oleh: ANASTASIA SATRIYO*

Seperti kebanyakan anak-anak golongan menengah lainnya, saya berpikir betapa menyenangkannya seandainya bisa melanjutkan kuliah di luar negeri dan segera meninggalkan negara yang penuh kebobrokan ini.

Selain karena keterbatasan dana, ibu saya bersikeras agar saya melanjutkan pendidikan S1 di Indonesia terlebih dahulu. Saya tak habis pikir, apa sih bedanya pergi kuliah ke luar negeri  antara umur 18 dan 22 tahun?  Apa sih bedanya meninggalkan Indonesia langsung selepas SMA atau menunggu sehabis lulus S1?

Ternyata… beda!

Selama hampir empat tahun berkuliah di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, tabir pemahaman dan keterpaparan saya dengan isu-isu khas di Indonesia semakin terkuak. Betapa saya semakin menyadari ketika mempelajari psikologi, kita tidak dapat melepaskan diri dari manusia dan masyarakat Indonesia yang menjadi konteksnya.

Pelajaran mahal dan terpenting selama berkuliah di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya adalah mempelajari dan memahami konteks. Konteks inilah yang membuat pemahaman akan pluralisme dan kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi begitu penting untuk dipelajari. Ini juga alasannya mengapa di perkuliahan psikologi, kita juga mempelajari sosiologi dan antropologi, tidak semata mempelajari manusia secara biologis maupun bagaimana membuat dan mengadministrasikan alat tes.

Konteks ini membuat pengalaman-pengalaman saya bersinggungan dengan isu identitas, minoritas dan penerimaan diri menjadi terkuak lagi dan muncul ke permukaan. Konteks ini membuat potret Indonesia yang saya peroleh dari membaca koran atau jalan-jalan meskipun masih terbatas di lingkup pulau Jawa dan Bali menjadi nyata membayang-bayangi saya. Konteks ini pula yang membuat saya galau ketika harus memilih peminatan di Semester 6 antara peminatan Klinis atau Sosial.

Konteks ini  muncul dalam film dokumenter yang bercerita tentang seorang ibu dengan lima anak yang pada siang hari berprofesi sebagai pemecah batu dan pada malam hari menjadi PSK di kuburan Cina daerah Malang, Jawa Timur, dengan bayaran sepuluh ribu rupiah. Lalu muncul pertanyaan dari teman saya yang nonpsikologi, “Apa yang bisa dilakukan Psikologi atau psikolog untuk masalah ini?”

Pertanyaan ini membuat saya terhenyak.

Mengenal psikologi, membantu saya semakin mengenal diri saya dan Indonesia tempat saya lahir dan bertumbuhkembang. Namun, menyisakan pertanyaan “Apa yang bisa dilakukan psikologi untuk menghadapi persoalan di Indonesia?”

Meskipun saya belum bisa menjawabnya sekarang, paling tidak pilihan berkuliah di Indonesia selepas SMA membuat saya menyadari di mana selama ini saya tinggal dan apa artinya menjadi orang Indonesia.“Kamu harus tahu bagaimana cara bangsa kamu berpikir”, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Ibu Nani Nurrachman.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008