Oleh: YOHANA RATRIN HESTYANTI*

Menjadi dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya bukanlah hal yang pernah saya pikirkan ketika pertama kali saya memutuskan memilih Fakultas Psikologi sebagai jurusan yang akan saya ambil setelah lulus dari SMAN I Surakarta. Ketika itu saya kelas 2 SMA, dan cita-cita saya adalah menjadi biarawati yang psikolog (hihihi), lalu nanti membantu Romo Mangun mendampingi masyarakat di bantaran Kali Code Yogyakarta

Selama kuliah di Fakultas Psikologi UGM, banyak hal yang terjadi, namun pengalaman pendampingan di Kali Code, mendampingi anak-anak jalanan perempuan di Yogya, dan berbagai pengalaman dan gemblengan yang saya dapatkan selama masa kuliah, meneguhkan saya untuk memilih pekerjaan di mana saya bisa menjadi agen perubahan untuk masyarakat, sekecil apa pun peran yang akan saya bawakan. Maka, pilihan ideal yang saya bayangkan untuk bekerja hanyalah tiga profesi: menjadi dosen, jurnalis, atau aktivis LSM kemanusiaan.

Mei  1998, saya ke Jakarta dan bekerja di sebuah LSM kemanusiaan yang ikut memasok logistik ke gedung MPR DPR di hari-hari menjelang lengsernya alm. Pak Harto. Posisi saya belum sepenuhnya mantap di sana, karena ternyata gerakan hati cukup besar untuk menjadi dosen. Entah mengapa, ada keinginan besar menjadi dosen di Unika Atma Jaya. Mau tahu kenapa? Karena suatu ketika, di saat saya berdoa memohon tuntunan mengenai langkah terbaik ke depan, saya ‘melihat’ ada sinar putih bak awan yang memancar dari atas langit menuju Unika Atma Jaya.  Seperti ada Roh yang bersih dan membuat saya merasa sangat nyaman. Saya merasa seperti dituntun dan diberi jalan untuk ke sana.

Menjadi dosen di Unika Atma  Jaya sejak 1 Februari 1999, banyak tekad dan semangat yang saya bawa, antara lain untuk menularkan kepedulian terhadap persoalan sosial dan mendorong supaya dunia pendidikan tidak hanya menjadi ‘menara gading’. Salah satu kepuasan batin saya adalah ketika bersama dengan sejumlah mahasiswa membentuk kelompok PENA (Pendampingan Anak) dan semakin bangga melihat banyak lulusannya yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Terus terang, di tujuh tahun pertama kehidupan saya di FP Unika Atma Jaya, saya berulang kali merasakan kegembiraan menjadi bagian dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Sering saya berpikir, saya ini mengerjakan hobi saya tapi digaji J. Saya senang berinteraksi dan saling belajar dengan mahasiswa, saya senang mengintegrasikan berbagai hal yang saya pelajari dan saya ajarkan dengan konteks permasalahan riil di masyarakat. Di Fakultas Psikologi, saya didukung untuk mengembangkan berbagai kompetensi di bidang yang benar-benar saya inginkan.

Relasi dengan sesama dosen dan pimpinan juga sangat menyenangkan dan saling mendukung. Pada jaman itu, kami bisa saling terbuka membahas berbagai persoalan yang ada. Aspirasi inovatif, saling memberi masukan, bahkan kritikan-kritikan pedas tak jarang bermunculan. Namun hal itu tetap tidak menjadi masalah karena ada bangunan pertemanan yang kuat, kepercayaan, dan rasa aman ketika melakukannya. Yah tentu ada masalah-masalah kecil, yang biasanya bisa resolve karena ada rasa saling memahami. Tapi yang cukup kuat terlihat adalah rasa keterikatan yang kuat akan organisasi, di mana di dalamnya ada relasi hangat antar sesama rekan, pimpinan, dan mahasiswa.

Salah satu pengalaman tak terlupakan adalah ketika saya menjadi Kepala Bagian Sosial merangkap Pudek 3 (waktu itu istilahnya masih belum Wadek), saya ‘disidang’ oleh para anak buah saya dari bagian sosial yang terdiri dari Ibu Nani Nurachman, Ibu Juliana Murniati, Eric Santosa, dan Raymond Tambunan hahahahaha….. keren kan!!!! Pengalaman yang tidak bakal saya lupakan sepanjang hayat J tapi yang menarik adalah dari pertemuan tersebut, semakin terasa ‘ikatan’ yang membuat kami saling memahami dan bisa menjalin relasi yang dekat.

Waktu terus berjalan, dan memang banyak perubahan terjadi. Saya studi lanjut sehingga lama tidak menjadi bagian aktif dari hiruk pikuk Fakultas.  Memang terasa, Fakultas berkembang semakin besar, banyak tambahan anggota baru, terjadi perubahan kurikulum yang secara signifikan menguras energi dan pikiran, dan ada perubahan mekanisme organisasi yang dirancang untuk menjadi semakin efisien. Terjadi berbagai perubahan kebijakan dan pimpinan di yayasan maupun universitas, ada beberapa perubahan karakteristik generasi muda yang menjadi mahasiswa, selain itu kondisi  masyarakat dan pemerintahan pun juga terus berubah. Disinyalir persoalan di masyarakat dan bangsa ini mengarah ke semakin memprihatinkanL.

Fakultas Psikologi DAN Unika Atma Jaya diharapkan mampu menempatkan diri secara arif dan strategis dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada, baik tantangan internal maupun eksternal, supaya bisa mengimbangi pesatnya berbagai perubahan dan kemajuan dari kondisi sekitarnya. Jangan menjadi katak dalam tempurung yang sibuk meloncat loncat dengan sekuat tenaga bahkan mungkin sampai berdarah-darah, tapi sebenarnya nggak ke mana-mana, atau mungkin sudah ditinggalkan oleh kawanannya.

Sangat dibutuhkan strategi kreatif inovatif dan keberanian untuk melakukan gebrakan secara bersama-sama. Tentu,  perlu juga diimbangi dengan semangat dan daya juang yang tak kenal putus asa. Hal lain yang tidak kalah penting adalah, tetap memanusiakan manusia dan menjaga hubungan penuh respek, serta memberikan penghargaan akan martabat manusia, karena menurut saya, tepat di situlah alasan mengapa masih ada embel-embel Ka di belakang kata Uni. Bukan hanya sebatas dipimpin oleh orangnya, namun lebih penting bagaimana spirit dan nilai-nilainya ditegakkan.

Selamat ulang tahun ke-20 Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta. Semoga di usia young adulthood identitas dirimu semakin jelas, posisimu semakin kokoh, langkahmu semakin strategis, dan semua bagian dari dirimu, termasuk alumnimu, semakin bisa memberikan manfaat sebaik-baiknya bagi bumi pertiwimu.

*) Penulis adalah staf pengajar FP UAJ sejak 2000, mantan Wakil Dekan 3 FP UAJ