oleh: RATRI ATMOKO*

Prolog: Jumpa pertama

Suasana begitu macet, kala senja menyapa Semanggi. Kala itu, medio Februari 2005, diriku berjibaku di antara himpitan penumpang bis ekonomi jurusan Senen-Tangerang. Kala awal kutitipkan nasibku di keriuhan Jakarta.

Sejenak bis sarat penumpang ini berhenti persis di dekat jembatan Semanggi. Nampak kejauhan, dari sela-sela ketiak para penumpang, kudapati sosok Unika Atma Jaya,  berdiri anggun dan hening di keriuhan Semanggi. Itulah perjumpaan pertamaku dengan Atma Jaya. Tak sekelebat pun impian melintas di benakku, bahwa di situlah aku akan mengabdi pada sesama hingga kini. Roda bis mulai berdecit. Perlahan namun pasti, kendaraan itu pun bergerak meninggalkan Semanggi. Samar-samar, Atma Jaya tak nampak di pandanganku.

Setahun berlalu, tak kunyana dan tak kuduga, langkah kecilku sampai juga memasuki gerbang Atma Jaya. Yang dulu hanya bisa nampak dari kejauhan, kini persis di pelupuk mataku. Perlahan kutelusuri lorong, sekedar untuk mendapati Fakultas Psikologi. Sore ini, wawancara pertamaku untuk menjadi staf pengajar di Atma Jaya. Dengan baju pabrik yang masih membalut tubuhku, kumasuki ruangan Dekan. Telah menunggu Ibu Johana Rosalina, Ibu B.P Dwi Riyanti, Ibu Hana Panggabean, dan Ibu Angelina Bonang.

Wadhuh..!” Pikirku.

“Apa pertanyaan yang akan ditodongkan pada diriku? Adakah tentang seputaran teori psikologi? Ataukah tentang hidup studi saat kuliah dulu? Bukankah tiada mampu kucapai IPK 3,00? Dan bukankah tiada satu pun yang bisa kubanggakan dari hidup studiku kala kuliah dulu? Soal pengalaman kerja, bukankah baru sekuku hitam yang kucicipi?” Pikirku mengembara.

“Ah, sudahlah. Toh, ini iseng-iseng berhadiah. Paling tidak, sudah ada kemajuan dari yang sebelumnya.” Sesaat aku berusaha menghibur diri.

Masih kuingat beberapa tahun sebelumnya, saat kuajukan lamaran untuk menjadi dosen ke sebuah universitas swasta di Jogja. Saat itu, belum usai aku mengutarakan maksudku, bahkan amplop lamaranku pun belum dibuka, namun pernyataan bahwa tidak ada lowongan sebagai staf pengajar untuk lulusan sarjana langsung dihujamkan ke telingaku.

“Namun, lihatlah! Paling tidak sore ini, FP UAJ sudah membuka amplop lamaranku dan aku diundang wawancara!” Seru hatiku bangga.

Semula Hanyalah Hasrat

Memang, begitu berhasrat aku untuk dapat menjadi pendidik. Sama seperti ayahku yang juga seorang pendidik. Terharu aku mengenang perjuangan ayahku yang harus menyusuri puluhan kilometer jalan berbatu untuk menjumpai dan mendidik siswanya di daerah Bayat, Klaten. Tak jarang, ayah terjatuh di jalan dan pulang dengan tubuh berlumuran luka. Namun, toh esoknya ia tetap bersikukuh untuk menjumpai siswa didiknya. Goresan luka di tubuh bukanlah hal yang mampu mengekang hasratnya untuk berbagi ilmu pada para siswanya.

Saat kuliah sarjana, kutuangkan hasratku sebagai pendidik dengan mengajarkan kebisaan yang sedikit kumiliki ke adik-adik kelasku.  Kususun kurikulum latihan dan kudampingi mereka, hingga mereka menjadi atlit arung jeram dan pemanjat tebing yang handal. Bahkan mereka dengan gagah berani ikut berkancah di kejuaran nasional dan bertualang hingga ke tanah Andalas. Tak hanya itu, tebing granit yang menjulang angkuh dan menantang langit di tanah Trenggalek pun mampu mereka kalahkan. Ah! Ada kepuasan batin saat mendapati mereka begitu bangga karena mampu melakukan itu semua. Bahagia rasanya, saat tangan kecilku ini turut menata kesuksesan mereka.

Hasrat itulah yang ingin kuwujudkan kembali dan kepuasan batin itulah yang ingin kunikmati lagi, lagi, dan lagi. Dan menjadi pendidik adalah wahanaku untuk mewujudkannya. Dan di FP UAJ-lah, ku dianugerahkan “mimbar bebasku” untuk menanam, mengolah, dan menuai bulir-bulir kepuasan batin mendampingi anak bangsa dalam mengupayakan masa depan hidup mereka yang lebih sejahtera.

Bersama dan Tak Sendiri

Enam tahun sudah kukayuh pengabdianku di FP UAJ. Dan layaknya sungai, bukanlah arus yang penuh ketenangan yang kujumpai, namun justru riam-riam penuh gejolak. Mengemban tanggung jawab yang sesekali menjadikan kewalahan ragaku kala memikulnya. Bahkan tak jarang pula, tekad pun meredup dan diri berada di kebimbangan. Benarkah di sini tempatku (seharusnya) berada?

Namun di Fakultas Psikologi, banyak kawanan di sekelilingku yang tiada sembunyi, saat aku menanggung beban diri. Tangan-tangan mereka pun tiada henti turut memapahku. Celoteh riang dan senyum merona tiada lupa mereka hadirkan laksana genderang penyemangatku. Telinga mereka tak sekali pun terkatup, namun justru sudi membuka dan menadahi tiap ku berkeluh kesah. Dan merekalah saudari-saudaraku para mahasiswa terkasih. Dan merekalah saudari-saudaraku rekan sesama pendidik. Dan merekalah saudari-saudaraku para staf kependidikan. Dan di sinilah aku, tiada sendiri.

Epilog: Untaian Syair untuk Fakultas Psikologi

Tak perlu engkau gentar, saat gelap dan ketidakpastian membentang di depanmu.

Bukankah engkau terlahir sebagai cahaya.

Binarmulah yang akan menyingkap dan menyingkirkan mereka.

Tak perlu engkau begitu berduka, saat parasmu nan elok tiada lagi memikat.

Bukankah engkau terlahir sebagai rembulan.

Kan tiba saatnya nanti, mereka kan berebut pandang dan merayumu.

Tak perlu hatimu merasa kecewa, saat dirimu ditinggalkan oleh anak-anakmu.

Bukankah engkau terlahir sebagai air.

Biarkan mereka berkelana jauh.

Kan tiba saatnya, saat dahaga menimpanya, mereka kan kembali kepadamu.

Tak perlu engkau merasa kerdil, saat banyak lawanmu mulai mengepak dan mengangkasa.

Bukankah engkau terlahir sebagai angin.

Setinggi-tingginya mereka terbang, namun engkaulah jualah penguasa angkasa.

Tak perlu nyalimu menjadi ciut, saat swara mereka begitu angkuh sesumbar.

Bukankah engkau terlahir sebagai sangkakala.

Gemuruhmu kan menenggelamkan keriuhan mereka.

Tak perlu ragamu jatuh melunglai, saat beban begitu sarat di pundakmu.

Bukankah engkau terlahir sebagai batu karang.

Butuh beribu-ribu tahun bagi ombak untuk meremukkan keteguhanmu.

Selamat ulang tahun ke-20 teruntuk Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya.

Tetap semangat & never give up!

*) Penulis adalah staf pengajar FP UAJ sejak 2006, kini menjabat Kepala Jurusan Magister Psikologi Profesi Peminatan PIO UAJ