Oleh: TIFFANY EASTERIA*

Perasaan tergerak untuk menulis buat ulangtahun keduapuluh Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya ini, berawal dari melihat tweet salah seorang teman saya, Anastasia Nielin Petronela Assa, yang sibuk mengomentari beberapa buah tulisan di blog tulisan duapuluhtahunpsikologi. Saya akhirnya membuka blog tersebut dan membaca beberapa tulisan, yang akhirnya membuat saya ‘tergerak’ untuk menulis. Saya menulis di mobil, dengan dikejar deadline yang dimundurkan sampai tanggal 28 Mei. Saya harus menulis untuk dunia ‘ungu’ yang saya cintai.

Saya harus menulis apa ya? Saya bingung. Apakah saya sekadar ikut-ikutan? Tidak. Saya benar-benar ingin menulis untuk Fakultas Psikologi yang sudah mengajarkan saya banyak hal di satu tahun terakhir. Sekaligus, lewat tulisan ini, saya ingin ‘membuka mata’ orang-orang yang masih memandang Fakultas Psikologi sebagai fakultas ‘sok sibuk’, eksklusif, berisi timbunan tugas dan deadline di mana-dimana.

Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya bukanlah pilihan utama saya. Saya dulu ingin masuk Fakultas Kedokteran UI, titik. Keinginan tersebut yang membuat saya menghabiskan masa tiga tahun di SMA mengikuti Bimbingan Belajar dengan tawaran janji-janji palsu untuk PTN (saya bicara seperti ini karena akhirnya saya tidak diterima). Mengikuti program Bimbingan Belajar membuat saya melewatkan keceriaan masa akhir SMA dan beberapa kegiatan terakhir bersama teman-teman seangkatan saya. Boleh dibilang pada akhirnya, saya menelan pil kekecewaan karena gagal masuk jalur PTN. Pada saat itu, saya merasa tidak ada harapan lagi bagi saya untuk melanjutkan kuliah, karena saya tidak pernah terpikir untuk masuk universitas apapun selain universitas berjaket almamater kuning itu.

Ibu kemudian menawarkan kepada saya untuk masuk ke Atma Jaya. Komentar saya cuma satu dengan nada marah dan kesal, “APA-APAAN MASUK ATMA? ITU KAN BUANGAN BU! GAK MAUUUU!”. Saya masih ingat dengan jelas kemarahan yang meledak kala ditawari masuk Atma Jaya. Atma Jaya sudah terkenal sebagai universitas ‘buangan’ di sekolah saya, apabila tidak diterima di universitas manapun atau kalau mau kuliah santai, ya di Atma.  Saya juga waktu itu masih ngotot ingin masuk jurusan design karena saya pikir waktu itu, “Toh gue juga gak diterima di fakultas ‘serius’, ya udahlah ke fakultas yang ‘main-main’ aja”. Hingga terciptalah satu obrolan sengit antara saya dan Ibu saya.

Singkat cerita, akhirnya diputuskan saya boleh masuk jurusan  design itu, asalkan saya mengambil tes di Atma Jaya. Gelombang terakhir, di saat semua orang mengambil tes di Atma untuk cadangan karena sudah tidak diterima di mana-mana. Persis sesuai pikiran dan stereotype lingkungan sekolah saya dulu, Atma itu buangan. Cuma senyum sinis yang muncul saat saya datang ke Atma untuk menjalani serangkaian tes dan lain-lain. Saya mengerjakan asal-asalan, jujur, saya tidak ingin diterima. Toh ini hanya sebatas perjanjian. Saya cuma datang lalu tes. Sudah tidak ada harapan apa-apa mengenai Atma Jaya.

Satu minggu berlalu setelah tes itu berlangsung, saya pun masih tenang. Saya juga masih menunggu jawaban SIMAK UI waktu itu. Benar saja, saya (lagi-lagi) ditolak universitas impian sejuta umat itu. Saya memutuskan untuk membuka web Atma Jaya. Nama saya terpampang di antara 20 orang lainnya. Saya ingat sekali, nama saya di urutan ke 20. Saya diterima, akhirnya, di universitas yang saya sumpah serapahi dulu. Diterima oleh Fakultas Psikologi pula, yang saya ambil juga karena paling ‘top’ di antara fakultas lainnya. Setelah dirasuki oleh omongan dan hasutan ‘iblis’, saya pun memilih Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya dan melupakan mimpi masuk jurusan design impian saya itu. Sebagai anak sulung, dari keluarga broken-home, hidup dengan Ibu yang terlalu strict dan perfeksionis, mengharuskan saya memilih jurusan yang bisa menghidupi saya (dan keluarga saya nantinya).

Kesan pesan saya setelah kurang lebih dua semester ‘terbang-melayang’ di fakultas ini membuat sekitar 554 kata sebelum ini terasa tidak penting lagi. Rasanya seperti amnesia sesaat. Hidup sebagai zombie yang dikejar deadline tugas di tengah kurikulum Student-Centered Learning, kehidupan organisasi dan beberapa acara yang disodorkan fakultas ini membuat saya lupa diri. Saya sering dikomentari sok sibuk oleh teman-teman SMA yang sering mengeluh kalau saya sudah tidak ada waktu lagi untuk mereka. Saya awalnya merasa terusik kalau mereka bilang seperti itu, tetapi sekarang saya menanggapinya dengan senyuman. Andai kalian berada di dunia ungu kami, kalian tentu bisa melihat betapa indah pembelajaran yang kami semua rasakan. Sibuk, ya memang sibuk. Lelah, ya memang lelah. Akan tetapi pembelajaran di balik itu saya yakin akan membuat saya mendarat dengan mantap di akhir penerbangan saya ini. Fakultas Psikologi ini membuat saya bertahan di saat benar-benar tidak ada alasan lagi untuk bertahan. Walaupun angin nanti bertiup sangat keras di sini, hal itu membuat saya lebih kuat lagi nantinya. Maafkan kami yang sering mengeluh ya, tetapi kami percaya empat tahun (setidaknya) itu akan menjadi bekal kami.

Terimakasih, Dunia Ungu. Selamat ulang tahun. Panjang umur di Langit Jingga ini. Semoga tetap menghasilkan ‘pilot-pilot’ berkualitas.

Cinta kami untukmu tidak akan habis, seperti kata puitis yang terlihat terlalu gombal ini.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2011