oleh: YAHYA SATRIO*

“Take a chance! All life is a chance. The man who goes farthest is generally the one who is willing to do and dare”
Dale Carnegie

Jika ada kata yang bisa menggambarkan kehidupan saya selama di Psikologi, kata yang tepat adalah erratic, dan sampai titik (masukkan kata benda) penghabisan. Mungkin di antara teman-teman pembaca ada yang terheran-heran, kenapa kata tersebut bisa dikatakan ‘menggambarkan’ saya dan kehidupan saya di Psikologi. Agar teman-teman pembaca bisa  mengerti mengapa kedua kata tersebut saya masukkan ke dalam tulisan ini dan apa hubungannya dengan judul tulisan ini, berikut akan saya berikan sebuah kisah pengalaman saya di Psikologi.

*ehem* Jadi, cerita ini bermula pada tahun 2010, tepatnya minggu kedua di bulan Januari. Pada saat itu, saya dan mayoritas teman-teman seangkatan saya sedang ‘gegap gempita’ mengurusi sebuah acara ATM (Acara Tutup Mabim) yang sudah ‘terlambat’ sekitar 1 bulan. Pada acara tersebut, saya ditugaskan menjadi staf Divisi Dekorasi, merangkap sebagai pembawa acara. Untuk Divisi Dekorasi, tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Pada awalnya, saya sendiri terkaget-kaget ketika salah seorang teman (yang sudah tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya di FPUnika Atma Jaya meski masih berstatus mahasiswa aktif (silahkan menebak) menyarankan saya menjadi pembawa acara. Dari kekagetan tersebut, saya bertanya kepadanya:

“Lah X (nama disamarkan), kok lo nyalonin gue jadi pembawa acara sih?”

“Abisnya lo kocak sih, dan kayaknya bakal lucu deh kalo lo jadi pembawa acara di ATM nanti!”

“…” (penulis lupa apa yang dikatakan pada waktu itu)

Yap. Teman saya mencalonkan saya jadi pembawa acara dengan alasan karena saya dianggap kocak, dan sepertinya akan lucu kalau saya jadi pembawa acara di ATM nanti. Meskipun saya masih ragu dan merasa tidak percaya diri, namun tawaran tersebut saya terima, dengan alasan:

*dalam hati*Yah, coba deh lagian juga udah dikasih kesempatan, masak tidak diambil?

Setelah latihan beberapa kali dengan pihak panitia dan dengan rekan sesama pembawa acara, maka tibalah saatnya bagi saya untuk ‘membawakan’ Acara Tutup Mabim tersebut. Pada saat acara tersebut dimulai, sebuah kejadian yang aneh terjadi.

SAYA. TIDAK. BISA. BERPIKIR DENGAN JERNIH. Saya hanya mengeluarkan kata dan kalimat pertama yang ada di pikiran saya. Tanpa melalui proses penyaringan bahasa, codingencoding atau istilah apapun yang cocok digunakan untuk konteks tersebut. Pada awalnya saya berpikir inilah akhir dari dunia, dan saya sempat berharap sebuah angin puyuh datang dan menyapu ruangan tersebut berserta semua orang yang ada di dalamnya. Namun anehnya mereka tertawa, atau paling tidak beberapa orang yang saya lihat tertawa. Kejadian ini membuat saya heran, apakah yang mereka tertawakan? Apakah memang perkataan saya, atau kepala besar saya yang membuat mereka tertawa? Dan apakah mereka tertawa karena geli, atau menghina? Pertanyaan tersebut masih belum dapat saya temukan jawabannya hingga sekarang.

Beberapa minggu setelah acara tersebut, dan pada saat saya masih bertanya-tanya tentang kredibilitas saya dalam membawakan sebuah acara, seorang teman menawarkan saya menjadi seorang Wakil Angkatan (WA) di sebuah organisasi yang bernama KOMPSI. Setelah mendapat penjelasan mengenai peran dan posisi seorang WA, saya sempat bertanya kepada diri saya sendiri.

*dalam hati*“Kenapa gw yang ditawarin ya? Emang ada apa dengan gw? Padahal gw ga segitunya kok

Pada awalnya, saya ingin menolak tawaran tersebut. Selain karena masalah kredibilitas, saya juga menganggap posisi tersebut dan tugas serta tanggung jawab yang mengikutinya akan sangat merepotkan. Namun, sekali lagi tawaran tersebut akhirnya saya terima dengan alasan yang sama, yaitu: “Mumpung dikasih kesempatan, kenapa tidak?

Ya. Akhirnya saya menerima tawaran tersebut, meski dengan kebimbangan yang sangat besar. Kebimbangan tersebut semakin besar setelah saya mengetahui bahwa cara pemilihan WA tersebut adalah dengan voting. Meskipun pada akhirnya saya mendapatkan posisi saya sebagai WA, hal tersebut mengundang pertanyaan ‘mengapa mereka mau saya mendapatkan posisi ini?’. Setelah saya bertanya kepada beberapa orang teman, jawaban yang saya dapat adalah:

“Abisnya lo kocak sih” atau

“Abisnya lucu aja kalo lo jadi WA” dan

“Gw percaya kok sama lo *sambil tertawa genit nan manja*”

‘HAH?’ adalah reaksi saya yang pertama ketika mendengar jawaban-jawaban tersebut. Saya heran, kenapa mereka mau diwakilkan oleh orang seperti saya, yang bahkan saat presentasi di depan kelas tidak dapat mengeluarkan kalimat yang jelas, dan deadliner ini? Tidakkah mereka tahu bahwa tugas dan beban seorang WA tidak bisa diberikan ke sembarang orang, terlebih lagi hanya karena mereka menganggap saya lucu? Duniaaa, ada apa dengan dirimu?

Jujur, saya hanya khawatir nanti saya tidak dapat menjalankan fungsi saya sebagai seorang WA dengan baik. Pada kenyataannya, sepertinya saya tidak menjalankan peran saya sebagai WA dengan baik (self-fulfilling propechy terbukti valid dan reliabel). Tugas organisasi selesai di detik-detik terakhir, hingga harus ‘diburu’ oleh Koordinator Bidang (Koorbid) dan Sekretari Jenderal (Sekjen), bahkan saat saya menjabat sebagai Koorbid (yap, maju lagi sebagai WA karena alasan kan-sudah-diberi-kesempatan) kejadian tersebut terus terulang. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah perasaan bersalah dan tidak puas dengan apa yang sudah terjadi, dan saya hanya bisa berpikir:

Layakkah keputusan dan tindakan yang telah saya buat dan lakukan? Layakkah kesempatan itu diberikan kepada saya? Layakkah saya mendapatkan pengalaman seperti ini?

Namun, di balik kekalutan dan kebingungan tersebut saya sadar akan sebuah hal. Meski pengalaman dan pelajaran tersebut didapatkan dengan cara yang ‘kurang menyenangkan’, namun dari titik itulah saya mendapatkan ‘pencerahan’ untuk mencoba berbuat yang benar, berusaha menjadi kompeten, dan berjuang memenuhi ekspektansi dari orang lain dan diri saya sendiri.

Akhir kata, janganlah kalian takut untuk mencoba sebuah hal yang baru. Ingat bahwa kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali. Meskipun pengalaman yang didapat tidak menyenangkan, jadikanlah hal tersebut sebagai bahan pembelajaran. Cobalah untuk keluar dari ‘zona nyaman’ kalian, dan berubahlah meski kabut ketidakpastian menghalangi dan mengaburkan pandangan kalian, karena pada akhirnya semua perubahan pasti memiliki sisi positif dan hikmah yang bisa diambil, dan waspadalah, self-fulfilling propechy adalah nyata dan sangat mungkin terjadi.

Selamat Ulang Tahun, Fakultas Psikologi!

*background music: Mars Psikologi*

*) Penulis adalah mahasiswa aktif  Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya angkatan 2009