Oleh: INEZ KRISTANTI*

Motivasi saya masuk ke Fakultas Psikologi tidak terlalu mulia. Banyak orang yang masuk Fakultas Psikologi karena sering jadi tempat curhatan teman-temannya, sementara saya malah jarang dicurhatin teman. Banyak orang yang tertarik belajar di Psikologi karena suka berinteraksi dengan orang lain, saya malah terkadang enggan dan malu berinteraksi dengan orang baru. Motivasi awal saya masuk ke Fakultas Psikologi adalah untuk membuktikan ke orangtua kalau mereka tidak bisa mengatur hidup saya sepenuhnya. Bahwa saya mempunyai suara dalam menentukan masa depan saya. Mereka mau saya jadi dokter, sementara saya tidak mau. Mereka memaksa, saya pun sadar. Saya harus mencari cara supaya mereka berhenti memaksa. Akhirnya, saya bilang kepada mereka bahwa saya mau masuk Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Kenapa Atma Jaya? Banyak orang yang bilang bagus, sih. Kenapa Fakultas Psikologi? Jujur saya tidak tahu alasan pastinya mengapa dulu bilang mau masuk Fakultas Psikologi. Ya, memang dulu saya sudah sempat mendengar tentang Fakultas Psikologi dan sepertinya materi pembelajarannya cukup menarik. Dan.. ya, alasan yang cukup klise juga merupakan salah satu pendorong mengapa saya bilang mau masuk Psikologi, yaitu karena saya mau tahu lebih banyak tentang diri saya sendiri.

Akan tetapi, yang jelas adalah semangat dan ekspektasi saya saat memulai kuliah di Psikologi mungkin tidak setinggi teman-teman lainnya. Excited? Mungkin ya, tapi tidak terlalu. Minggu demi minggu saya lewati sebagai mahasiswa baru, dan sampai beberapa bulan, saya belum benar-benar bisa fit in dan merasa nyaman dengan lingkungan saya yang baru. Saya ingat beberapa kali bertanya dalam hati, “Mungkin tidak, ya, saya akan bisa benar-benar merasa nyaman di sini?”

Saya tidak ingat kapan persisnya terjadi titik perubahan itu. Akan tetapi pada satu waktu, saya mengingat kembali pertanyaan yang dulu dan menemukan bahwa saya sudah benar-benar merasa nyaman di tempat baru ini. Hal ini cukup membuat saya kaget. Terlebih lagi, saya juga menyadari kalau “rumah” baru ini sudah membuat beberapa perubahan dalam hidup saya. Ia membuat saya menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Pelajaran di kelas,  bimbingan dari dosen, serta diskusi dengan teman dan senior membuat saya belajar menjadi orang yang lebih kritis. Selama SMA, saya belajar melihat secara hitam dan putih. Akan tetapi, di sini saya belajar kalau dunia tidak sesederhana itu. Selain itu, interaksi dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda-beda membuat saya menjadi lebih menghargai perbedaan. Saya yang berasal dari SMA yang homogen menjadi tahu artinya perbedaan dan artinya menempatkan diri di posisi orang lain, walaupun terkadang masih gagal melakukannya.

Iklim di FP UAJ pun membuat saya menjadi orang yang berani membuka diri terhadap kesempatan yang ada, bukan malah menghindarinya seperti yang dulu sering saya lakukan dan bermain-main dengan nyamannya di dalam comfort zone saya. Salah satu bentuk usaha saya dalam membuka diri terhadap kesempatan adalah pada saat mengikuti pemilihan Mawapres 2012 kemarin. Saya tahu, kalau berhasil lolos ke final, saya harus berbicara di depan orang banyak–sesuatu yang sangat tidak saya sukai–dan jawaban saya akan dinilai oleh banyak orang; bukan hanya juri, tetapi juga orang yang menonton. Akan tetapi, saya berhasil meyakinkan diri sendiri bahwa saya tidak cukup bodoh untuk melewatkan kesempatan belajar ini.

Akhirnya, walaupun membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, saya tahu bahwa saya berada di tempat yang tepat. Keyakinan itu berkembang seiring dengan proses demi proses saya lalui. Lama kelamaan, saya semakin mencintai Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya dan darinya saya ingin belajar lebih dan lebih banyak lagi. Terlebih dari itu, di hari jadinya yang ke-20 ini, saya berharap bisa berkontribusi lebih dan lebih banyak lagi untuknya.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2010 sekaligus finalis Mawapres tahun 2012