Oleh: YOHAN CHAIRURREZA PUTRA*

Awal masuk ke kampus FP Unika Atma Jaya, saya hanya berpikir bahwa belajar psikologi artinya belajar tentang manusia. Kira-kira akan belajar apa ya? Hmm.. Pada waktu itu saya adalah orang yang tidak memiliki rencana hidup haha kuliah di mana, minat di fakultas apa aja saya ga tau. Awalnya, saya mau ambil fakultas hubungan internasional di universitas negeri di Jakarta atau Bandung. Alasan saya mau ambil fakultas itu pun sampe sekarang saya ga ngerti kenapa. Akhirnya nyokap marah karena saya ga keliatan punya minat buat kuliah. Di saat teman-teman saya udah mulai nyari tempat kuliah, saya masih santai aja tuh main ke sana-kesini dan ya saking kesalnya mungkin nyokap akhirnya memberikan saya pilihan untuk berkuliah atau ambil sekolah sepakbola. Pilihan yang sulit ya? Hmm setelah saya pikir-pikir akhirnya saya mengambil pilihan untuk berkuliah saja. Kenapa?

Bukannya saya tidak yakin dengan kemampuan bermain bola saya dan ga mampu mencari nafkah dengan bermain bola. Saya mikir waktu itu badan saya ga mendukung hahaha.. Ya main bola juga bisa diasah sambil kuliah kok ya.. Ya sudah akhirnya saya diminta untuk memilih universitas swasta di Jakarta karena akan sulit buat saya hanya mengandalkan universitas negeri. Pilihan saya awalnya Atma Jaya atau salah satu universitas di daerah Kebun Jeruk. Akan tetapi, saya berpikir tidak akan betah bersosialisasi di universitas yang satu itu, karena saya akan menjadi kaum minoritas di sana. Akhirnya saya memilih Unika Atma Jaya.

Saya datang ke Unika Atma Jaya dan memilih fakultas yang terbaik di kampus ini bahkan di Indonesia, yaitu Fakultas Psikologi. Pilihan saya waktu itu ada dua, fakultas psikologi dan fakultas hukum. Kenapa dua? Kenapa hukum? Karena, saya punya teman di fakultas hukum. Ya, saya tahu bahwa itu adalah alasan ‘sampah’ untuk menentukan masa depan haha.. Kenapa saya memilih dua fakultas? Karena saya ga tau apa minat saya sebenarnya. Saya menjalani tes masuk tanpa belajar sama sekali. Hmm pemalas memang. Akhirnya saya diterima di FP Unika Atma Jaya dengan grade C haha.. Hasil yang pantas karena dilakukan tanpa usaha.

Hari-hari pertama saya seperti mimpi buruk. Saya memandang FP Unika Atma Jaya sebagai tempat yang salah untuk saya. Saya berpikir sama saja dengan universitas yang lain yang tadinya sempat masuk dalam pilihan saya. Saya akan sulit bersosialisasi di sini sebagai kaum minoritas. Saya merasa salah telah memilih kuliah bukan bermain sepakbola. hmm… Dua atau tiga semester pertama saya bahkan berpikir  tidak mendapat apa-apa di fakultas ini. Saya merasa benar-benar salah memilih fakultas ini, karena tidak mengerti hal-hal yang dipelajari di tempat ini. Saya hanya berteman dengan beberapa orang yang di antara begitu banyak anak FP Unika Atma Jaya. Ya hanya beberapa, mungkin seperlima dari jumlah mahasiswanya.  Hanya itu yang saya rasa cocok dengan diri saya.

Selepas dari semester tiga, banyak hal mulai berubah. Entah mengapa saya mulai nyaman di sini. Rasanya tempat ini sudah seperti rumah kedua buat saya. Saya mencoba lebih membuka diri terhadap orang-orang lain yang saya anggap tadinya tidak cocok dengan saya. Saya mulai menikmati mengerjakan tugas sampai tidak tidur, padahal selama semester-semester lalu saya tidak pernah mengerjakan apa-apa. Hmm.. Mungkin saya memang membutuhkan waktu beradaptasi yang cukup lama.  Satu hal yang pasti, sekarang saya menikmati setiap hari yang saya jalani dengan waktu tidur yang selalu kurang. Saya mengenal banyak orang, proses berpikir saya mulai berubah, saya diberikan kesempatan untuk berkembang, menjadi salah satu anggota HIMAPSI. Satu hal yang juga tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Ya, saya sekarang tidak lagi menyesal dengan pilihan saya ini, saya yakin pilihan saya ini akan membawa saya menjadi orang yang lebih baik, dan berguna di hari depan dengan memiliki tujuan hidup yang jelas!

Terimakasih FP Unika Atma Jaya, this is the right choice! Selamat ulang tahun!

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan  2009