Oleh: ALMIRA RAHMA*

Bagi saya, FP Unika Atma Jaya adalah taman bermain yang sangat luas. Di taman bermain inilah saya bereksplorasi dan belajar untuk live my life. Kenapa saya menyebutnya sebagai taman bermain? Karena di sinilah saya benar-benar seperti seorang anak kecil yang terjatuh dari perosotan, menangis, tetapi kemudian bangun lagi untuk kembali bermain bersama teman-teman.

Hidup saya bisa dibilang lurus-lurus saja sebelum masuk FP Unika Atma Jaya. Kenakalan saya masih pada batas yang dapat ditoleransi, karena selama 14 tahun saya bersekolah di institusi pendidikan yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Sementara itu, dunia perkuliahan adalah tempat dimana mahasiswa diberi kebebasan lebih untuk mengontrol dirinya sendiri sebagai seorang yang dianggap cukup dewasa. Namun, karena pada dasarnya kenakalan saya adalah bawaan lahir, maka selama tiga setengah tahun ini di FP Unika Atma Jaya saya menghabiskan waktu untuk melawan diri saya sendiri. Kalau meminjam istilah Freud, nampaknya ego saya rusak karena harus selalu menengahi peperangan antara id dan superego.

Beruntung bagi saya, di FP Unika Atma Jaya saya berjumpa dengan banyak orang yang benar-benar mendukung saya untuk belajar mengontrol diri. Baik teman-teman mahasiswa, alumni, hingga dosen yang saya kenal. Salah satu pihak yang paling berperan besar dalam eksplorasi saya di FP Unika Atma Jaya adalah KMPA Pelangi, Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang kepecintaalaman. Banyak proses yang saya lewati selama di FP Unika Atma Jaya, namun KMPA Pelangi selalu menjadi tempat bagi saya untuk bernaung, bahkan menjadi rumah kedua bagi saya. Bagaimana saya begitu menyayangi ruangan senat FP Unika Atma Jaya pun karena saya menganggap ruangan itu sebagai saksi bisu kenakalan saya.

Awal mula saya menjadi mahasiswa baru FP Unika Atma Jaya, saya sedang terbayang-bayang indahnya Puncak Mahameru, karena baru saja membaca sebuah novel karya Donny Dirgantoro yang menceritakan perjuangan sekelompok sahabat mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Oleh karena itu, saya langsung melupakan keinginan saya untuk menjadi penyiar radio, kemudian mulai berpikir apakah saya akan ikut Wanachala (UKM pecinta alam tingkat universitas) atau KMPA Pelangi (UKM pecinta alam di Fakultas Psikologi).

Pilihan pun jatuh pada KMPA Pelangi, karena saya merasa akan lebih baik jika saya dekat dengan teman-teman dari satu fakultas. Terlebih lagi dalam hal jadwal kegiatan dan lain-lain, mungkin akan lebih sesuai dengan beban perkuliahan di program studi yang bersangkutan. Setelah terkagum-kagum pada presentasi salah seorang senior saya yang bergigi emas sewaktu Open House, saya memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke hotline KMPA Pelangi, yang ketika itu dipimpin Putri Natalia (2005).

Wah, ketuanya cewek! Dan saya kagum sekali karena di benak saya, sangat jarang seorang wanita terlibat, bahkan menjadi ketua organisasi pecinta alam. Ketika itu saya masih seperti orang awam lainnya yang memandang bahwa anak-anak pecinta alam adalah cowok gondrong, pemabuk, kuliahnya lama, dan cari mati. Tetapi, karena sejak SMA saya memang tertantang dengan hal-hal yang tidak biasa, maka tidak heran saya justru tertantang untuk mengubah image tersebut.

Terlibatlah saya menjadi calon anggota Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) angkatan VIII. Calon anggota yang awalnya berjumlah 17 orang, pada latihan fisik terakhir hanya tersisa tujuh orang. Kebanyakan dari mereka mundur dengan alasan dilarang oleh orang tua akibat pulang terlalu malam, karena memang kegiatan kami sebagai calon anggota sangatlah padat. Saya pun sebenarnya dilarang oleh ibu saya, bahkan sampai beberapa kali berdebat dengan ibu saya tentang keterlibatan saya di organisasi ini.

Puncaknya pada saat latihan fisik terakhir, saya yang sedang tertekan secara mental karena disuruh keluar dari pendidikan tersebut, akhirnya hampir menyerah karena dipaksa untuk memenuhi tuntutan fisik yang sudah mencapai batasnya. Walaupun setelah saya pikir-pikir, seharusnya saya bisa saja memenuhi tuntutan itu. Bagaimana tidak? Saya ini ketika SMA hanya bisa lari selama lima belas menit, itu pun napasnya sudah setengah-setengah, belum lagi saya hanya bisa push up 30 kali, itu pun tidak sempurna. Sit up pun saya tidak bisa lebih dari 30 kali. Tapi ketika pendidikan tersebut, saya pada akhirnya sanggup lari selama 70 menit dengan ritme yang ditentukan oleh instruktur latihan fisik, push up dengan sempurna, dan sit up hingga 64 kali. Tidak seharusnya saya menyerah bukan? Perasaan inferior lah yang membunuh saya karena ketika itu saya memang yang paling lemah di antara teman seangkatan lainnya.

Setelah diajak berbicara oleh senior saya, yang ketika itu adalah Ririn (2004) dan Bayu (2004), saya memutuskan untuk tetap mengikuti latihan fisik terakhir dan diklat lapangan. Dan lagi-lagi, ketika diklat lapangan, perasaan inferior karena merasa paling lemah di antara teman seangkatan saya ketika itu membuat saya merasa tidak layak dilantik sebagai anggota. Sembilan hari di Parakan Salak merupakan hari-hari tercengeng dalam hidup saya. Saya benar-benar mengenal diri saya ketika itu. Comfort zone saya benar-benar dihancurkan dalam sembilan hari. Saya yang biasa mandi setelah berkegiatan di luar rumah karena merasa jorok, harus belajar untuk tidak mandi walau berkegiatan di tanah yang becek akibat hujan. Saya yang biasa tidur berselimut di kamar ber-AC harus tidur di dalam bivak dalam kondisi hujan yang mengakibatkan celana saya basah. Dan masih banyak hal yang merusak ketahanan mental saya.

Setelah dilantik menjadi anggota, masih banyak hal yang kemudian entah membuat saya kecewa dengan organisasi yang saya geluti, atau justru (lagi-lagi) perasaan inferior bahwa saya tidak bisa melakukan apapun ketika saya masih anggota muda. Bahkan ketika menjadi anggota penuh pun saya masih merasa tidak berhak mengambil keputusan karena kiprah saya di dalam organisasi tidak sebaik ketika anggota muda. Saya terlalu banyak hilir mudik di organisasi lain di fakultas, dimana saya merasa di sana pun saya tidak maksimal.

Hingga pada satu titik saya menyadari bahwa perasaan inferior lah yang semakin lama membunuh saya. Bahwa yang seharusnya saya lakukan adalah lakukan apa yang bisa saya lakukan di hari ini sebaik-baiknya. Bahwa hidup itu memang selamanya belajar untuk menjadi lebih baik. Jadi, untuk apa merasa bahwa jika hari ini saya belum baik artinya selamanya tidak akan menjadi lebih baik daripada orang lain. Tidak baik membandingkan kemampuan diri sendiri dengan orang lain sampai segitunya. Kita ini diciptakan berbeda. Yang mereka bisa, belum tentu kita bisa, dan begitu pula sebaliknya.

Pada detik ini, saya masih berjuang melawan perasaan inferior itu. Namun saya sudah bisa menepis sedikit pikiran buruk tentang diri saya sendiri dan sudah mulai melakukan apa yang bisa saya lakukan hari ini. Setidaknya, dari empat tahun berkuliah ini saya sadar bahwa seburuk-buruknya hal yang terjadi dalam hidup saya, saya pernah melewati sembilan hari laknat dan masih sehat walafiat hingga menjadi anggota penuh KMPA Pelangi. Saya pernah melewati satu tahun merasa menjadi orang gagal karena ketidakmampuan saya mengomunikasikan ide, tapi saat ini saya masih diberi kepercayaan untuk memimpin teman-teman saya bergerak menuju situasi yang lebih baik. Saya pernah melewati masa-masa kehilangan orang yang saya cintai, tapi saya masih bisa menemukan orang-orang lain yang juga menyayangi saya.

Begitulah hidup bukan? Tidak pernah ada kehidupan yang selamanya menyenangkan. Justru semakin banyak sayatan dalam hidup, semakin kebal pula kita terhadap sayatan lainnya. Dan sekarang, walaupun masih ada hal-hal yang kadang membuat saya kesal, sedih, atau marah, saya hanya cukup mengingat lessons learned yang saya peroleh selama saya berproses dalam organisasi ini. Yang terpenting hanya lakukan apa yang bisa dilakukan, konsisten, dan jangan pernah mudah menyerah.

Mungkin banyak orang yang akan menertawakan saya jika saya bilang pernah terlibat dalam organisasi pecinta alam, bahkan menjadi ketua organisasi tersebut. Karena prestasi kegiatan alam saya tidak luar biasa seperti mahasiswa pecinta alam lainnya. Gunung yang saya daki baru Gunung Gede dan Papandayan, yang bagi salah satu kawan saya, itu namanya belum mendaki gunung. Saya baru memanjat tebing Klapa Nunggal dan Parang Ndog (itupun tidak sampai top). Olahraga Arus Deras apalagi, saya ibarat raftingdengan provider karena saya tidak benar-benar menggeluti bidang ini. Caving pun baru pernah caving di goa vertikal dengan kedalaman 25 meter. Tetapi, dari pelajaran yang saya peroleh selama berkegiatan di organisasi pecinta alam ini, saya bisa bilang bahwa saya sudah hampir bisa mengalahkan diri saya sendiri.

Pengalaman saya di KMPA Pelangi mungkin hanya satu dari beribu pengalaman yang saya alami selama tiga setengah tahun ini di FP Unika Atma Jaya.  Tetapi, jika pengalaman ini tidak ada, mungkin saya tidak akan pernah benar-benar ‘hidup’. Lewat KMPA Pelangi saya belajar untuk bertanggungjawab terhadap setiap konsekuensi dari pilihan yang saya ambil, dan sadar bahwa saya memiliki banyak peran yang masing-masingnya memiliki tanggungjawab yang besar.

Selamat ulang tahun FP Unika Atma Jaya, terima kasih telah mengenalkan saya pada KMPA Pelangi.

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2008