oleh: DANNY I. YATIM*

Mas Danny bersedia mengajar di Fakultas Psikologi Atma Jaya, nggak?”.

Demikian suara dosen Yohana Ratrin di balik telpon suatu siang pada awal 2001. Memang saya pernah iseng-iseng menyampaikan kepadanya, ketika berkenalan di luar kampus, bahwa kalau ada kebutuhan tenaga dosen lepas, saya tertarik. Saat itu saya sedang bekerja lepas, setelah selesai masa kontrak dengan sebuah lembaga asing bidang kesehatan masyarakat.

Tak lama sesudah itu, saya menghadiri seminar tentang psikologi perdamaian di kampus Unika Atma Jaya.  Ibu Murni yang ketika itu menjabat sebagai Pembantu Dekan I (istilah sekarang: Wakil Dekan), mendekati saya dan menegaskan kembali tawaran menjadi dosen di Fakultas Psikologi.  Matakuliah yang ditawarkan adalah Psikologi Remaja. Hmm, menarik. Kenapa tidak?  Bukankah waktu kecil saya pernah bercita-cita menjadi guru? Setelah bekerja selama 18 tahun, barangkali ini saatnya membagi pengalaman kepada mahasiswa?  Ajakan itu saya terima dengan girang hati, apalagi perkembangan manusia, khususnya remaja, memang bidang yang saya geluti dalam skripsi serta tesis.

Hubungan saya dengan universitas ini sebenarnya sudah lama terjalin.  Saat baru lulus dari UGM,  saya diterima bekerja di Pusat Penelitian Atma Jaya (sekarang Pusat Kajian Pembangunan Manusia), tetapi saya memutuskan bekerja di lembaga lain. Namun hubungan baik dengan PPA/PKPM tetap terjalin: saya sering diundang menjadi fasilitator pelatihan, konsultan penelitian, dan narasumber diskusi.  Di lembaga itu ada dua teman kuliah, yakni Irwanto dan Clara Ajisuksmo, yang senantiasa mendukung kegiatan saya.  Saya juga kerap menghadiri seminar di kampus ini dan bahkan salah satu buku karya saya Dialog Seputar AIDS (1994) diterbitkan  Unika Atma Jaya.

Setelah tawaran mengajar saya terima, saya menanyakan apakah ada silabus matakuliah ini.  Ibu Murni hanya mengatakan: silakan kembangkan sendiri kuliahnya.  Wah, tentu saya sangat senang dengan kebebasan ini.  Saya pun mengumpulkan materi tentang remaja dari kumpulan file saya, dan menyusun rencana kuliah.

Hari pertama mengajar pun tiba. Tak disangka tak diduga, saya deg-degan masuk ke kelas. Iya, betul, saya tiba-tiba menjadi gugup.  Aneh, saya sudah terbiasa menjadi fasilitator pelatihan selama belasan tahun, kenapa kali ini saya menjadi gugup ya?  Beruntunglah kuliah pertama berjalan dengan lancar dan baik. Sebuah kelas kecil berisikan 16 orang mahasiswa cukup membuat hatiku tenang  (hmm, kalau pembaca termasuk salah satu dari ke-16 orang itu, ketahuilah bahwa hari pertama itu saya grogi berhadapan dengan Anda! He he.)

Waktu berjalan terus, saya pun ditawari mengajar matakuliah lain sesuai pengalaman saya, yaitu Psikologi Kesehatan dan Psikologi Konseling. Lama-kelamaan saya juga dilibatkan dalam program magister profesi psikologi (pasca-sarjana) untuk beberapa kuliah pembekalan.  Demikian juga diminta membimbing skripsi dan menguji sidang beberapa mahasiswa.

Tak terasa saya telah menjadi pengajar FP Unika Atma Jaya selama 11 tahun.  Meskipun berstatus pengajar tidak tetap, keberadaan saya di FP Unika Atma Jaya justru kadang-kadang menjadi pusat kehidupan sehari-hari.  Di samping mengajar, saya kadang terlibat kegiatan akademik lain seperti menjadi moderator seminar atau memberikan sumbang saran dalam rapat dosen.  Saya pun tidak merasa canggung bila harus menuliskan “Unika Atma Jaya” sebagai identitas bila menghadiri seminar dan konferensi di dalam dan luar negeri.

Yang juga menyenangkan adalah keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa  seperti pra-masa bimbingan mahasiswa (Pramabim), pelatihan anak sekolah bersama Yayasan Putra Bahagia, menjadi narasumber  Psychocinema (festival film psikologi), Psychocare (kegiatan sosial mahasiswa), membimbing mahasiswa berprestasi, menjadi penghibur di Psychorhythm (pentas musik mahasiswa), dan terakhir ini ikut dalam sebuah teater musik bersama mahasiswa.  Berkat media sosial seperti facebook dan twitter, interaksi dengan mahasiswa juga bertambah akrab, bahkan dengan mereka yang tidak pernah sekalipun ikut kuliah saya seperti Albert Purnomo Putra (2007), Gita Panjaitan (2008), Octavianus Wisnu (2006), Okki Sutanto (2007)dan Yusin Liauw (2007).

Apa yang menyebabkan saya bertahan menjadi pengajar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya? Bila saya harus melihat kembali, banyak pelajaran positif yang saya rasakan selama menjadi pengajar. Pertama, interaksi dengan macam-macam manusia di sini sungguh menyenangkan. Kedua, saya senang dengan berbaurnya para dosen alumni berbagai perguruan tinggi. Di luar kita kerap mendengar adanya persaingan antar alma mater, tetapi di sini terasa perpaduan keberagaman dosen dengan alma mater berbeda justru menjadi kekuatan sinergis.  Ketiga, saya diberi banyak kebebasan mengembangkan materi kuliah sesuai keinginan agar bisa diserap mahasiswa.  Keempat, selalu saja ada yang bisa diperbincangkan dengan beberapa rekan kerja,  terutama (ah, pakai nama panggilan saja ya) Agatha, Angel, Anne, Atink, Mbak Bernadette, Bu Bonang, Chen-Chen, Darma, Dinast, Etha, Goentoer, Hana, Laurike, Lena, Lidia, Lyly, Murni, Mbak Nani, Ocha, Oja, Penny, Raymond, Ratri, Rosa, Shanti, Tirza, Tyas, Venie, Wahyu, Wieka dan Wulan. Dari rumpian menjadi diskusi serius, dari hal sepele sampai menjadi pencerahan.

Kelima, yang paling terasa adalah: pada saat mengajar, kita juga belajar.  Setiap semester, saya merasa bertambah pengetahuan baru ketika membaca makalah mahasiswa. Saya juga memperoleh pemahaman baru tentang fenomena tertentu ketika membimbing mahasiswa cerdas seperti Rizkia Nuranissa (2001), Krisna Adiasto (2006) dan Grae Georgiana (2006).  Bila ada mahasiswa lain datang untuk bimbingan, dialog antara kita itu selalu terasa sebagai pencerahan.

Sebagai pengagum Bruce Lee, tokoh kungfu tahun 1970an, saya selalu ingat dua kata-kata bijaknya, yaitu “Saya bukan guru. Saya hanyalah penunjuk jalan bagi para pengelana yang kehilangan jalan. Terserah mereka memutuskan perjalanan berikutnya1”  dan “Guru yang baik akan melindungi muridnya dari pengaruh dirinya sendiri2”.  Tidak selalu mudah melakukan kedua hal itu, tetapi fakultas ini telah memberikan peluang bagi saya menjalani  filosofi kungfu  tersebut.

Selamat ulang tahun ke-20, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Semoga tetap jaya, tetap berkembang, tetap konsisten dalam idealismenya tetapi tetap luwes menghadapi perubahan zaman.

*) Penulis adalah pengajar tidak tetap Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya sejak tahun 2001.

___________________________

1 Terjemahan bebas dari: Remember I am no teacher, I can merely be a signpost for a traveler who is lost. It is up to you to decide on the direction

2 Terjemahan bebas dari: A good teacher protects his pupils from his own influence.