan kepercayaan dalam hati saya. Bahwa mimpi saya bisa jadi nyata.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2009