oleh: MARTIN ANDREANUS*

Hmmm… bingung mulai dari mana, karena sebenarnya saya tidak suka menulis. Oleh sebab itu, saya minta maaf dari awal. Bila kalian mengharapkan tulisan yang indah, menarik, dan tidak membosankan… maka kalian tidak akan mendapatkannya di tulisan ini.

Saya tidak akan mulai dari cerita mengapa saya masuk psikologi, alasan saya memilih jurusan, dan lain-lain seperti yang sudah teman-teman paparkan. Saya akan bercerita mengenai pengalaman saya di program pelatihan Yayasan Putera Bahagia (YPB).

“Lho, kok enggak sama kayak di judul tulisan?”

Menurut saya, YPB itu memiliki dua arti, tergantung menggunakan “kaca mata” siapa. YPB dapat berarti Yayasan Putera Bahagia. Yayasan tempat anak-anak sedang berbahagia, apabila dilihat dari kaca mata anak-anak yang menjadi peserta program ini.

Arti kedua, YPB bisa juga berarti Yayasan Proses Belajar. Yayasan tempat orang-orang belajar, apabila dilihat dari kaca mata kakak-kakak yang menjadi panitia dalam program ini.

Nah, selanjutnya saya akan menggunakan kaca mata yang kedua dalam menceritakan pengalaman saya, karena saya menjadi kakak panitia bukan menjadi peserta *yeaah*

Awal saya mengikuti program YPB ini adalah ketika tahun 2010 mendaftarkan diri menjadi Pendamping Kelompok. Pertama kali mengikuti pelatihan dimana pesertanya adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera. Saya mengikuti YPB 2010 mulai dari assessment ke sekolah-sekolah, wawancara, sampai pelatihan berlangsung.

-dilewati saja ya tahun 2010, judul tulisan saya kan 2011 jadi saya langsung masuk ke 2011-

YPB 2011, saya diberi kepercayaan oleh tim inti dosen yang terdiri dari Mas Ferdi, Mbak Wulan, dan Mas Ratri, juga teman-teman tim inti, mahasiswa lainnya untuk menjadi rekan kerja mereka. Ketika ditawari pertama kali saya tidak langsung memberikan jawaban “Iya”. Saya ingin sekali menerima tawaran itu secara langsung tetapi kemudian “pikiran tentang SKRIPSI” datang!

“Gile, jadi tim inti kan bebannya lebih berat daripada menjadi Pendamping Kelompok, Cofas, SS, dan lainnya, apalagi prosesnya setahun, skripsi gue gimana?” begitulah kira-kira pertimbangan saya.

Akhirnya saya meminta waktu menjawab tawaran tersebut, karena saya akan bilang ke Ibu saya bahwa saya akan mengikuti program YPB 2011, yang berarti skripsi pasti akan telat lagi. Jawaban Ibu saya waktu itu hanya satu kalimat:

“Udah gede bisa terima konsekuensi sendiri, terserah!”, ucap Ibu saya tidak dengan nada marah sama sekali.

-singkat cerita saya terima tawaran itu-

Nah…meskipun skripsi telat, tapi keputusan itu berbuah manis juga.

Banyaaaaaaakkk banget pengalaman yang saya dapatkan ketika menjadi tim inti. Pengalaman mengelola kelompok kecil, baik kelompok sesama panitia maupun kelompok peserta YPB, naik-turun mood ketika menjalani proses pelatihan, dinamika kelompok tim inti yang terdiri dari dosen dan mahasiswa yang berbeda-beda karakteristiknya, makan TELOR DINO dan AYAM FOSIL (masakan khas di Wisma YPB Cimacan), berhubungan dengan kepala sekolah, guru, serta anak-anak yang serba unik, dan masih banyak hal lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.

Beberapa posisi yang pernah saya ambil dalam YPB ini antara lain: Fasilitator siswa SD, Supporting System, PIC pelatihan, Tim Inti, dan Pendamping Kelompok. Masing-masing posisi itu menawarkan keunikan masing-masing. Beberapa pengalaman yang menarik bagi saya ketika salah satu dosen Tim Inti (sebut saja Mas Ferdi, bukan nama sebenarnya) giginya hilang entah kemana. Pengalaman teman-teman SS yang berkesan ketika diminta menjadi ”Penjaga Kolam” dan mendapat sapaan ”muntahan” anak-anak peserta pelatihan ketika mereka turun dari bus.

Sesuai dengan namanya, YPB ini merupakan Yayasan Proses Belajar bagi kakak-kakak panitia (termasuk bagi saya sendiri). Proses belajar menyeluruh itu saya sadari sangat berguna ketika saya bekerja saat ini. Saya mengikuti beberapa kepanitiaan & organisasi seperti Psychomeet, Psychocinema, HIMAPSI 2009, Psychotrip, dan Pramabim-Mabim, tetapi di antara semua pengalaman itu tidak ada satupun yang selengkap YPB. “Lengkap” yang saya maksud di sini adalah proses belajar ketika saya tergabung di dalam suatu kegiatan. Jadi, buat teman-teman 2009-2012 yang ingin merasakan proses belajar menyeluruh dalam suatu kepanitiaan sekaligus melakukan kegiatan sosial, tidak ada salahnya kalian mengikuti program YPB ini.

Sebagai penutup tulisan ini, terima kasih kepada YPB, teman-teman tim inti 2011, dan tim besar YPB 2011. Juga kepada tim inti dan panitia besar YPB 2010, pada Kang Emot dan Ihsan (anaknya), anak-anak YPB yang telah membuat saya banyak belajar, dan terima kasih kepada makanan-makanan di YPB yang rasanya enak sekali, terutama Ayam Fosil dan Telor Dino.

Dirgahayu Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya!

*) Penulis adalah alumni Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2007