oleh: YESAYA RAYMOND PHANG*

Ah, saya tidak pernah pandai dalam hal menulis, membuat cerita, atau semacamnya. Untuk membuat kesan pesan ini pun terasa cukup berat pada awalnya. Sampai akhirnya, seorang teman, Sylvia Suryaganda, memberikan sebuah pesan pendek di pagi hari untuk ikut menyumbangkan tulisan di sini.

Masuk ke Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya adalah pilihan saya sendiri. Tidak didorong oleh orang tua, keluarga, maupun teman-teman. Saya masih ingat bagaimana raut wajah mama ketika saya mengatakan hendak masuk psikologi. Anak pertama dari dua bersaudara, yang adiknya perempuan, calon tulang punggung keluarga, kenapa mau masuk ke sebuah fakultas yang masa depannya entah mau berbuat apa? Mengapa masuk fakultas yang tidak disegani orang pada umumnya?

“Kenapa enggak teknik aja, atau ekonomi, atau IT gitu?” tanya mama. Saya cuma bisa menjawab, “Ma, ini pilihan hidup aku.”

Terasa sangat keren bisa menjawab pertanyaan mama dengan jawaban seperti itu. Sangat meyakinkan, layaknya laki-laki yang tahu masa depannya mau dibawa ke mana, dan menggunakan masa depan itu untuk membiayai hidup orang tua di masa nanti. Sayangnya, saat itu, saya hanya bermodal omongan meyakinkan tanpa punya gambaran masa depan.

Akhirnya, saya masuk juga ke Fakultas Psikologi. Belum setahun berakhir, saya sudah ngos-ngosan diserang rentetan tugas. Setidaknya, IPK saya di dua semester awal kemarin cukup menjadi bukti bagi mama bahwa saya tidak salah masuk jurusan.

“Oke, mama sudah tidak lagi ragu, baguslah!” pikir saya dalam hati. Namun, ombak keraguan belum juga berakhir. Saya sangat ingat ketika pada suatu hari, saya pergi ke pesta pernikahan seorang saudara. Di sana muncul seorang ibu yang ternyata teman mama. Oke, pertanyaan tentang jurusan kuliah akan segera muncul. Saya tidak dapat menutup mata pada fakta bahwa psikologi masih sangat dipandang sebelah mata oleh banyak orang di Indonesia, tidak terkecuali ibu itu. Pertanyaan pertama diajukan kepada adik saya. Yah, adik saya memang kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. Hujan pujian pun segera datang dan menggelora, membuat adik dan ibu saya tersenyum.

“Mati, sekarang giliran gue,” batin saya.

Ibu itu tersenyum kepada saya dan pertanyaan pamungkas itu pun muncul, “Kalo kamu kuliah di mana, Lung (Alung adalah panggilan saya di rumah)?”

Saya menelan ludah dan menjawab kalau saya kuliah di Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Harapan saya, nama Atma Jaya dapat menutupi kurangnya gengsi Fakultas Psikologi. Namun, strategi itu gagal. Mukanya mengernyit dan langsung berkata, “Ya, ampun Lung. Mau jadi apa kamu?” di depan mama saya. Wow, tanpa tahu apapun, ibu itu langsung memberikan ketukan palu penghakiman pada masa depan saya. Selepas ibu itu pergi, saya cuma bisa curhat ke mama, dan bilang kenapa psikologi masih dicap jelek oleh orang-orang. Semenjak itu, api di dalam hati semakin menggelora untuk membuktikan kalau kuliah di psikologi juga punya masa depan.

Agar bisa memberikan masa depan yang baik, saya tahu tidak mungkin hanya mengerjakan tugas dan fokus mengejar nilai baik. Ada banyak kegiatan, baik organisasi, maupun individu, serta hubungan dengan orang lain yang perlu dikejar dan dibina. Saya mengejar banyak pengalaman. Hampir semua kesempatan yang ada, saya ambil. Saya mengejar yang terbaik, dan yang terbaiklah yang akan saya berikan.

Sampai saat ini, saya sangat puas dengan banyak dari capaian yang saya peroleh. Saya pikir, dengan semua nilai baik dan hasil kerja bagus yang saya lakukan dan ceritakan kepada orang tua, keraguan itu pun akhirnya sirna. Hanya saja, keraguan itu tidak menghilang. Saya terlalu fokus pada keraguan yang berasal dari luar, sehingga melupakan satu aspek di dalam diri yang memberikan refleksi keraguan. Ya, sebenarnya saya sendiri pun ragu akan masa depan diri sendiri. Apakah dengan semua hasil baik ini, saya dapat meraih masa depan cemerlang? Jawaban buruk muncul di beberapa mata kuliah yang dosennya sangat merendahkan masa depan dari lulusan psikologi. Kalau mau kerja yang uangnya banyak di Indonesia, ya jangan kuliah di sini.

“Oke, lu baru bilang sekarang,” pikir saya sedih.

Keraguan di dalam diri adalah lawan sejati dari rasa cinta saya terhadap ilmu ini. Psikologi membangkitkan banyak bagian diri saya dari dormant stage-nya. Saya mulai dapat lebih mengenal diri. Dibantu dengan banyak konsep psikologi, saya dapat memberikan “nama” pada bagian-bagian dari diri saya (bukan berarti saya mengidap schizophrenia ya.. :p). Psikologi juga membuka mata saya akan kehidupan sosial dan bagaimana saya dapat membantu orang lain.

Dan di Psikologi ini pula, saya mendapat teman-teman baru. Saya ingat, bagaimana ketika pertama kali saya masuk psikologi, saya katakan kepada mama kalau teman-teman di Psikologi adalah orang-orang yang berkualitas. Dengan bangga, saat ini saya katakan bahwa opini saya terhadap mereka tidaklah berubah. Sudah berjam-jam saya habiskan di dalam obrolan berkualitas dan berbobot (uh, sungguh time-killer yang sangat konstruktif).

Akhir kata, psikologi, walau kadang rasa ragu masih menyelimuti diri dan harapan masa depan masih diselimuti kabut pekat, aku yakin masa depan pasti cemerlang di balik kabut itu. Karena ada Tuhan, dosen, dekanat, dan teman-teman yang sangat membantu dalam menjalani proses kehidupan ini.

Selamat ulang tahun ke-20, FP UAJ.

Di masa depan, kau tidak akan lagi membuatku merasa ragu. Pasti.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2010