oleh: ALEXANDER MATIUS*

“Life moves pretty fast. If you don’t stop and look around once in a while, you could miss it”

Ferris Bueller dalam Ferris Bueller’s Day Off (1986)

Jika berbicara mengenai sebuah fakultas yang akan terus menempel pada profil diri saya, maka lengkaplah sudah semua emosi yang timbul. Butuh merangkum sedemikian rupa untuk bisa merangkai keseluruhan perjalanan. Seperti sebuah episode dalam film, sebuah bab dalam buku. Beberapa pelajaran pasti akan Anda dapatkan. Suka atau tidak suka pasti akan menetap dan menjadi kriteria penilaian Anda terhadap hal-hal yang Anda lihat dan yang anda rasakan.

Semuanya kembali kepada kesempatan. Bagaimana Anda diberi kesempatan dan bagaimana Anda memberi kesempatan. Bagaimana saya diberi kesempatan sejak awal untuk bertemu teman-teman terbaik. Bagaimana saya diberi kesempatan untuk mengikuti dan bekerja di berbagai kepanitiaan dan mata kuliah. Bagaimana saya diajari oleh semua orang bekerja dengan baik. Bagaimana saya diberi kesempatan untuk pengalaman saya kelak. Lantas haruskah Anda berhenti? Tidak. Bagaimanapun hidup harus seimbang. Anda juga harus memberi kesempatan kepada orang lain. Bagaimanapun modal utama dalam suatu kepanitiaan adalah kepercayaan. Sekali Anda sudah tidak percaya dan pada akhirnya tidak memberi kesempatan, rusak sudah. Terakhir, bagaimana Anda memanusiakan seorang manusia adalah hal yang terpenting juga yang saya pelajari di sini, juga pelajaran tentang bagaimana idealisme kita harus mendekati realita yang ada.

Saya tidak akan melupakan momen demi momen yang saya alami di tempat ini. Mendapat seksi pertama yang berisi mereka yang memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, makan di Bedeng dan seberang pintu gedung Yustinus, datang ke kampus pagi hari untuk berjualan mencari dana untuk kepanitiaan, latihan fisik Pramabim-Mabim, mencari dana dengan mengamen bersama-sama, ikut kepanitiaan bersama, menjadi asisten dosen, ikut percakapan di mana pun. Semua juga sudah dirasakan. Senang. Susah. Kembali lagi ke awal, bagaimana saya diterima dan dipercaya oleh kakak-kakak angkatan, adik-adik angkatan, serta dosen.

Terlalu sulit untuk menggambarkan, menggunakan kata puitis, memuji, ataupun menyalahkan. Semangat adalah kata yang populer, namun sama seperti manusia-manusia berpita ungu yang lain dan yang pernah merasakan rasanya menghabiskan waktu di bilangan Semanggi ini, bahwa saya berhutang budi dengan kampus saya dan tidak pernah ada kata bahwa saya sendirian.

*) Penulis adalah mahasiswa  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2007