Oleh: ANASTASIA GOENAWAN*

Setelah membaca sekian banyak tulisan di blog Dua Puluh Psikologi, saya jadi tergerak ikut menulis walaupun tidak tahu harus menulis apa. Pengantar di blog sih tulisan boleh tentang apapun. Jadi, setelah dipikir-pikir, saya mau menulis tentang hal-hal yang saya dapat dengan menjadi mahasiswi di FP UAJ. Sebelumnya saya mau berterima kasih kepada Franky yang mendorong saya untuk membuka blog ini dan secara halus menyuruh saya ikut menulis di sini walaupun hanya punya waktu beberapa jam sebelum deadline berakhir. Baiklah, mari mulai.

Berawal dari pengetahuan dasar yang saya dapat di komunitas gereja saya mengenai psikologi, saya jadi tertarik dan terjerumus ke FP UAJ. Yap, terjerumus. Saya merasa ditipu. Saya tidak pernah menyangka saya akan bertemu kembali dengan yang namanya matematika (statistik) dan biologi (faal) saat saya masuk ke fakultas ini. Padahal saya sudah bela-belain memilih jurusan IPS saat SMA, untuk menghindari pelajaran biologi, ujung-ujungnya malah ketemu lagi di Fakultas Psikologi. Akan tetapi, itu semua belum seberapa. Saya yang tidak terlalu suka berkomunikasi dengan banyak orang baru dan terlalu cuek, harus menghadapi mata kuliah-mata kuliah yang mengharuskan saya mengobservasi dan mewawancarai orang lain serta terjun langsung ke lapangan. Apalagi saat saya tahu mengenai mata kuliah Konstruksi Tes Psikologi dan menjalani semua prosesnya. Saya benar-benar merasa tertipu!

Akan tetapi, saya tidak hanya merasa tertipu. Saya juga merasa bersyukur terjerumus di Psikologi. Saya belajar banyak hal dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Bukan dalam hal akademis sih, secara saya tidak terlalu suka belajar dan berorganisasi. Ada begitu banyak hal di luar bidang akademis yang saya dapatkan dengan menjadi mahasiswi FP UAJ. Sekian banyak hal tersebut saya kelompokkan menjadi dua kelompok besar.

Kelompok pertama yang menurut saya amat berharga dan patut disyukuri adalah teman-teman yang suportif. Tidak hanya sahabat-sahabat yang selalu membantu saya di bidang akademis dan nonakademis, teman-teman lain dari berbagai angkatan pun seringkali membantu dan mendukung saya jika saya membutuhkan bantuan mereka. Padahal kami tidak saling mengenal. Kalaupun kenal, ya hanya saling menyapa dan ngobrol singkat jika bertemu.

Kelompok kedua yang saya syukuri adalah dosen-dosen yang  friendly sampai-sampai beberapa dari mereka sering ngobrol, nongkrong, bercanda dan mention-mention-an di Facebook maupun Twitter dengan para mahasiswa. Dosen-dosen di Fakultas Psikologi juga tidak pelit dalam berbagi ilmu ke mahasiswanya.

Dari mereka saya belajar menjadi lebih terbuka pada perbedaan yang dimiliki manusia dan belajar menerima perbedaan itu. Dari mereka saya belajar untuk membuka pandangan saya terhadap dunia dan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Dari mereka belajar untuk menjadi lebih kritis dalam menghadapi masalah. Dari mereka saya belajar untuk memandang suatu masalah dari seribu sudut pandang berbeda. Dari mereka saya belajar untuk menghargai usaha orang lain, sekecil apapun itu.

Dari mereka saya menemukan enaknya berorganisasi dan bersosialisasi. Dari mereka saya menemukan kelebihan dan keunikan diri saya yang tidak saya sadari sebelumnya. Dari mereka saya belajar untuk lebih berani mengungkapkan pendapat, berekspresi dan berdiri di depan orang lain. Dari mereka saya belajar mengenai dunia yang sebelumnya tidak saya ketahui atau bahkan saya remehkan. Dari mereka saya belajar untuk tidak men-judge orang lain sebelum mengenal orang-orang tersebut lebih dalam. Jika diteruskan, akan ada seribu hal baru yang saya perlajari dari para dosen dan teman-teman di Fakultas Psikologi.

Tidak hanya itu, pelajaran-pelajaran di Fakultas Psikologi juga membantu saya berkembang tanpa saya sadari. Jika diingat-ingat, sejak masuk ke Fakultas Psikologi dan mempelajari semua mata kuliah wajibnya, saya memiliki banyak hal yang bisa saya terapkan dalam hidup saya sehari-hari. Saya memiliki banyak hal untuk dibagikan pada orang lain. Saya jadi lebih peka terhadap situasi di sekitar saya. Saya jadi lebih berhati-hati dengan cara saya menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Saya jadi lebih bisa mendengar dan berempati pada orang lain. Saya menjadi lebih memperhatikan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan penggunaan kata saat saya menulis. Semua hal tersebut tidak akan pernah saya sadari jika orang lain tidak mengatakan penilaian mereka terhadap saya.

Oleh karena itu, saya sungguh tidak merasa menyesal menghabiskan waktu empat tahun (yang mungkin saja bisa lebih) di Fakultas Psikologi. Terima kasih, Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya! Tetap semangat dalam menghasilkan manusia-manusia berprestasi dan unik untuk memajukan bangsa! =)

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya  angkatan 2008