oleh: HERIBERTUS PURWANTO*

Fakultas Psikologi adalah fakultas termuda ketika saya masuk menjadi karyawan pada tahun 1992. Pada awal masuk Fakultas Psikologi saya dipanggil menghadap Ibu Widyarto, beliau mengajukan syarat untuk bekerja di Fakultas Psikologi dan bekerjasama dengan beliau. Berikut percakapan saya dan beliau kala itu:

Pur kowe mantep tenan pingin kerjo karo aku (Pur, kamu mantap benar-benar ingin bekerja dengan saya)?”

Saya menjawab “Nggih bu, kulo pingin kerjo (ya bu, saya ingin kerja)”.

Beliau melanjutkan“Nek kowe arep kerjo karo aku, kowe kudu rajin, jujur, opo kiro-kiro kowe sagoh (kalau kamu mau kerja sama aku, kamu harus rajin dan jujur, apakah kamu sanggup)?”

Panjang lebar beliau memberikan nasihat kepada saya yang intinya beliau meminta kepada saya supaya berlaku jujur dan rajin dalam bekerja. Beliau melakukan itu sambil menunjuk barang-barang di meja kerjanya yang antara lain uang yang bertebaran. Bagi saya itu bukan suatu syarat tetapi itu laku yang harus dipegang teguh karena ajaran ini juga didapat dari nenek saya. Saya seketika itu ingat ajaran nenek, “ojo colong jupuk, ojo adigung adiguno, ngrumangsanono dadi wong cilik”, terjemahannya kurang lebih begini, jadi orang jangan suka mencuri, jangan tinggi hati, dan jangan besar kepala. Artinya disuruh merendah dan hormat kepada yang tua.

Sampai kapanpun, bagi saya kepercayaan itu adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau sudah menaruh kepercayaan kepada saya, oleh karena itu saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu. Ibu Widyarto seorang pemimpin yang dapat ngemong, yang menjalankan “Ing Ngarso Sun Tulodo Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani”, seorang pemimpin yang tegas dan disiplin, juga ramah terhadap bawahannya, termasuk staf sekretariat.

Tahun pertama, angkatan pertama Fakultas Psikologi hanya menerima satu kelas. Ya…. walaupun ketika itu masih baru, tetapi peminatnya sungguh luar biasa. Walau peminatnya sangat tinggi, tetapi karena staf pengajar Fakultas Psikologi kala itu baru mempunyai beberapa dosen saja, antara lain Ibu Yosephin Dwi Eka, Ibu Ambrosia Tirta Shanti dan Ibu Widyarto merangkap sebagai Pembantu Dekan I dan II, dengan dibantu oleh dosen honorer seperti Ibu Ilsiana, Ibu Ediasri Toto Atmodarminto yang akrab dipanggil Ibu Aci, Ibu Jennete (almarhum), Ibu Rosmini, dan Ibu Bonang yang semuanya ini adalah dosen Univrsitas Indonesia.

Pimpinan Fakultas Psikologi waktu itu sebagai Dekan adalah Prof. Dr. Sudirgo Wibowo, Pembantu Dekan I merangkap Pembantu Dekan II adalah Ibu Dra. M.B. Widyarto, M.Sc., Pembantu Dekan III dijabat oleh Ibu Yosephin dan sebagai pimpinan sekretariat adalah Bapak Ignatius Wiyono yang membawahi dua karyawan yaitu Bapak Aloysius Bambang Susilo dan saya, Heribertus Purwanto.

Jalinan kerjasama antara dosen, mahasiswa, dan sekretariat sungguh terasa dekat saat itu. Salah satu pendorong erat dan akrabnya hubungan antara sekretariat dan mahasiswa kala itu adalah Nicolas Indra Nurpatria, selaku ketua senat mahasiswa Fakultas Psikologi yang pertama. Tidak hanya antara mahasiswa dan sekretariat, dengan pimpinan pun suasana sangat-sangat menyatu dan harmonis, bahkan seakan tidak mengenal bawahan dan pimpinan.

Perhatian Ibu Widyarto sebagai pempinan kepada saya melebihi kasihnya orangtua, ketika saya kurang sehatpun beliau tahu dan menegurnya “awakmu kok mungur-munggur, Pur ?” sambil menempelkan tangannya ke dahi, beliau berkata “wadoh lha awakmu kok panas, wis kono berobat, wis muleh wae, sesok nek jih panas wis rasah mlebu wae istirahat, ben diurusi Bambang kuliahe”, kurang lebih begini terjemahannya, “Aduh kok badanmu panas, sana berobat dulu langsung pulang, besok tidak usah masuk, istirahat saja. Kuliahnya biar diurusi Bambang”.

Bahkan perhatian beliau tidak hanya terbatas kepada saya. Beliau juga sangat perhatian terhadap keadaan keluarga saya. Suatu saat saya bercerita tentang keadaan anak saya mengenai benjolan yang timbul ketika anak saya menangis. Ketika akhirnya dioperasi, saya diberi ijin untuk menungguinya. Masih teringat ibu Wid memarahi saya karena saking khawatirnya, ketika sudah waktunya pulang dari rumah sakit, saya diberi uang transpor untuk naik taksi, tetapi saya malah naik bus AC. Ketika keesokan harinya saya masuk kerja, saya bermaksud mengembalikan uang sisa, kata beliau, “lha kok turae akeh (lha sisa uangnya kok banyak)?” Saya menjawab iya bu kulo numpak bis (iya bu saya naik bis)” Mendengar itu ibu Wid pun marah, “Kon naik taksi kok malah naik bis, jaitannya anakmu kui masih baru mengko nek dedel kepiye (disuruh naik taksi kok malah naik bis, jaitannya kan masih baru nanti kalau robek bagaimana)?”

Begitulah kira-kira. Ibu Wid tidak menerima uang kembalian malah diberikan kepada saya untuk kontrol (periksa) kesembuhan anak saya. Betapa besar perhatian beliau kepada saya, bukan marah tanpa alasan tetapi beliau mengkhawatirkan keadaan anak saya.

Terima kasih Psikologi, terima kasih Ibu, namamu akan selalu ada di dalam doaku.

*) Penulis adalah staf sekretariat FP UAJ sejak 1992