oleh: CLARA AJI SUKSMO*

Saya sudah bekerja di lingkungan Unika Atma Jaya sejak 6 Juni 1983 (tahun depan berarti sudah tiga dasawarsa… Lho, kok masih betah ya..) sebagai staf peneliti purnawaktu di Pusat Penelitian Atma Jaya (PPA), yang sekarang bernama Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM). Tugas utama saya adalah peneliti di bagian penelitian pendidikan dan tidak memiliki kewajiban mengajar (ini memang peraturannya waktu itu, kalau mengajar malah “raport”nya merah, beda dengan situasi beberapa tahun terakhir bahwa kegiatan mengajar hukumnya wajib).

Kira-kira pada tahun 1984, Unika Atma Jaya berencana mendirikan Fakultas Psikologi dengan mendapat dukungan teknis dari Universitas Tilburg di Belanda. Mengapa dengan Universitas Tilburg? Karena (Alm.) Bapak Frans Seda, salah satu pendiri Atma Jaya, dan Bapak Peter Merkx, mantan pimpinan PKPM, adalah alumni Universitas Tilburg. Kebetulan pada saat itu staf akademik tetap di lingkungan Unika Atma Jaya hanya ada tiga orang. Dua orang adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yaitu saya dan Prof. Irwanto (pada waktu itu belum Guru Besar tentunya). Yang terakhir adalah Harry van de Wouw (sekarang dosen di Universitas Twente di Belanda), yang juga lulusan dari Fakultas Psikologi Universitas Tilburg. Kami bertiga, sebagai orang yang berlatar belakang psikologi mempunyai tugas untuk ikut membantu mengembangkan kurikulum (wah… Saya harus jujur, pada saat itu kami masih sangat kurang berpengalaman, jadi sebenarnya tugas kami adalah mengumpulkan kurikulum dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri, dan membandingkan silabus masing-masing mata kuliah yang tersedia).

Kami juga diajak untuk memikirkan warna khas dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FP UAJ). Saya terutama seringkali diminta menemani kedua professor dari Universitas Tilburg Negeri Belanda, yaitu Prof. van Doren dan Prof. L.F.W.de Klerk (yang akhirnya menjadi promotor saya) untuk bertemu dengan beberapa tokoh psikologi di Indonesia (saya merasa bahwa pada waktu itu saya benar-benar anak bawang, yang tidak tahu harus bicara apa tentang sebuah fakultas psikologi di sebuah perguruan tinggi katolik di Jakarta). Saya ditugaskan untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan dan menemani makan (enak ya). Pada waktu itu, Prof. A.M. Kadarman SJ (Alm.), ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) juga sering diikutsertakan dalam diskusi pendirian FP UAJ.

Singkat cerita, pada saat itu Fakultas Psikologi direncanakan lahir dengan fokus Psikologi Industri di daerah perkotaan namun hal itu tidak terjadi. Kenapa? Saya tidak tahu alasannya, dan gak usah dicari alasannya deh.. capek).

Pada bulan Juni 2012 ini ternyata usia FP UAJ sudah berusia 20 tahun. Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah pertemuan informal dengan beberapa rekan saya yang sudah menduduki posisi kunci di perusahaan, salah seorang rekan saya mengatakan: “Wah Clara, kamu pasti bangga sebagai dosen ya, alumni FP UAJ hebat-hebat kalau bekerja! Mereka rajin, cepat, komitmennya tinggi, dan jujur. Memang sih masih ada kekurangannya, seringkali mereka tidak cukup menguasai konsep-konsep dasar psikologis dari apa yang mereka kerjakan.”

Hati saya berbunga-bunga meskipun ada sedikit kecewa dengan pujian yang diberikan, tapi ini semua merupakan masukan untuk kita bebenah. Satu hal yang sangat positif, alumni FP UAJ adalah orang-orang yang punya “hati” dalam bekerja, dan “hati” adalah kunci dari semuanya. Komentar lain yang pernah saya terima dari rekan saya dari perguruan tinggi lain adalah, “Dosen-dosen FP UAJ muda-muda ya…” (muda dan cantik kali). Saya merespon pernyataan tersebut dengan mengatakan “ .. di lingkungan Atma Jaya yang paling banyak doktornya tuh Fakultas Psikologi lho..(dengan wajah penuh bangga tentunya).  Kalau kita mengaitkan dua komentar orang luar terhadap para lulusan FP UAJ, apakah bisa berarti  karena para dosennya muda dan banyak yang bergelar doktor, maka kualitas para lulusannya bagus? Pasti itu salah satunya.

Meski tahun ini Fakultas Psikologi sudah berusia 20 tahun dan saya sudah bekerja di Atma Jaya selama 29 tahun, tidak berarti bahwa saya mengajar di Fakultas Psikologi sejak fakultas tersebut berdiri.  Yah.. Hal tersebut terjadi karena saya harus melanjutkan studi dan juga karena tugas utama saya sebagai peneliti (yang lebih banyak di lapangan), maka jumlah waktu mengajar saya mungkin baru 10 tahun dan  baru pada tahun ajaran 2010, Wakil Dekan I pada waktu itu (Mbak Atink) memercayai saya sebagai Pembimbing Akademis (sebuah pengakuan, waktu itu sungguh saya tidak PEDE dan merasa “Gak Gue Banget!” ). Hal yang membuat saya merasa senang ketika mengajar adalah membagi pengalaman saya di lapangan (bergaul dengan anak jalanan, pekerja seks, waria, anak-anak di pedalaman Papua, dsb. ). Menurut saya pengalaman tersebut ikut mewarnai dan memperkaya wawasan mahasiswa saya, misalnya ketika saya menugaskan mahasiswa untuk live in di Cisauk (dekat kampus Atma Jaya Serpong) untuk melakukan analisis kebutuhan dan menyusun program pendidikan yang berbasis pada masyarakat. Saya merasa mahasiswa tidak hanya belajar mengaplikasikan teori-teori psikologi saja, tetapi juga belajar menjadi manusia yang bertanggungjawab terhadap perubahan di masyarakat.

Meneliti, mengajar, dan membimbing mahasiswa harus saya emban dengan baik (mudah-mudahan). Apakah kecewa dan frustrasi juga menghampiri saya? Jawabnya jelas YA, karena saya manusia biasa. Tapi bagaimanapun saya bersyukur ada orang-orang di sekitar saya, termasuk rekan kerja, yang selalu meneguhkan dan memperkuat komitmen saya untuk mengabdi pada Unika Atma Jaya.

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-20 FAKULTAS PSIKOLOGI!

*) Penulis adalah staf pengajar FP UAJ sejak 2001, menjadi peneliti di PPA/PKPM sejak 1983, kini menjabat Direktur Pusat Kajian Pengembangan Masyarakat UAJ