oleh: REGINA MARIA*

Saya percaya takdir itu ada.

Sekuat apa pun kita berusaha membelokannya, takdir itu tetap pada jalannya.

Jujur saja, saya enggak ada rencana sedikit pun untuk masuk Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Kalau ada teman-teman saya dari SMP dan SMA yang tahu cita-cita saya mau jadi psikolog, percayalah pada saat saya mengatakannya, saya enggak niat-niat amat. Hanya saja menjadi psikolog adalah cita-cita yang enggak terlalu mainstream, berhubung saya enggak suka hal-hal yang ‘pasaran’. Padahal saya lebih suka matematika dibanding pelajaran hafalan karena ingatan saya kurang baik.

Kata ‘menjadi psikolog’ itu tercetus hanya dari obrolan ringan antara saya dan mama saya ketika saya SMP. Karena banyak teman saya yang suka curhat ke saya, jadilah mama saya mencetuskan, “Kamu jadi psikolog aja!”. Saat itu saya yang baru pertama kali mendengar profesi psikolog dan menganggap bukan profesi yang ‘umum’ dijadikan cita-cita oleh anak kecil, saya pun langsung mencantumkan psikolog di kolom cita-cita tanpa didasari keinginan sungguh-sungguh.

Lalu, kenapa bisa ada di fakultas psikologi sekarang? Takdir.

Terus terang, saya tidak peduli ketika Atma Jaya membuka pendaftaran Jalur Bebas Tes (JBT), apalagi tahun itu standard nilai untuk JBT dinaikkan menjadi 80. Saya makin malas saja. Tapi memang dasar saya ini orangnya spontan dan agak ‘latah’, maka ketika teman-teman saya sibuk ke sana-sini mengurus dokumen untuk JBT, saya pun akhirnya ikut-ikutan. Padahal saya saat itu sedang mempersiapkan untuk mengambil beasiswa ke Jepang atau masuk ke fakultas psikologi di universitas negeri.

Mungkin benar kata mama saya kalau saya ini orang yang paling senang dekat-dekat deadline. Saya baru mengurus berkas beberapa hari sebelum tanggal penutupan jalur JBT dan mengirimkannya sehari sebelum penutupan. Saya ingat saya sampai dimarahi oleh salah seorang staf tata usaha di sekolah saya karena harus membuat surat pengantar tambahan. Padahal semua siswa sekolah saya yang mengikuti jalur JBT sudah mengirimkan berkas dan surat pengantar secara kolektif. Masih untung staf tata usaha itu mau membuatkan surat pengantar lagi.

Saat itu, saya hanya berpikir akan menjadikan psikologi Atma Jaya sebagai cadangan. Tidak ada harapan yang muluk-muluk. Makanya pas hari pengumuman, saya tidak peduli. Malah teman saya yang memberitahu kalau saya lulus jalur JBT. Saya antara tidak percaya dan bingung, “Jadi saya diterima nih?

Sesudah itu, saya tidak lantas menjadikan psikologi Atma Jaya sebagai prioritas. Saya masih mengejar beasiswa ke Jepang yang sudah saya persiapkan dari kelas dua SMA. Apa daya, memang saya tidak diperbolehkan ke Jepang. Beberapa hari sebelum pengumuman, terjadilah bencana tsunami di Jepang yang juga mengganggu kestabilan reaktor nuklir. Orang tua saya tidak berani mengirim saya ke sana dalam keadaan seperti itu. Jadilah Jepang dicoret dari daftar tujuan kuliah saya.

Setelah kejadian itu, saya masih mencoba ikut jalur SNMPTN Undangan dengan jurusan psikologi di salah satu universitas negeri terkemuka. Lagi-lagi, saya tidak jodoh. Saya tidak diterima di universitas tersebut. Mungkin juga karena saya hanya mengisi satu pilihan saja. Dengan begitu, sisa dari daftar tujuan kuliah saya hanya satu; Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Kenapa enggak coba tes SNMPTN? Karena saya terlalu malas untuk ikut kursus lagi, belajar lagi setelah UAN selesai sehingga saya mempertaruhkan semuanya sampai di SNMPTN Undangan. Benar saja. Memang takdir saya masuk psikologi Atma Jaya.

Apakah saya menyesal? Tidak.

Saya kerap kali berpikir, kalau waktu itu saya enggak masuk Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, mungkin teman-teman saya tidak seperti ini. Mungkin saya enggak bisa punya dosen yang gokil-gokil tapi pinter banget. Mungkin saya enggak akan bisa berkembang seperti ini. Mungkin saya enggak bakal ‘mencicipi’ rasanya bergadang semalam suntuk karena ngerjain paper atau nongkrong enam jam di Plaza Semanggi demi sebuah paper, dan seribu kemungkinan lain.

Tapi ya sudahlah, yang terpenting adalah yang ada di hadapan saya dan sedang saya jalani. Saya senang dengan kehidupan saya dan saya merasa bersyukur sekali. Well, bagi saya psikologi Atma Jaya itu takdir saya. Selamat ulang tahun ke-20!

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2011