Oleh: TIMOTIUS PRASSANTO*

Saya merasa beruntung dapat menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Sejak lulus SMA, saya memantapkan hati untuk mengambil kuliah di Fakultas Psikologi. Waktu itu alasannya sederhana dan cukup umum; yaitu karena sering dijadikan tempat curhat dan sekaligus ingin membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Alasan saya memilih Unika Atma Jaya, ya, jujur saja karena saya tidak berhasil menembus SPMB. Akan tetapi, setelah saya meraih berbagai pencapaian selama dan setelah menuntut ilmu di jalan Jenderal Sudirman nomor 51 ini, saya menjadi bersyukur telah gagal menembus SPMB selama dua tahun berturut-turut. Haha!

Ternyata fakultas dan universitas tercinta saya telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, serta spiritual manusia yang terlibat di dalamnya. Fakultas saya tidak hanya mendatangkan dosen-dosen bule untuk mata kuliah tertentu, tapi juga bekerjasama dengan beberapa organisasi sosial dan keagamaan yang terbuka bagi relawan berstatus mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari banyak poster dan pengumuman yang tersebar di seantero kampus yang memberikan berbagai informasi menarik. Dimulai dari kesenangan melihat berbagai poster dan penguman itulah saya akhirnya menjadi relawan di sebuah organisasi sosial keagamaan. Akhirnya saya dapat melakukan kegiatan aktualisasi diri, karena untuk pertama kalinya saya bisa mempraktekkan materi yang saya dapatkan di kelas. Hal yang membuat saya kagum adalah cara fakultas mendukung saya dalam menjalani komitmen sebagai relawan yang memakan waktu hampir setengah semester. Pengalaman ini yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan ilmu psikologi. Dengan berbekal pengalaman itulah saya dapat beradaptasi dengan cepat dan lebih bisa memahami orang lain dengan berbagai latar belakang.

Sebuah kesempatan emas untuk kembali membantu orang yang membutuhkan datang ketika saya telah menyelesaikan pendidikan sarjana. Kali ini tantangannya lebih besar karena selain di negeri orang, saya juga harus melakukannya dalam waktu satu tahun! Kali ini saya berangkat dengan harapan dapat meninggalkan tanah air dalam waktu yang lama. Hal ini karena saya berpendapat bahwa permasalahan sosial yang akan saya hadapi di negara tersebut lebih rumit, sehingga orang-orang yang saya bantu sulit mendapatkan hidup yang terjamin. Saya menghabiskan waktu satu tahun membantu orang-orang yang berkekurangan dan membutuhkan di negara maju dengan permasalahan sosial yang jauh berbeda dengan di Indonesia. Pengalaman ini membuat saya menemukan kembali nasionalisme dalam diri yang sempat luntur. Dengan niat dan motivasi kuat untuk membantu kaum lemah, saya jadi berpendapat bahwa Indonesia lebih membutuhkan bantuan jika dibandingkan negara maju yang kepekaan sosial warganya sudah relatif tinggi karena kesejahteraan merekat terjamin.

Di negara-negara berkembang, kebanyakan orang cenderung ingin mengamankan masa depan diri sendiri dengan menumpuk materi sebanyak mungkin. Konsekuensinya, jumlah orang yang memikirkan dan membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan pun semakin sedikit. Perbandingan antara jumlah orang-orang yang ingin membantu dengan jumlah orang-orang yang membutuhkan bantuan cenderung berbanding terbalik dengan perbandingan di negara maju. Di Indonesia, sedikit orang yang mau membantu orang lain secara langsung, padahal banyak orang yang membutuhkan bantuan. Di sinilah letak kekosongannya. Tempat kosong itu adalah tempat di mana saya (merasa) dibutuhkan. Malu rasanya melihat orang asing dengan segala ilmu dan pengalamannya yang datang ke Indonesia dan mengembangkan masyarakat desa, sementara sebenarnya saya dengan bekal yang diperoleh di perkuliahan juga dapat melakukan hal yang sama. Apalagi saya merasa senasib, sepenanggungan, dan memiliki kesamaan suku bangsa dengan masyarakat Indonesia.

Saat kembali ke tanah air, saya mencoba untuk mengikuti suara hati dan mimpi saya. Saya jatuh cinta pada salah satu mata kuliah pilihan. Mata kuliah tersebut membuat saya memilih karir yang detik ini sedang saya bangun. Memfasilitasi masyarakat desa untuk menuju pemberdayaan yang mandiri dan berkelanjutan, cukup sejalan dengan hal-hal yang saya dapatkan di kelas. Saya semakin bersyukur telah dibekali lebih dari cukup pengetahuan untuk diterapkan di dunia nyata. Di sebuah desa terpencil tanpa listrik dan sulit sinyal telepon ini, rasanya nyaris semua ilmu psikologi yang saya dapatkan selama empat tahun terpakai di bawah payung organisasi kemanusiaan yang berfokus pada kesejahteraan anak ini. Memahami perbedaan dan pemikiran orang lain yang jauh berbeda dengan diri sendiri, “memanipulasi” pemikiran orang lain ke arah yang lebih baik dan memotivasinya, memfasilitasi dinamika kelompok, intervensi sosial, metode partisipatif, bahkan penggunaan alat tes dan statistik, benar berguna demi pemberdayaan masyarakat. Bahkan untuk beberapa kebutuhan, saya sampai membuka dan membaca kembali materi-materi dan tugas-tugas kuliah saya dulu. Semua itu demi masyarakat desa ini agar dapat hidup dengan kesehatan yang layak, pendidikan yang terjamin, serta pemberdayaan ekonomi yang baik.

Saya akhirnya menyadari satu hal. Ketika saya menerapkan hal-hal yang telah saya dapatkan di bangkukuliah, saya menjadi mengerti mengapa dosen tertentu memberikan tugas dengan standar setinggi mungkin. Saya jadi teringat kembali masa-masa penuh tekanan di berbagai tugas kuliah; menyiapkan makalah akhir Konstruksi Tes sampai melupakan jam tidur, tugas lapangan Rancangan Intervensi Sosial di sebuah LSM waria, sampai dengan praktek metode Participatory Learning & Action terhadap mahasiswa yang memiliki kesulitan belajar. Nilai dan standar yang terkadang tidak berperikemahasiswaan itu ternyata, entah sengaja atau tidak, dilakukan oleh para dosen untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi yang terbaik di lapangan kerja. Standar yang tinggi ini sangat terasa jika dalam suatu pekerjaan, saya bekerja sama dengan sesama alumni FP UAJ atau alumni dari universitas lain, bahkan fakultas lain. Sikap kerja, kriteria pencapaian, dan cara yang digunakan pasti berbeda. Ketika ada orang lain yang memuji hasil kerja dan menanyakan saya lulusan universitas mana, maka saya yakin dapat menjawab dengan mantap: Psikologi UNIKA Indonesia Atma Jaya!

Selamat Ulang Tahun, FP UAJ! Terima kasih karena telah membekali saya untuk bertualang menggapai mimpi.

Singkawang, Senin 28 Mei 2012

*) Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2005