oleh: KARTIKA HALIM*

Di akhir-akhir masa SMA, saya mulai bingung menentukan universitas. Jujur saja, hampir 80% anak SMA dari tempat tinggal saya (Jambi, kota kecil yang bisa dijelajahi hanya dalam waktu setengah hari saja), memilih dua universitas: Universitas Tarumanegara (Untar) atau Universitas Bina Nusantara (Binus). Kalau bukan Untar ya Binus, kalau bukan Binus ya Untar.

Berbekal prinsip tidak mau ikut-ikutan mainstream, saya memutuskan untuk mencari universitas lain selain dua itu. Dari cari-cari di internet, muncullah nama Atma Jaya. Awalnya saya sempat mau mencoba ke Universitas Atma Jaya di Yogyakarta, tapi ternyata tidak ada fakultas yang menarik minat saya. Akhirnya saya coba ke Unika Atma Jaya Jakarta yang kebetulan ada jurusan psikologinya. Dari dulu memang ada sedikit minat untuk belajar psikologi, jadi saya pikir tidak ada salahnya mencoba.

Waktu itu saya mencoba masuk melalui JBT walaupun nilai rapor saya pas-pasan. Syaratnya 75, nilai rapor saya pas 75. Tidak kurang, tidak lebih, dan tidak bisa ditawar. Untunglah saya diterima meskipun hanya dapat grade B. Karena malas ikut tes masuk, akhirnya saya terima saja grade B itu dan masuklah saya jadi mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Banyak kejadian yang membuat saya shock di masa-masa awal menjadi mahasiswa psikologi. Shock pertama terjadi karena saya baru tahu bahwa ada yang namanya Pramabim-Mabim (Pra Masa Bimbingan dan Masa Bimbingan). Seharusnya saya sudah mendapatkan informasi tentang Open House dan Pramabim-Mabim melalui surat, tapi entah karena alasan apa, surat itu tidak pernah sampai ke rumah saya. Mungkin tenggelam di Selat Sunda. Alhasil saya baru daftar Pramabim-Mabim di H-3, yaitu saat pengenalan kampus tingkat universitas. Rasanya cukup kagum menjalani Pramabim-Mabim karena itu adalah pertama kalinya saya ikut acara yang memiliki aktivitas outbound dan hiking. Meskipun pulang dari sana capek, tapi saya senang karena bisa berkenalan dengan teman-teman baru.

 

Shock kedua adalah ketika masuk kuliah pertama kali. Kuliah psikologi pertama saya adalah kuliah Metodologi Penelitian I bersama Mas Eric. Yang membuat shock adalah gaya beliau yang berbeda 180 derajat dengan gaya mengajar guru-guru di SMA. Begitu masuk kelas, Mas Eric langsung duduk di atas kursi dengan gaya khasnya dan langsung bertanya, “Kenapa masuk psikologi?” Jeng jeeeeng… Bingung deh. Di pertemuan pertama itu Mas Eric mengajak mahasiswanya untuk diskusi. Bagi saya hal ini adalah hal yang baru karena guru saya dulu sepertinya hanya mencekoki saja dengan berbagai teori dan rumus tanpa ada kesempatan untuk mendengarkan siswanya berpendapat. Saat itu saya berpikir, “Ternyata ini bedanya mahasiswa dengan siswa SMA.

 Shock ketiga terjadi di minggu kedua dan ketiga kuliah. Saat itu sudah ada banyak tugas menumpuk yang harus diselesaikan dari mata kuliah Sejaran dan Aliran Psikologi, Psikologi Umum, dan Penulisan Ilmiah. Ternyata tiga tugas itu masih belum cukup. Ketika saya masuk kelas Statistik I, masih juga diberi tugas oleh Mas Ferdi. Waktu itu saya dan teman-teman langsung memprotes Mas Ferdi dan mengatakan bahwa tugas kami sudah cukup banyak. Saya ingat sekali respon dari Mas Ferdi saat itu. Respon yang singkat, jelas, padat dan disertai seringai lebar penuh makna, “Yaaaaaa… Selamat datang di Psikologi!” Langsung badan saya lemas seketika.

 

Shock berikutnya adalah ketika masa Mabim. Saat itu kami mendapat tugas untuk mencari tanda-tangan dari kakak-kakak senior. Bukan hanya mencari tanda-tangan, tetapi kami juga harus meminta komen dari mereka. Komen yang kebanyakan muncul adalah: “Banyak-banyak minum kopi ya!”. Melihat itu saya sempat bingung, ada kerja sama apa antara Fakultas Psikologi dengan produsen kopi. Untuk mengatasi kebingungan, saya bertanya lebih lanjut dengan beberapa kakak senior. Hoalah, ternyata tugas-tugas perkuliahan di Fakultas Psikologi begitu banyak hingga membuat mahasiswanya kekurangan tidur di malam hari.

Meskipun diawali dengan berbagai kejadian yang membuat shock, pengalaman tumbuh dan berkembang selama 4 tahun (atau mungkin lebih, thanks to skripsi) di Fakultas Psikologi merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Teman-temannya ramah, kakak-kakak senior tidak sombong, dan dosen-dosennya tidak jaim. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya saya jika dulu saya tidak masuk ke psikologi. Jika saya tadinya ikut dengan 80% teman-teman saya yang masuk ke Fakultas Ekonomi Untar atau ke Jurusan IT di Binus, pasti saya melewatkan sebuah petualangan yang luar biasa. Petualangan bersama Psikologi.

Selamat Ulang Tahun Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya! =)

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008