oleh: AGATHA NOVI ARDHIATI*

Pertama kali membaca surel yang ditujukan kepada dosen-dosen dan seluruh staf Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya mengenai adanya blogini, perasaan senang, tidak sabar, berdebar-debar, dan entah perasaan-perasaan apa lagi namanya ini, saling berebut bermunculan dalam diri saya.

“Saya harus ikut menulis!” ujar saya dalam hati saat itu.

Lalu, seperti biasa, short-term memory loss kembali menyerang. Terlebih setelah kehilangan ingatan jangka pendek tersebut semakin dikuatkan dengan kata-kata ‘nanti ah’ yang bukan hanya sekali-dua kali saya ucapkan sendiri.

Sampai tibalah hari batas pengumpulan tulisan, yang adalah hari ini. Itu pun saya ingat (dan tahu) setelah salah seorang mahasiswa bimbingan skripsi, yang kebetulan sudah lebih dulu menyumbangkan tulisannya ke sini, mengingatkan. *Dosen macam apa ini??*

Urusan tunda-menunda macam ini rasanya bukan saya seorang yang mengalaminya. ‘Kebiasaan’ ini sudah sangat akrab dan mendarah-daging dalam diri saya sejak masih menjalani perkuliahan, atau bahkan bertahun-tahun sebelumnya.

Prokrastinasi, begitu bahasa ilmiahnya.

Prokrastinasi kemudian menjadi salah satu obyek yang dipelajari semasa kuliah, dan membuat saya merasa seperti menguliti diri sendiri atas kelemahan yang satu itu. Seperti memaksa saya untuk membuka topeng dan mengakui bahwa saya punya kelemahan itu. Membuat saya terpaksa menyadari alasan teman-teman sekelompok yang kesal karena saya selalu menjadi orang terakhir yang mengumpulkan tugas kelompok yang menjadi tanggung jawab saya. Termasuk membuat pembimbing skripsi saya mengeluarkan ultimatum bahwa beliau tidak lagi bersedia membimbing jika dalam satu semester itu saya tidak juga berhasil menuntaskan skripsi.

Sekadar informasi, saya menjalani perkuliahan selama lima-setengah tahun, dan separuhnya digunakan hanya untuk skripsi *Ini bukan pengalaman untuk dicontoh ya, dedek-dedek mahasiswa* =D

Menyesal?
Tidak.

Saya justru mensyukuri kelemahan yang satu itu, sekaligus mensyukuri keberadaan saya di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, yang memungkinkan saya untuk mati-matian belajar cara mengatasi kecenderungan prokrastinasi itu. Seperti halnya saya terpaksa jungkir-balik mengatasi banyak kekurangan yang lain selama menjalani perkuliahan di sini.

Saya belajar bersahabat dengan jadual, mengakomodir kebutuhan teman-teman sekelompok, menyusun segala prioritas dalam hidup (baik yang berkaitan dengan perkuliahan maupun hura-hura), mengungkapkan apa yang saya inginkan tanpa menyakiti perasaan teman-teman, berdiskusi dengan para dosen, dan entah berapa banyak hal lain yang (terpaksa) dipelajari selama berada di fakultas ini. Semua ini tidak pernah diajarkan dalam perkuliahan, tidak ada dalam Satuan Acara Perkuliahan, dan tidak ada keharusan bagi siapapun untuk melakukannya.

Lantas jika ditanya mengapa semua itu saya lakukan, menjadi sangat sulit untuk mencari jawabannya, bahkan sampai sekarang.

Jawaban yang paling (mendekati) masuk akal adalah, bahwa itu semua hanya persoalan, meminjam istilah Charles Darwin, survival of the fittest. Saya bisa saja tidak melakukannya, toh tidak ada yang memaksa. Akan tetapi, hanya dengan melakukan itu semualah saya bisa bertahan di fakultas ini hingga akhir. Di sisi lain, justru hal inilah yang pada akhirnya membuat saya banyak sekali belajar.

Mengulang pertanyaan tadi, apakah saya menyesal?

Jawabannya masih sama. Tidak.

Saya bisa sangat bangga menyandang gelar sebagai alumni Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, karena itulah yang membuat saya seperti saat ini. Bahkan setelah lulus dan melanjutkan pendidikan profesi psikologi di universitas lain pun, dari sekian banyak pilihan tempat bekerja yang ada, yang saya pilih tak lain tak bukan adalah Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Buat saya, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya adalah tempat untuk belajar. Dari sudut pandang egoistik, masih sangat banyak hal yang ingin saya pelajari. Sementara dari sudut pandang yang less egoistic, saya berharap bisa menjadi bagian dalam proses belajar yang dialami para mahasiswa, setelah tahun kedua puluh ini. Mudah-mudahan juga dua puluh-dua puluh tahun berikutnya.

Selamat ulang tahun.

PS: Iya, judulnya ‘kan sudah jelas: ‘Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya’. Tapi apa yang ditemui di dalamnya lah yang jauh lebih berarti. ;D

*) Penulis adalah alumni FP UAJ angkatan 2000, menjadi staf pengajar FP UAJ sejak 2010