oleh: IMMANUELA ASA RAHADINI*

Saya mengiyakan permintaan mama untuk menuliskan ‘sesuatu’ dalam rangka Ulang Tahun FP UAJ ke-20. Sebuah tempat yang istimewa di hati mama saya. Juga istimewa bagi masa kecil saya.  “Tapi isinya terserah kamu ya, Sa,” katanya meyakinkan. Baiklah kalau begitu. Saya ingin menuliskan kenangan-kenangan masa kecil bersama mama, waktu beliau masih menjadi mahasiswa dan dosen honorer di FP UAJ.  Saya ikut ‘tumbuh’ di kampus ini, bersama teman-teman dan dosen-dosen mama. Saya tumbuh bersama dunia psikologi.

Sekitar 6 tahun (4 tahun kuliah dan 2 tahun mama mengajar) masa kecil saya habiskan bersama mama dan dunia kampus. Saya menghabiskan hari-hari saya di Day Care menunggu mama kuliah, atau saya habiskan di SD menunggu mama selesai mengajar. Di kala anak-anak TK atau SD membaca majalah Bobo dan Girls, saya sudah ikut membaca buku Human Development-nya mama.  Saat anak-anak seumuran saya membicarakan mengenai Band Peterpan dan Radja atau Dirly dan Ihsan Indonesian Idol yang sedang happening masa itu, saya membicarakan tentang siapa itu Sigmund Freud, Viktor Frankl, Carl Jung cs. bersama mama.

Selama tahun-tahun itu pula, saya melihat perjuangan mama mencintai ilmu yang ingin ia pelajari  bersama-sama dengan mencintai keluarga yang ia bina. Dalam waktu yang bersamaan, saya melihat mama  ‘berkompetisi’ dengan teman-teman seangkatannya (yang lebih muda 1 windu) untuk meraih prestasi terbaik dan juga ‘berkejaran’ dengan waktu yang terlewat untuk sebisa mungkin tetap menjadi orang tua dan mengasuh saya dan adik saya, seoptimal mungkin.

Saya masih mengingat sepotong rutinitas mama dan saya waktu ia masih berkuliah. Melewati aula besar yang ada patung  ‘raksasa’ Tuhan Yesus , menaiki lift yang kecil dan berdempet-dempet dengan para mahasiswa lain, bertemu dosen-dosennya mama, bertemu teman-temannya.  Saya juga masih ingat jelas betapa saya terobsesi dengan patung Tuhan Yesus yang berukuran gigantis itu. Untuk ukuran tubuh saya yang kurus (waktu kecil dulu), patung itu terlihat besar dan megah, sekaligus kontras dengan pemandangan mahasiswa lain yang kelekaran di sekitarnya. Saya juga masih ingat makanan favorit saya dari kantin kampus, yaitu sup jagung. Karena waktu kecil saya alergi dengan goreng-gorengan yang berlebihan, maka mama membelikan sup jagung itu. Sekarang saya merindukan sup jagung itu, sayangnya mama tidak (baca: belum) ke kampus lagi. Hehe.. J

Karena dulu mama tidak menyewa ‘mbak’ untuk mengasuh saya, jadilah saya selalu menjadi paket yang tak terpisahkan dengan mama. Kalau mama kuliah pagi, maka saya ikutan berangkat dari subuh bersama papa yang juga berangkat ke kantor, lalu di-drop di Day Care.  Siang harinya, entah saya dijemput Mama lalu ke kampus lagi, atau dijemput  mama di Day Care dan langsung pulang menggunakan Metromini 72 atau Koantas Bima 102, atau kadang Patas 54. Karena saya masih kecil, saya merasakan bahwa itu perjalanan sehari-hari yang seru. Namun, setelah segede ini sekarang, saya mencoba melihat rutinitas harian ini dari sudut pandang mama. Pasti sangat melelahkan. Belum lagi kalau nanti di rumah saya males-malesan belajar, dan masih ada rutinitas harian mama sebagai ibu rumah tangga yang lain. Saya tersentuh dengan semangatnya.

Mama adalah mahasiswa yang giat belajar. Mungkin karena usianya termasuk ‘sudah tua’ di antara mahasiswa angkatan 2000 lainnya (mama mulai kuliah di FP UAJ saat berumur 25 tahun) sehingga ia memiliki tingkat kematangan mental yang lebih baik, atau juga mungkin karena mama sangat mencintai psikologi sehingga ia mempelajarinya dengan sepenuh hati.  Itu adalah gambaran yang terpotret dengan jelas tentang mama sebagai seorang mahasiswa FP UAJ.

Saya ingat, setelah menjalani rutinitas melelahkan itu, mama masih meluangkan diri untuk belajar atau sekadar membaca bahan kuliah untuk esok pagi. Jadi pukul 19.00 saya tidur, sementara mama mulai belajar. Banyak sekali kertas fotokopi dan buku-buku tebal yang ia baca, digaris-garisi dan diucapkan berulang-ulang, seperti sedang merapal mantera.  Bahkan, kadangkala saya ikut-ikutan membaca jurnal-jurnal milik mama dan sering mendapatkan Kultum gratis (Kuliah Tujuh Menit; kenyataanya bisa sampai 30 menit) mengenai teori-teori yang ia pelajari. Selama  tahun-tahun  itu berjalan,  saya secara tidak langsung ikutan belajar psikologi deh.

Saat sedang mengerjakan skripsi, mama sedang hamil adik saya. Puji Tuhan, skripsi itu selesai tanpa kendala-kendala yang berarti. Mama juga bisa lulus dengan nilai yang sangat baik. Cincin cumlaude nya malah dipakai sekarang, walau modelnya (bagi saya) agak…. “..” Saya, sebagai paket yang tidak terpisahkan selama ia berkuliah, ikutan merasa bangga.. Hehe..

Beberapa waktu setelahnya, mama sempat menjadi dosen honorer di FP UAJ. Saya masih ingat cerita-cerita mama mengenai mahasiswa-mahasiswanya yang pintar, rajin dan tekun, sampai yang tidak berniat kuliah dan malas-malasan membaca jurnal. Saya juga ingat tentang mama yang sering membuat kuis dadakan di kelas, supaya semua mahasiswanya membaca buku paket dan jurnal-jurnal yang diperlukan dalam proses belajar.  Saya juga masih ingat dilema mama sebagai pendidik yang menghadapi sekian banyak mahasiswa yang malas membaca, padahal moto hidup mama yang diwariskan ke saya juga, adalah “kalau tidak mau dan tidak suka membaca,  tidak perlu bersusah payah  ke sekolah/kampus.”

Mengenai keputusan mama, yang akhirnya mundur  sebagai dosen honorer, dan tidak (atau belum) melanjutkan kuliah (walaupun sebenarnya ia sangat ingin kuliah lagi), dan mengabdikan diri untuk keluarga dan masyarakatnya, akhirnya saya pahami sebagai manifestasi ilmu psikologi yang ia hayati dan cintai, dan juga praktik lapangan untuk mempelajari hal-hal baru yang mungkin tak ia dapatkan di bangku perkuliahan.

Seperti kata pepatah kuno, “In doing, we learn”, memang mungkin akhirnya mama memilih perpisahan (yang kata beliau ‘semoga hanya bersifat sementara’ J) dengan bangku kuliah. Dan perpisahan ini juga yang membuat saya meninggalkan rumah masa kecil saya ini. Kendati demikian, saya bersyukur karena saya bisa menghabiskan masa kecil di antara akademisi dan berkubang di dunia pendidikan. Saya rasa, waktu yang telah saya habiskan di lingkungan ini telah ikut membentuk saya menjadi siapa saya sekarang.

Saya ingin mengucapkan selamat bertambah usia ke 20 tahun pada FP UAJ. Semoga dengan usia yang semakin tua FP UAJ tidak melapuk, melainkan bertambah tajam dan berkualitas seperti halnya wine yang bertambah kualitasnya dan semakin dicari orang saat bertambah tua.  Atau seperti kayu jati, semakin tua umurnya, semakin kuat dan semakin ‘mahal’ . Semoga FP UAJ terus  menjadi rumah ilmu yang bisa menaungi para mahasiswa yang ingin mendalami psikologi dan menjadi ladang yang subur dan bebas hama untuk menumbuhkan bibit-bibit generasi penerus bangsa yang berkualitas.

*) Penulis adalah putri dari Agustina Niken Setiorastri (Alumni FP UAJ angkatan 2000), kini berusia 13 tahun dan duduk di kelas 8 SMP Santa Ursula